-->

Sekolah Dibuka, Apa Kabar Penanganan Covid-19?

 

Oleh : Vio Ani Suwarni

Sekolah adalah tempat peserta didik mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. Tidak hanya pengetahuan akademik, akan tetapi jauh dari pada itu komponen sekolah mampu membina karakter menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.

Namun sudah hampir satu tahun ini dunia pendidikan dihadapkan pada persoalan yang pelik bahkan dilematis. Tidak hanya pada aspek pendidikan, semua aspek dan komponen masyarakatpun merasakan dampak dari covid-19 ini.

Disatu sisi tentu saja sekolah menginginkan peserta didik mendapatkan pangajaran dan pendidikan yang baik. Akan tetapi disisi yang lain resiko yang harus ditempuh sangatlah besar, jika menginginkan pembelajaran tatap muka.

Maka pembelajaran jarak jauh untuk sementara ini menjadi pilihan, tentu saja banyak yang hilang dari pembelajaran. Karena sejatinya tujuan pendidikan adalah membina karakter peserta didik menjadi manusia yang bijaksana.

Tentu saja kita semua mengharapkan sekolah tidak kehilangan proses pembelajaran dan pengajarannya. Mengharapkan demikian, berarti kita mengharapkan covid-19 segera berlalu dan dunia segera baik-baik saja.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengizinkan pemerintah daerah untuk membuka sekolah atau kegiatan belajar tatap muka di sekolah di seluruh zona resiko virus corona mulai Januari 2021.

Keputusan tersebut sangatlah dinanti-nanti oleh semua pihak, akan tetapi jika wilayah tersebut masih terkena zona resiko virus corona sebaiknya pemerintah memberikan penanganan yang maksimal terhadap virus covid-19.

Dilema ini terus saja dirasakan oleh orang tua, karena jika mengizinkan anak-anaknya untuk pembelajaran tatap muka, tapi tidak ditunjang dengan penanganan yang baik maka akan sangat berbahaya.

Penanganan yang baik haruslah ditunjang dengan fasilitas yang baik pula. Seperti di Finlandia dan Tiongkok, sekolah-sekolah dipersiapkan untuk menerapkan protokol kesehatan, sehingga orang tua tidak khawatir jika pembelajaran tatap muka di era new normal.

Sebelumnya pada Agustus 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengizinkan sekolah di zona kuning dan hijau untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Keputusan tersebut diambil karena mempertimbangkan efektifitas PJJ.

Banyaknya kendala-kendala yang ditemui peserta didik ketika PJJ, seperti minimnya sarana dan prasarana HP, akses jaringan internet, kestabilan signal dan lain sebagainya. Belum lagi kesiapan dari guru sendiri yang harus mendesain ulang pembelajaran khusus PJJ. Membuat efektifitas PJJ ini diragukan, banyaknya yang hilang dari proses pembelajaran ini menjadi perhatian.

Peserta didik selama PJJ hanya mendapatkan keilmuannya saja, sedangkan keahlian dan sikap belum bisa peserta didik dapatkan. Padahal yang terpenting dari proses pembelajaran adalah bagaimana membina sikap peserta didik agar menjadi pribadi yang baik.

Meskipun pembukaan sekolah di zona hijau dan kuning dilakukan dengan sejumlah syarat, seperti harus mendapat izin pemerintah hingga orang tua, kebijakan ini tetap menyisakan kekhawatiran.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan masih banyak sekolah yang belum siap secara protokol kesehatan dalam penerapan kembali pembelajaran tatap muka.

Kebijakan tersebut menempatkan seluruh komponen masyarakat berada pada posisi yang dilematis. Pada faktanya kasus covid-19 masih saja bertambah. Masyarakat membutuhkan penanganan covid-19 yang maksimal agar orang tua tidak khawatir ketika anaknya harus belajar tatap muka.

Pada pemerintahan Islam, negara sangat memperhatikan pentingnya penyelenggaraan pendidikan. Negara memberikan fasilitas pendidikan yang memadai. Apa lagi dalam masa pendemi seperti ini, Islam sudah menjelaskan bagaimana pemisahan antara masyarakat yang sehat dengan masyarakat yang sakit. Semua itu dilaksanakan dengan maksimal, agar masyarakat bisa kembali sehat dan terbebas dari wabah. Pemisahan tersebut semata-mata untuk menekan penyebaran wabah.

Wallahu a'lam bishowab

0 Response to "Sekolah Dibuka, Apa Kabar Penanganan Covid-19?"

Post a Comment