-->

"Ojo Ngoyo (Mundhak Sengsoro)"

  The Subtle Art of Not Giving A F*CK (Mark Manson)
Bedah buku oleh Ustadz Yudha Pedyanto

Oleh : Sunarti

Hidup memang penuh persoalan (jika penuh wijen itu onde-onde, etadahhhh). Mulo ojo ngoyo mundhak sengsoro (maka jangan berusaha untuk terlalu keras, nanti akan sengsara). Tunggu dulu, jangan terpancing emosi dan ngangkat panci. Baca dulu!

Dalam buku Mark Manson yang berjudul The Sabtle Art of Not Giving A F*ck yang malam ini dibedah dengan tajam oleh Ustadz Pedy, pada bab awal mengisahkan seorang Charles Bukowski seorang yang tenar karena telah bangkit dari keterpurukannya. Di balik ketenarannya dia adalah seorang pecundang.

Pasalnya, dalam keterpurukannya dia melampiaskan segala kegagalannya bersama miras (seorang alkoholik), pecinta wanita dan aktivitas buruk lainnya. Hari-hari dilalui dengan hal-hal buruk. Dan hari terburuknya adalah dia menggubah puisi.

Charles Bukowski bisa dikatakan sebagai seorang terburuk di dunia. Bagaikan seorang yang menjadi alternatif terakhir untuk dimintai nasehat. Begitu menurut Mark Manson.

Seorang Charles Bukowski yang bercita-cita ingin menjadi penulis. Sayang, puluhan tahun karyanya ditolak oleh berbagai media. Dia merasa tidak berguna dan pelariannya pada alkohol. Dia akhirnya menjadi seorang pecandu alkohol.

Dalam kehidupannya, Bukowski memenuhi kebutuhan pokoknya dengan bekerja di sebuah kantor pos. Memasukkan surat-surat ke dalam amplop, itulah tugas yang dia lakukan dalam puluhan tahun dengan gaji yang sangat kecil.

Suatu ketika sebuah rumah penerbitan kecil tertarik pada Bukowski ini. Dengan janji tidak akan banyak bayaran. Dalam kerjasama ini, Bukowski berada dalam dua pilihan. Tetap tinggal di kantor pos dan menjadi gila, ataukah menjadi penulis akan tetapi kelaparan?

Kalau kalian milih mana hayo?

Bukowski memilih untuk menjadi penulis. Dalam waktu tiga pekan tangannya mampu menulis satu novel. Dan itulah novel pertamanya. Dan disusul karya-karya yang lain.

Tak berapa lama, tangan 'anehnya' (menurut Emak ini), mampu menulis 6 novel dengan ratusan puisi. Dan hebatnya lagi lebih dari 2 juta copy terjual habis. Di luar ekspektasi seorang Charles Bukowski.

Bahkan, menurut Mark Manson, kisah Bukowski adalah kisah seorang yang berjuang dan tak pernah menyerah. Bukowski adalah seorang yang menjadi pemimpi Amerika, dan berhasil meraih mimpinya.

Bukowski tidak pernah menyerah, berjuang dengan kegigihan, selalu mencoba dan berhasil. Dia, selalu berpikir positif. Namun, kembali lagi, si Bukowski adalah seorang pecundang. Saking (apa ya bahasa Indonesianya?) dia menyadari dirinya sebagai seorang pecundang, dalam batu nisannya ditulis "Don't Try." Bahasa Ustad Pedy, Ojo Ngoyo.

So, kegeniusan bukan menjalani dengan keras. Akan tetapi dengan jujur pada diri sendiri. Bagian paling kurang dalam dirinya, dia bagi kepada khalayak tanpa ditutup-tutupi. Dan merasa nyaman dengan hal-hal yang tidak bisa dia rubah. Bagian kekurangan yang tidak bisa dirubah semakin membuat keburukan. Karena memang ada hal-hal di luar kemampuan kita.

Menurut Mark Manson, kebaikan-kebaikan (iming-iming) kehidupan yang ada di sekitar hanyalah fatamorgana dan lebih-lebih adalah sebuah bisnis semata. Terlalu terobsesi meterialistik dan tergantung hal-hal yang super, itu akan sangat jelek dampaknya bagi kesehatan.

Kalau bahasa kita ya, Mak, palingan gini, alam materialistik telah membawa penghuninya pada kehidupan yang berstandard kapital. Kebahagiaan juga diukur dengan banyaknya materi yang dimiliki.

Dan ujung-ujungnya para pemilik kapital, dia yang akan memenangkan bisnis di dunia. Maka, jika manusia yang ada di dalamnya terbawa larut (arus) kehidupan meterialistik, hari-harinya akan penuh obsesi. Yakni pada kepemilikan/kesuksesan dunia yang berupa harta, tahta, wanita (dan Toy*ta).

Nah, maka pesan dari Mark Manson, janganlah terobsesi secara berlebihan pada satu hal/aktivitas. Yang justru akan mengurangi pada hal-hal/aktivitas lain dan ternyata itu lebih penting. Hanya fokus/mendedikasikan hidup kita kepada hal-hal yang penting saja.

Bukankah bagi seorang muslim ada prioritas perbuatan?

Memandang hal penting mana yang musti didahulukan dan mengurangi bahkan meninggalkan aktivitas yang tidak penting atau bahkan dilarang oleh syara'. Yakni, mendedikasikan hidup kita hanya kepada hal-hal penting (menurut standar skala prioritas amal) dan sifatnya abadi yaitu kepada Allah SWT.

The Feedback Loop From H*ll

Lagi-lagi, materi bahasa Inggris. Mana mata sudah tinggal tiga watt. Yaa Allah, kuatkan mata ini.

Lanjut. Kondisi saat ini membuat kita dihadapkan pada kondisi panik dan semakin panik. Padahal kepanikan muncul dari diri sendiri. Ketika ada masalah kita marah dan semakin marah. Padahal kenapa marah, itu malah membuat marah lagi. Parah. Nah bingung kan? Podo, Emak yo tambah bingung. Wes pokoke melu ...

Pokoknya kondisi yang berlebihan dan seseorang tidak tahu musti berbuat apa, maka akan menimbulkan stres yang berujung pada depresi. Depersi yang tidak teratasi akan semakin mendorong seseorang untuk bunuh diri. Dan ini terjadi di mana-mana.

Sekarang, bukankah depresi yang berakhir dengan bunuh diri semakin banyak? Apakah ini membuktikan ketika prioritas perbuatan tidak dikembalikan kepada hukum Allah, akan membuat manusia salah arah?

Serta, tolok ukur kebahagiaan dalam peradaban sekulerisme ini adalah materi, menjadikan manusia ngoyo memburunya.

Sayangnya, dalam buku Mark Manson tak disertakan prioritas amal dan standar kebahagiaan. Yo ogak lah, Mak. Hehehe ... Ya, sudah kita tambah di sini ya.

Skala prioritas amal yang diutamakan adalah yang wajib, disusul dengan yang sunah baru yang mubah. Kewajiban kepada Allah SWT dilakukan sebagai aktivitas yang utama dan pertama, sebagai bentuk ketaatan kita kepada Sang Pemilik Raga. Kemudian untuk menambah kebaikan-kebaikan aktivitas wajib, aktivitas sunah menjadi aktivitas kedua. Baru hal-hal yang mubah menyusul.

Pada persoalan Bukowski, meski secara motivasi untuk bangkit dari keterpurukannya adalah sebuah hal yang baik, akan tetapi pelarian sebagai pecandu alkohol dan main perempuan bukanlah hal yang layak ditiru. Meskipun disertakan kebaikan akan kejujurannya dia sebagai seorang pecundang, seorang Bukowski bukan pula sosok yang bisa dijadikan panutan. Diperlukan kerangka berpikir yang bukan abal-abal untuk mereguk kebaikan dari buku ini. Kepemimpinan berpikir dari pemikiran yang shahih, tentunya.

Terakhir, kebahagiaan bukan hanya disaat tidak ada persoalan. Justru persoalan itu adalah ujian yang Allah berikan kepada hambaNya dalam rangka menaikkan derajat dan menggugurkan dosa- dosanya. Selain itu, standar bahagia bagi muslim adalah ketika seluruh aktivitas diridhai oleh Allah SWT.

Ketika mengejar yang fana, kita tidak mendapatkan apa-apa. Namun ketika mengurangi obsesi terhadap yang fana maka kita akan mendapatkan yang lebih tanpa diduga-duga. Terlebih jika apa yang kita tempuh berada pada koridor hukumnya Allah.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnua Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alllah telah mengadakan ketentuan bagi tiang-tiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Makanya jangan ngoyo! Jalani sesuai dengan yang Allah perintahkan dengan ikhlas menerima segala yang terjadi semata kepada Allah SWT saja. Dunia yang fana adalah wasilah menuju akhirat yang kekal. Tetap menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat yang sudah Allah SWT turunkan.

Inilah celoteh Emak, dalam kelas OWOB, dalam buku Mark Manson dengan judul The Subtle Art of Not Giving A F*CK. Membahas dua bab dari 9 bab di buku ini. Yakni jangan berusaha terlalu keras (jangan ngoyo) dan kebahagiaan adalah masalah. Mohon koreksinya jika secara isi belum sesuai dengan yang dijelaskan. 🙏

Ngawi, 29 Oktober 2020

0 Response to ""Ojo Ngoyo (Mundhak Sengsoro)""

Post a Comment