-->

APA MOTIVASI MU'AWIYAH MEMERANGI ALI ?

 

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Ulama ahlussunnah wal jama'ah sepakat bahwa dalam masalah perselisihan antara Sayidina Ali dengan Mu'awiyah, yang berada di posisi benar adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu. Disebutkan dalam sebuah hadits :

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

“Kelak akan muncul satu kelompok yang menyempal ketika terjadi pertikaian di antara kaum muslimin. Kelompok itu akan diperangi oleh yang lebih mendekati kebenaran dari dua pihak yang bertikai itu.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini berkata : "Riwayat ini secara tegas menjelaskan, bahwa Ali berada di pihak yang benar. Sementara kelompok lain, yakni para pengikut Mu’awiyah tergolong kelompok yang menyempal, karena takwil keliru.

Hadits menjelaskan, kedua kelompok tersebut tergolong mukmin, tidak keluar dari lingkaran keimanan karena perang tersebut, dan tidak pula disebut fasik. Itulah pendapat kami.” [1]

Namun demikian para ulama juga bersepakat, bahwa Mu'awiyah tidaklah memerangi Ali untuk merebut khilafah atau mengingkari keimaman sayidina Ali. Mu'awiyah hanya menuntut agar para pembunuh Utsman dan yang berkomplot dalam pembunuhan itu segera dihukum had.

Sehingga masalah sebenarnya adalah perbedaan ijtihad. Mu'awiyah merasa benar dengan pendapatnya itu namun dipandang oleh para ulama sebagai bentuk ijtihad yang keliru. [2]

Banyak sekali riwayat yang menerangkan hal ini, yang termuat hampir di semua tulisan para ulama yang membahas permasalahan konflik antara Amirul mukminin Ali dan Mu'awiyah radhiyallahu'anhumaa.

Diantaranya adalah riwayat-riwayat berikut ini :

Abu Muslim al Khaulani menceritakan bahwa suatu hari ia bertemu dengan Mu'awiyah dan bertanya : "Anda menentang Ali atau sebenarnya masih sejalan dengannya ?"

Mu'awiyah pun menjawab :

لا والله إني لأعلم إنه أفضل مني وأحق بالأمر مني، ولكن ألستم تعلمون أن عثمان قتل مظلوما. وأنا ابن عمه والطالب بدمه فأتوه فقولوا له فليدفع الي قتل عثمان واسلم له.

"Tidak demi Allah, sungguh aku benar-benar mengakui bahwa ia lebih utama dariku dan lebih berhak mengemban urusan ini (kekhilafahan) dari pada aku.

Akan tetapi bukankah kalian juga mengetahui bahwa Utsman telah dibunuh secara dzalim ? Sedangkan aku adalah putra pamannya dan aku yang berhak untuk menuntut atas darahnya.

Maka temuilah Ali dan katakan kepadanya : Serahkan kepadaku pembunuh Utsman." [3]

Imam al Haramain berkata :

وإن معاوية و إن قاتل عليا فإن لاينكر إمامته. ولا يدعيها لنفسه وإن كان يطلب قتلة عثمان ظنا منه أنه مصيب وكان مخطئا.

"Meskipun Mu'awiyah memerangi Ali, ia tidaklah mengingkari kepemimpinannya. Dan juga tidak mengklaim kekhalifahan itu miliknya. Faktor yang menyebabkan ia melakukan itu adalah karena menuntut pembunuh Utsman, sebuah ijtihad yang menurutnya benar. Padahal hakikatnya salah." [4]

Ibnu Katsir juga meriwayatkan bahwa Abu Darda' dan Abu Umamah keduanya pernah menemui Mu'awiyah untuk bertanya, "Wahai Mu'awiyah, atas dasar apa anda memerangi laki-laki ini ?

Demi Allah, dia adalah orang yang paling dulu masuk Islam daripada anda dan bahkan bapak anda, lebih dekat kepada Rasulullah ﷺ dari pada anda dan lebih berhak mengemban urusan kekhalifahan ketimbang anda."

Mu'awiyah pun menjawab :

أقاتله على دم عثمان. وإنه اوي قتلته. فاذهبا اليه فقولا له : فليقدنا من قتلة عثمان ثم انا اول من ابايعه من أهل الشام.

"Saya memeranginya hanya karena ingin menuntut darah Utsman. Dikarenakan Ali telah melindungi para pembunuh itu. Sebab itu temuilah ia sekarang, lalu katakan kepadanya, 'Hendaklah ia segera menuntut balas kepada para pembunuh

Utsman. Setelah itu aku adalah orang pertama yang akan membai'atnya dari penduduk Syam." [5]

Ibnu Hajar al Haitsami berkata :

ومن اعتقاد أهل السنة و الجماعة أن ما جرى بين علي و معاوية رضي الله عنهما من الحروب، لم يكن المنازعة معاوية لعلي في الخلافة للإجماع علي أحقيتها لعلي كما مر فلم تهج الفتنة بسببها، وإنما هاجت بسبب أن معاوية ومن معه طلبوا من علي تسليم قتله عثمان إليهم؛ لكون معاوية ابن عمه فامتنع علي

"Diantara i' tiqad ahlussunnah wal jamaah adalah meyakini bahwa peperangan yang terjadi antara Mu'awiyah dan Ali faktornya bukan karena Mu'awiyah ingin menentang apalagi menggulingkan kekhilafahan Ali.

Karena berdasarkan ijma' bahwasanya Ali-lah yang paling berhak mengemban kekhilafahan tersebut, sebagaimana yang sudah kami paparkan sebelumnya.

Munculnya gejolak fitnah itu bukan disebabkan olehnya, melainkan hanya karena Mu'awiyah beserta para pengikutnya ingin menuntut Ali agar mau menyerahkan para pembunuh Utsman kepada mereka. Mengingat Mu'awiyah adalah putra paman Utsman, sementara Ali enggan untuk mengabulkannya." [6]

Ibnu Hazm berkata : "Mu'awiyah sama sekali tidak memungkiri keutamaan Ali dan keberhakannya atas kekhilafahan. Akan tetapi, ijtihad pribadi yang membuat dia memandang bahwa menuntut qishash terhadap para pembunuh Utsman lebih utama dari pada membai'at Ali dan memandang dirinya lebih berhak untuk menuntut darah Utsman." [7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berkata : "Tak sekalipun Mu'awiyah mengklaim kekhilafahan itu milik dirinya. Ketika ia memerangi Ali itu bukan karena merasa dirinya berhak atasnya lalu menyuruh kaum muslimin mengakuinya.

Mu'awiyah telah menyatakan hal ini kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. Setiap kelompok yang bergabung kepada kubunya mengakui hal itu. Meskipun mereka bergabung dengan Mu'awiyah, namun mereka tetap mengakui bahwa Mu'awiyah tidaklah sebanding dengan Ali dalam masalah kekhilafahan ini.

Dan tidak boleh menjadi khalifah selagi Ali masih layak memerintah. Sesungguhnya keutamaan Ali, dalam hal lebih dulunya masuk Islam, keilmuan, agama, keberanian dan seluruh keutamaannya yang lain, tidak asing lagi bagi mereka. Di sisi mereka, semuanya tampak dengan jelas lagi masyhur tanpa kesamaran sedikitpun." [8]

Ahlussunnah wal Jama'ah telah ijma' atas kekhalifahan Ali sejak awal generasi umat hingga hari ini. Tak terkecuali para shahabat nabi siapapun dia meski dalam kondisi berkonflik dengan Ali, termasuk Mu'awiyah. Semua mereka mengakui bahwa Ali adalah khalifah ke empat dari khilafah Rasyidah yang diberkahi Allah.

Semoga bermanfaat.

_________

1. Syarah shahih Muslim (7/168)

2. Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah fi Ashahabah (2/696)

3. Al Bidayah wa Nihayah (7/268)

4. Lum'atul Adilah hal.115

5. Al Bidayah wa Nihayah (7/270)

6. As Sawaiq al Muhariqah hal.239

7. Al Fashl fil Milal wal Hawa (4/160)

8. Majmu' Fatawa (27/72)

0 Response to "APA MOTIVASI MU'AWIYAH MEMERANGI ALI ?"

Post a Comment