-->

BEGINI CARA KHILAFAH MENJAGA AGAMA DAN WARGA NEGARA

 

Oleh: Ummu Rufaida (Penulis dan Kontributor Media)

Akhir tahun 2020, rakyat Indonesia disuguhi agenda resuffle kabinet Indonesia Maju. Salah satunya adalah pergantian Menteri Agama. Terpilihnya Yaqut Cholil Qoumas membuat masyarakat terkejut. Bagaimana tidak, baru beberapa hari menjabat Ia langsung memberikan pernyataan yang kontradiktif.

Termasuk diantaranya, Ia akan melindungi kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Seketika, ia langsung memberi klarifikasi bahwa tidak ada pernyataan darinya untuk melindungi organisasi atau kelompok tersebut. Menurutnya, sikap sebagai seorang Menteri Agama adalah melindungi mereka sebagai warga negara, dikutip dari kantor berita Antara, Jumat, 25/12/020.

Ia menambahkan, dalam rangka memberi perlindungan sebagai warga negara itu, kata Yaqut Cholil Qoumas, Kementerian Agama siap menjadi mediator jika ada kelompok tertentu bermasalah dengan dua kelompok tersebut (26/12).

Pernyataan ini bak membangunkan macan tidur. Konflik keyakinan yang tak mungkin bisa dimediasi ini, justru menjadi perhatian khusus bagi rezim. Padahal jelas Syiah dan Ahmadiyah bertentangan dengan akidah Islam dan selamanya pasti akan meresahkan umat. Yang harusnya dilakukan adalah memurnikan kembali akidah yang mereka emban. Bukan meminta umat menerima keberadaan dan eksistensinya.

Upaya yang dilakuan rezim saat ini akibat diberlakukannya ideologi sekularisme. Kebebasan beragama dan berakidah menjadi salah satu pilar yang harus dijaga. Menimbulkan eksistensi kelompok atau organisasi yang menyimpang, ajaran yang menyalahi Islam semakin subur. Bahkan cenderung akan dilindungi dengan dalih mereka juga termasuk warga negara.

Umat sudah sepakat bahwa Syiah dan Ahmadiyah bukanlah ajaran Islam dan sangat bertentangan dengan akidah Islam. Berbeda dalam hal akidah tentu tak perlu lagi adanya mediasi sebab jelas ini akan mencederai akidah Islam. Lain halnya jika perbedaan muncul dalam masalah furu' (cabang), tentu ini masih memungkinkan adanya forum diskusi.

Berbeda dengan Islam, salah satu tujuan diturunkannya adalah untuk menjaga agama (hifzu ad-diin), dalam hal akidah dan syariah. Penjagaan Islam terhadap agama ini meniscayakan sebuah kekuasaan sebagai pelindung akidah dan syariah Islam, yaitu khilafah Islam.

Khilafah akan menjamin hak warga negara untuk beragama, terlebih menjaga keutuhan akidah umat Islam. Sebagai bentuk penjagaan maka khilafah akan menindak tegas orang-orang murtad dan yang menjatuhkan kehormatan Islam. Baginya akan diberlakukan hukuman mati setelah sebelumnya dilakukan mediasi dengan pelaku.

Disamping itu, khilafah akan membina warganya dengan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Mulai dari pendidikan tingkat kanak-kanak hingga pendidikan tinggi. Sehingga dapat dipastikan semua warga di seluruh wilayah khilafah mendapat penjagaan agama (baik akidah atau syariah) melalui kurikulum yang diterapkan. Ini berlaku bagi pendidikan formal dan tidak formal.

Selanjutnya, khilafah juga akan membina kesadaran politik warganya agar mampu merespon setiap usaha atau gerakan yang akan menghancurkan akidah Islam dan syariahnya. Seperti kemunculan kelompok atau partai politik yang menyebarkan sekularisme, liberalisme, sosialisme, marxisme, syiah, ahmadiyah dan pemahaman kufur yang lain.

Khilafah juga akan menindak tegas kelompok atau siapa saja yang menyebarkan pemahaman sesat yang bertentangan dengan Islam, seperti syiah, ahmadiyah, bahaiyah dan lain-lain. Khilafah boleh menjatuhkan hukuman mati bagi para penyebarnya, agar tercipta efek jera bagi warga.

Beginilah cara khilafah menjaga akidah dan warga negara. Sehingga jelas, kasus syiah dan ahmadiyah tidak akan pernah tumbuh subur. Oleh karenanya, mari berjuang untuk mewujudkan sistem hidup yang berasal dari Sang Pencipta ini, yaitu sistem khilafah. []

1 Response to "BEGINI CARA KHILAFAH MENJAGA AGAMA DAN WARGA NEGARA"