-->

Salah paham. Paham salah

 

Itulah kenapa, penting sekali 'kecerdasan' seseorang itu dilengkapi dengan kecerdasan literasi. Apa itu kecerdasan literasi? Saat dia bisa menilai, mengukur, menyerap, merasakan kata demi kata sebuah tulisan dengan baik.

Saya kasih contoh. Sebuah hadist yang sangat terkenal:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Nah, kalimat2 di atas, jika dibaca oleh orang yang terlalu cerdas (tapi dia tidak punya kecerdasan literasi), apa komentarnya? Dia akan komentar: ini kok jahat banget sih sama pandai besi. Jadi kita nggak boleh temanan sama pandai besi dong? Kalau temanan sama dia nanti kita ikut jahat? Kok sentimen banget sama pandai besi? Padahal apa salah pandai besi, kok dia dibully begitu?

Perhatikan komentar tsb. Di jaman modern, komen ini bisa masuk akal sekali bukan? Yes. Masuk akal. Pandai besi telah dijadikan korban bullying di hadist ini.

Tapi tahan dulu sejenak, adik2 sekalian, tahaaan. Inilah momen paling penting kenapa kecerdasan literasi harus masuk. Ayo, baca lagi hadist tersebut. Baca, lantas renungkan:

1. Hadist itu sama sekali tidak sedang menyebut siapa yang jahat, siapa yang baik secara langsung. Itu cuma misal. Pengandaian.

2. Kalimat2 di hadist tsb simpel gaya bahasa. Kamu berteman dengan penjual minyak, tentu ikut wangi. Berteman dengan penjual duren, tentu ikut bau duren. Berteman dengan pandai besi, tentu kalau nongkrong di tempat dia kerja, kena percik api, dll. Karena memang kerjaannya begitu. Masa berteman dengan pandai besi jadi bau duren? Dan adalah pemahaman umum, wangi vs percik api, maka wangi dianggap oke. Duuh, cintaku kepadamu bagai lautan luas. Mana ada lautan luas kayak cinta. Tapi itu misal.

3. Indah sekali bukan sebenarnya perumpamaan tsb? Simpel tapi ngena. Dan sama sekali tidak ada yang sedang menistakan pandai besi. Malah, kalau pandai besi yang paham, dia akan tertawa, benar sekali. Permisalan itu akurat sekali.

Hari ini, kecerdasan literasi ini penting sekali. Ayo, mari melatih masing2. Bagaimana caranya? Sering2lah baca buku, sering2lah ikut kajian. Sering2lah menulis, membuat kalimat2 keren, atau memperhatikan kok bisaaa ya kalimat2 orang lain itu keren. Lama2, kita bisa ketularan jadi paham. Lama2, pemahaman kita luas bagai samudera. Lapang. Tidak sempit. Ternyata maksudnya begini.

Nah, jika kamu cuma modal baca quote2 pendek, sibuk baca2 tweet pendek, apalagi cuma lihat instagram, video2 unfaedah orang pamer, dll, duuuh, bahkan saat baca postingan, 'Pak Asep suka makan nasi goreng', kamu bisa ngamuk dan lapor polisi. Kok bisa ngamuk? Karena Pak Asep yang kamu kenal sukanya makan nasi kuning. Kamu ngamuk, berseru, ini penistaan. Ini hoax.

Ayo, mari lapangkan kecerdasan literasi kita. Tidak semua tulisan orang lain itu sesuai apa yang kita simpulkan. Boleh jadi. Lain sekali maksudnya.

*Tere Liye, 'Si Anak Pelangi'

0 Response to "Salah paham. Paham salah"

Post a Comment