-->

THE DIP IS OUR JOURNEY

 

Oleh : Sari Hermalina Fitri

Alhamdulillah, akhirnya bisa menuntaskan menyimak materi bedah buku The Dip ini oleh Ustadz Pedy. Barakallahu fiikum stadz, buku ini luar biasa!

Memutar kembali waktu, itulah yang terbayang saat menikmati bahasan materi buku _The Dip_ ini oleh Ustadz Pedy, betapa tidak? setiap isi dari materi om Seth Goldin, menggambarkan perjalanan hidup seorang hamba yang fakir ilmu ini. Semuanya yang telah dilalui terputar kembali dalam potongan-potongan film kehidupan.

Setiap orang dalam hidupnya, tentunya selalu ingin menjadi yang terbaik, selalu ingin menjadi yang terhebat, suatu fitrah alami yang ada pada diri manusia, yakni Gharizah Baqo, begitulah apa yang menjadi tujuan saya dalam hidup, _I Want To Be The Best, It's A Must!_ Fardhu Ain-lah hukumnya.

Ketika menempuh pendidikan formal akademis, itulah saya dengan segala perfeksionisnya mengejar nilai-nilai terbaik, dalam segala mata pelajaran dan mata kuliah, terus melaju hingga membentuk kurva _The Cliff_.

Momen kejatuhan saya ketika terjun ke dunia yang sebenarnya, dunia kerja, ketika berinteraksi dan berkompetisi dengan segala perilaku dan ruang kehidupan manusia, ketika itu saya bekerja di suatu institusi pemerintah dengan posisi yang tentunya (tidak bermaksud sombong ya) dimana semua orang ingin meraihnya dan menikmatinya, tetapi ternyata semua itu hampa dan kosong bagi saya, bekerja bagi saya saat itu hanya sebuah rutinitas tanpa adanya ruh didalamnya, meskipun sekali lagi bidang yang saya geluti, benar-benar sesuai dengan jenjang pendidikan saya, tetapi semua itu tidak menjamin, saya masuk ke dalam _kurva cul-de-sac_, merasa setiap harinya tidak ada perubahan yang berarti dalam hidup saya, semua terasa datar, ditambah lagi _support system_ yang ada dalam lingkungan pekerjaan tidak mendukung saya sama sekali, malah semakin menambah kehampaan dan kekosongan pada diri saya.

Lama saya berfikir ketika itu, ada yang salah dalam kehidupan saya, ada yang tidak tepat dalam tujuan hidup saya, dan sampailah saya pada suatu keputusan : _I choose to quit!_, iya keluar dari semua kekosongan dan kehampaan saya selama ini, saya tinggalkan semua disaat gaji seorang pegawai negeri pada saat itu mulai meroket naik akibat adanya tunjangan kinerja. Saya tinggalkan peluang kenyamanan yang saat itu tentu bisa saja saya raih, jika saya mau.

Semua orang terbelalak dan kecewa besar dengan keputusan saya, apalagi kedua orangtua saya, yang selama ini bangga anaknya jadi seorang pegawai negeri. Ya, itulah hidup, _Life is a Choice, huh?_

Dan potongan kehidupan barupun dimulai, masuk ke kurva _The Dip._ saya bukan lagi seorang ibu bekerja tetapi menjadi seorang ibu rumah tangga penuh, saya menikmatinya, apalagi saya bisa membangun kembali bonding dengan anak pertama saya yang sempat tersendat ketika saya masih bekerja, saya memasak (sesuatu yang jarang saya lakukan saat bekerja), saya baking (yang kemudian jadi hobi baru saya), dan titik point terpenting dalam fase kurva _The Dip_ ini adalah ketika saya memutuskan untuk berhijrah dengan mulai mendalami dan mengenali kembali Islam, agama yang selama ini hanya sekedar saya anut saja tanpa memahaminya.

Awal berhijrah, Alhamdulillah semua berjalan dengan nyaman. Saya merasa telah menemukan bagian yang selama ini kosong dalam hidup saya. Alhamdulillah suami juga ikut berhijrah dan bersama-sama mengkaji agama lebih dalam.

Namun, bukanlah dikatakan benar-benar berhijrah ketika tidak ada ujian dari Allah sebagai bukti berhijrahnya kami hanya untuk-Nya.

Di tengah pertengahan perjalanan hijrah, ketika suami akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan pada saat kami memulai segala sesuatunya dari nol, bisnis yang dilakukan suami akhirnya sampai pada titik (hampir) berhasil dan telah sesuai syariat, bahagia? Jelas pasti, masih terbayang hingga kini wajah suami yang dengan semangatnya menceritakan ke saya, tetapi Allah berkehendak lain, usaha itu gagal total, bahkan meninggalkan hutang hingga ratusan juta rupiah, hingga kami diteror teman bisnis kami sendiri.

Fase kritis kurva _The Dip_ itu datang, kali ini seperti badai besar yang menimpa kami ketimbang yang pertama, _Dip and Deep._ Serasa habis daya kami, dan sempat ingin berbalik arah kembali ke jalan sebelum hijrah karena ada perasaan kecewa, merasa sudah berjalan sesuai syariat tetapi yang ada malah menghasilkan hutang. Di fase ini perjuangan, keteguhan hati diuji habis-habisan.

Alhamdulillah, suami yang terkena dampak langsung dari _fase dip_ ini justru yang menguatkan saya, menggapai kembali tangan saya yang telah melemah untuk tetap bertahan dan berjuang, bahwa semua dilakukan hanya karena Allah semata.

Allah tidak tidur kala kondisi kian terjepit dan kami tidak tahu bagaimana harus menyambung hidup, pertolongan Allah itu datang, sebuah kesempatan bekerja di sebuah Yayasan Dakwah hadir, walau saat itu masih berstatus honorer bukan karyawan tetap, tetapi rasanya bagaikan mendapat durian runtuh dari langit.

Perlahan tapi pasti, kondisi kami mulai membaik bahkan kami akhirnya bisa melunasi hutang kami ratusan juta itu, suami pelan-pelan diberikan kepercayaan lebih hingga kini memegang jabatan tertinggi setelah BOD.

Titik nadir itu mulai menjauh dari langkah-langkah kami, dan semua itu diawali dari aktivitas dakwah, sampai bidang pekerjaan suamipun dalam ranah dakwah. Saat ini kami berdua jadi tim dakwah yang solid, saling support satu sama lain, adakalanya jenuh, mandek, tapi semua itu bisa dilalui. Kami terus berupaya menciptakan _micro market_ baru dalam uslub dakwah, kami belajar bersama-sama meninggkatkan tsaqofah, seperti yang saya lakukan ini di Klubuku-OWOB.

Perjuangan kami masih terus berlanjut untuk dapat menjadi the best in the world, dan menjadi seorang pengemban dakwah yang umat butuhkan.

Jazakumullahu Khayran Katsir sekali lagi Ustadz Pedy, dengan membahas buku ini, menguatkan dan merefresh perjalanan langkah kami kedepan.

*Sejatuh apapun kita dalam kehidupan, namun tetap kita sandarkan kepada Allah, maka kita akan mampu melewatiya untuk melesat kembali, karena Allah.*

_Wallahu a'lam bish showwab_

Tangerang Selatan,

05 Desember 2020

SHF

#OWOB-10

#TD

#SethGodin

#Insight

0 Response to "THE DIP IS OUR JOURNEY"

Post a Comment