-->

SRI MULYANI BENAR

  Akhir-akhir ini banyak pihak menyoroti yg belum lama dilontarkan Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Bahwa ekonomi NKRI hancur karena warisan orba bahkan warisan Hiindia Belanda. "Kenapa nggak sekalian jaman Ken Arok?" Demikian kritikan kepada Sang Menkeu yg dianggap hobby dengan kambing hitam. Tidak tahulah, apakah beliau nggak pernah merasakan nikmatnya daging domba balibul.

Saya melihat yang disampaikan Mbak Sri itu benar. Nyatanya Orba ngasih beban, karena dominannya Orba memang butuh bantuan asing. Terutama via Freeport. Apa itu salah?

Mengenai warisan kolonial, itu juga benar. Bukanlah Konferensi Meja Bundar di Denhag 27 Des 1949 memang mensyaratkan pemerintahan Indonesia harus bersedia mengakui utang2 Belanda jika mau diakui kemerrdekaannya oleh Belanda dan tidak diganggu lagi dengan agresi militer lagi?

Bahkan jika ditarik sampai zaman Ken Arok, apa itu salah? Ken Arok mengajarkan bahwa kedudukan itu penting, curang dalam meraih kedudukan juga tidak masalah. Sementara keberdirian, kejalanan, dan kelarian, itu tidak penting. Sehingga setelah duduk tak perlu berpikir negara itu harus berdiri sampai lari melaju kencang. Toh yg penting duduk. Duduk sudah berhasil diraih. Sehingga banyak raja yang nantinya mencari dukungan asing saat berkuasa. Seperti raja Majapahit akhir, Blambangan, dan Pajajaran yg ketiganya mengandalkan dukungan Portugis. Juga raja2 Mataram sejak Amangkurat I yg mengandalkan dukungan VOC dan selanjutnya pemerintahan Belanda.

Juga Ken Arok mengajarkan cara curang itu juga diwarisi terus menerus. Wayang2 biasa dengan hal itu. Bahkan Krishna versi Jawa itu sangat kejam dan curang, lebih dari yg versi India. Seperti strateginya dlm membunuh Antareja. Curang menjadi hal yg tidak aneh di masa Majapahit akhir dan Mataram akhir.

Jadi memang bangsa kita itu masih bermental Ken Arok. Dan merdekanya tidak penuh. Bahkan ungkapan Mbak Sri itu masih kurang. Bukan hanya berpengaruh pada ancurnya ekonomi, tapi bahkan ipoleksosbudhankam.

Tidak salah ungkapan Mbak Sri. Malah masih kurang.

Bahkan dari mentalitas rakyat pun mental Ken Arok. Walau sudah hidup di zaman Ken Norton, Ken Watanabe, dan Ken Pejahgesang Ndherek Pakjoko. Musuh (pesaing) orang Jawa itu bukan orang kafir, tetapi para sepupunya. "Itu anaknya Pakde sudah jadi lurah, kamu harus bupati !!" Sesuai gurunya, wayang kulit suntuk semalam tentang perang Pandawa vs Kurawa. Seperti tontonan saya kecil dulu. Dan itulah mental feodal pragmatis yg menyebabkan KKN bejiburajalela.

Sehingga peta politik Indonesia sejak dulu begitu. Umat Islam vs kaum abangan. Semula menang umat Islam. Tapi kaum abangan minta bantuan asing dan setelah nampak unggul kaum feodal pragmatis bergabung. Tiga abad lebih begitu terus. Baik zaman perang maupun zaman pemilu.

Kemerdekaan kita tidak total. Masih banyak peranan asing sehingga berpengaruh pada bandul kekuatan di negeri ini. Hukum asing. Modal asing. Tekanan politik asing. Pemikiran asing. Gaya hidup asing. Sehingga bangsa ini seperti kerbau besar yang ditarik anak kecil. Nikmat saja.

Kalo asing benar2 diam, bisakah dijamin Pak Dirman, SM Kartosuwiryo, Muhammad Natsir gak pernah sekalipun jadi kepala negara? Selanjutnya ada AH Nasution, M. Yusuf, bisakah dipastikan tak mungkin jadi kepala negara? Bisalah dipastikan Bung karno yang mendekrit, bukan yang didekrit? Lihat ketika Habibie, yg dekat dng umat Islam.memerintah, ading campur tangan menjatuhkannya. Tiap ada peralihan kekuasaan di negeti ini, umat Islam selalu dlm posisi yang menonjol, tapi pelan-pelan makin redup, sampai muncul.peralihan yang baru lagi, jadi aktor lagi, redup lagi. Natsir, Nasution, Amin Rais, selalu jadi muadzin. Imamnya orang abangan sekuler, atau setidaknya yg didukung abangan sekuler. Apa asing diam dengan semua proses itu.

Ibarat bicara perseroan terbatas, memang ada saham asing di negeri ini. Namanya pemilik saham tak diam, itu biasa. Mereka memperbesar saham dan makin tak diam, semua itu lumrah. Karena ada saham asing yang makin membesar di sini.

Negeri ini diawali mungkin dengan (gampangnya orang bicara) 2/3 merdeka, selanjutnya setengah, sepertiga dan terus makin kecil.

Masih tidak beranjak dari zaman Diponegoro. Dimana antek dan anti Belanda seimbang. Sehingga dari korban 15 ribu, yg 7 ribu pasukan Fiponegoro, yg 8 ribu pasukan Belanda, dan dari pasukan Belanda itu hanya ratusan yg bule.

Inilah realitanya.

Jangan bandingkan dengan pasukan Aceh saat Sang Sultan minta bantuan Utsmani untuk mengusir Belanda dari seluruh tlatah Nusantara dan menyatakan pada Utsmani siap menanggung biayanya.

Jangan bandingkan dengan psukan Khalifah Umar al Faruq yg menggemuruh membahana di depan istana Kisra padahal jumlahnya tak seberapa.

Yang aneh jika sudah paham saham Barat begitu banyak justru mencari tambahan saham Timur. Lengkap sudah negeri ini tergadai. Pejabar satu akrab dengan Barat dengan perbankannya. Pejabat lainnya akrab dengan Timur dan penyiapan infrastrukturnya. Sermentara para penguasanya gabungan abangan srkuler didukung feodal pragmatis. Dosomunyuk ngaku Diponegoro.

Maka tugas kita masih jauh dari menjayakan Indonesia. Lebih dulu adalah mengembalikan krmerdekaan negeri ini.

Dengan apa?

Dengan Islam. Dengan seluruh pemikirannya dan seliuruh metodenya.

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." ( TQS. An-Nuur: 55)

By Husein Matla

0 Response to "SRI MULYANI BENAR"

Post a Comment