-->

NILAI KEILMUAN ITU BUKAN SEDERET TITEL, APALAGI SELEMBAR IJAZAH

  Oleh: Tg. DR. Miftah el-Banjary, MA

Dulu saya seringkali ditegur keras, ditekan, bahkan dimarahi oleh promotor atau penguji saya ketika sidang thesis dan disertasi.

Tahu sendiri kan, kalau orang Mesir marahnya gimana? Teriak-teriak. Menggelegar dan nyali kita dibuat ciut! Serius!

Apa saya merasa sedih dan terhinakan?

Tidak! Saya berusaha kuat dan menganggap motivasi menjadi lebih baik lagi. Saya posisikan saya sebagai bola yang makin ditekan, akan makin kuat daya pegasnya.

Tujuan mereka pastinya baik. Dan mereka mengajarkan kesadaran diri agar tak pongah. Mental kepongahan harus didownkan terlebih dahulu.

Itulah mengapa rata-rata mahasiswa lulusan Timur Tengah itu sukses ketika pulang ke tanah air, bukan semata keilmuannya, boleh jadi keilmuannya biasa-biasa saja. Namun, yang membedakan adalah tempaan mentalnya.

Ada hal yang lebih penting dari sekedar intelektual dan selembar ijazah adalah kekuatan mental bertahan dalam ujian dan situasi serta kondisi yang kritis, hampir putus asa. Ini barangkali tidak banyak dialami oleh alumni perguruan tinggi di dalam negeri. Ini fakta!

Lebih ekstrim lagi, ada kisah unik yang dialami oleh seorang kawan dari Afrika yang beberapa kali gagal lulus ujian di program Pascasarjana al-Azhar, sedangkan 9 mata kuliah dari 10 mata kuliahnya selalu mendapatkan nilai mumtaz; istimewa.

Hanya satu mata kuliah yang selalu gagal, sedangkan nilai mata kuliah itu pun layak untuk dikatakan lulus dengan nilai yang baik pula.

Parahnya lagi, untuk jatah mengikuti setiap kali ujian mata kuliah tersebut, si mahasiswa harus menunggu satu tahun, sebab mata kuliah tersebut adanya di termin kedua setiap akhir tahun.

Meski, 9 mata kuliah itu bernilai mumtaz alias terbaik, namun satu mata kuliah bernilai rasib alias tidak lulus, maka nilai 9 mata kuliah yang bernilai cum laude itu dinilai hangus. Apes kan?!

Alih-alih mendapatkan "syafaat nilai", nyata-nyata dosen pemangku mata kuliah yang selalu tidak meluluskan si mahasiswa Afrika itu, ternyata teman dekat dan teman bercanda si mahasiswa itu. Aneh kan?!

Ketika ditanya, "Ya duktur, ana musy nageh lieh. Kenapa saya gagal lagi?!"

Si dosen dengan entengnya menjawab. "Mafisy hagga. Anta syatir. Rouh bilad. Anta musy nageh abadan! Nggak apa-apa. Nggak ada masalah. Kamu cerdas. Pulang saja ke negaramu. Kamu tidak akan pernah lulus dengan mata kuliahku!"

Absurd!

Bagaimana mungkin ada seorang dosen yang begitu mudahnya berkata seperti itu?!

Tapi itulah faktanya.

Si mahasiswa Afrika gagal menyelesaikan S.2. Pulang ke negerinya. Dan hari ini, dia sukses dan menjadi orang penting di negerinya.

Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa apa yang ingin diajarkan oleh seorang ulama al-Azhar, ada yang mendidik muridnya dengan ujian kesabaran dan ilmu hikmah yang tidak bisa dinalar dengan logika. Nampak seperti tarbiyah Nabi Khaidir pada Nabi Musa ya, hehe..

Maknanya apa?

Maknanya, tidak ada jaminan kesuksesan itu dengan banyaknya ilmu pengetahuan atau lembaran ijazah atau titel berderet-deret itu.

Pendidikan sesungguhnya bukan pada intelektual semata, namun pada pendidikan karakter yang bertumpu pada jiwa, akal dan hati yang melahirkan attitude, sikap sabar dan tegar menghadapi ujian real dalam kehidupan dunia nyata.

Nilai strata S.2 hingga S.3 tidak sebanding dengan pendidikan ujian mental yang diterima dari tempaan lingkungan, maupun para promotor dan penguji itu. Bukan titel yang mendidik seseorang, tapi seberapa dia bertahan dalam menggapai tujuan itu.

Kemampuan bertahan, etika dan kematangan emosi jauh lebih utama dari sekedar faktor intelektual. Mahasiswa yang merasa lebih pintar, tidak memiliki etika sebagai seorang intelektual, jelas saya abaikan untuk saya arahkan, sebab begitulah dulu kami dibentuk.

Banyak orang yang sukses, bukan lantaran sukses di bangku kuliah, tapi mereka sukses menangkap pelajaran penting dalam kehidupan ini.

Bukan seberapa banyak teori yang Anda kuasai, tapi seberapa besar Anda mehahami kebutuhan orang lain terhadap potensi dalam diri Anda untuk Anda berikan pada mereka.

0 Response to "NILAI KEILMUAN ITU BUKAN SEDERET TITEL, APALAGI SELEMBAR IJAZAH"

Post a Comment