-->

Sejarah dan Dakwah Islam di Tatar Sunda

  By Kanti Rahmillah, M.Si

Viralnya film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara, telah memantik semangat kaum muslim untuk semakin menggali kebenaran sejarah agamanya sendiri. Berbagai diskursus dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan sejarah Islam di Nusantara semakin marak dan mewarnai jagat literasi.

Tak terkecuali mengenai sejarah masuknya Islam ke Tatar (Tanah) Sunda. Penduduk aslinya yang hampir seratus persen Islam, telah menghantarkan istilah “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam”. Lacak jejak Islam di Tatar Sunda ada yang berupa tinggalan fisik seperti masjid tua, bangunan pasantren, makam-makam, bentuk tarekat dan naskah-naskah lama.

Bagaimana proses masuknya Islam ke Tatar Sunda? Adakah kaitannya dengan pusat kejayaanya Khilafah? Lalu bagaimanakah dakwah para pengembannya? Serta apa pengaruhnya terhadap peradaban masyarakat Sunda?

Tatar Sunda di Masa Kehidupan Hindu-Budha

Kerajaan pertama di Tatar Sunda adalah Salakanagara (130M-362 M) di Teluk Lada Padeglang/Banten. Didirikan oleh Damawarman seorang pedagang dari Palawa, India. Sehingga kehidupan bercorak Hindu mulai ada. Dilanjutkan oleh Kerajaan Tarumanegara (358-669 M), lalu Salakanagara menjadi bawahan Tarumanegara. Wilayah cakupannya seluruh Jawa Barat, termasuk Banten dan Jakarta. Rajanya yang terkenal bernama Purnawarman penganut agama Hindu Syiwa.

Tarumanagara pecah menjadi Kerajaan Galuh (536-852 M) yang berpusat di Kawali Ciamis dan Kerajaan Sunda (669-1482 M) yang bepusat di Pakuan Pajajaran Bogor. Di bawah kekuasaan Raja Sanjaya, Galuh dan Sunda bersatu untuk pertama kalinya. Lalu berpisah lagi, hingga terakhir disatukan kembali oleh Maharaja Prabu Siliwangi. Kerajaan Sunda Pajajaran (1482-1579 M) ini merupakan Kerajaan Hindu terakhir sebelum masuknya Islam.

Kehidupan Sunda sebelum datangnya Islam diwarnai oleh peradaban Hindu sebagai agama yang dianut kerajaan. Di luar kerajaan ada agama Saura yang menyembah matahari, Sunda wiwitan, agama kotor (yang belum tersentuh Hindu) dll. Seluruhnya terasimilasi, buktinya praktek Hindu di Sunda berbeda dengan Hindu di India. Begitupun sistem sosial, kerajaan menerapkan sistem kasta; Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra.

Ada satu peristiwa di masa kejayaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yaitu Peristiwa Bubat (1357 M) yang berakhir dengan terbunuhnya Raja Linggabuana oleh Mahapatih Majapahit Gajah Mada dan Belapatinya Putri Dyah Pitaloka. Dari sanalah muncul sentimen anti jawa dari masyarakat Sunda. Lahirlah istilah pamali menikah antara Sunda dan Jawa.

Namun setelah kedatangan Islam, sistem kasta, budaya sirik dan sentimen anti jawa sirna. Seiring dengan pemahaman masyarakat akan ajaran Islam dan kerajaan yang menganut ajaran Islam.

Penyebaran Islam ke Nusantara

Penyebaran Islam di Tatar Sunda tak bisa dilepaskan dari penyebaran Islam oleh pusat kejayaanya yaitu Khilafah. Dari masa Rasulullah Saw di Madinah (622 M) hingga Kekhilafahan terakhir yang berpusat di Turki Utsmani (1924M). Begitupun masuknya Islam ke Tatar Sunda tak bisa dilepaskan dari sejarah Nusantara. Selat malaka yang menghubungkan sumatera dan Malaysia adalah jalur perdagangan yang biasa dilalui para pedang mancanegara.

Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 7 Masehi. Jejaknya berupa sebuah makam kuno, anak sahabat Rasulullah Saw yang terletak di Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Yang tertulis di dalamnya Syeikh Mahmud bin Abdullah bin Mas’ud ra 44 H.

Pada masa tersebut, Khalifah Utsman Bin Affan telah mengirimkan pasukan menuju kekaisaran China, itu artinya pasukan Khilafah pasti melewati Nusantara. Para tokoh yang mendukung teori tersebut yaitu Anthony H Johns, Van Leur, Buya Hamka dan T.W Arnold.

Semakin jelas setelah ditemukannya surat dari Raja Sriwijaya, Sri Indra Warman pada abad ke-8 kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada masa Bani Umayah. Yang isi suratnya meminta pada Khalifah agar daerahanya didatangkan para ulama untuk mengajarkan Islam. (Republika, 2018)

Lalu pada abad ke 15 tepatnya tahun 1404. Zainal Abidin Sultan II (yang memiliki Julukan Zainal Abidin Ra Ubadar /penakluk gelombang) Sultan Samudra Pasai ke-5, mengantar/mengirim Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang berkebangsaan Palestina menuju Jawa Timur. Sunan Gresik diutus oleh Khalifah untuk berdakwah di pusat kerajaan Majapahit.

Sunan Gresik lah yang mengawali dakwah wali songo di tanah Jawa. Dakwah wali songo telah menghantarkan Raden Patah (Putra Mahkota Raja Majapahit) berislam. Lahirlah darisana kesultanan pertama yang berbaiat langsung pada Khalifah yaitu Kesultanan Demak, yang nantinya membantu Kesultanan Cirebon dalam penyebaran Islam di Tatar Sunda.

Awal Mula Islam Masuk ke Sunda

Dalam sumber-sumber lokal tradisional, dipercaya bahwa orang yang pertama kali memeluk dan menyebarkan Islam di Tatar Sunda adalah Bratalegawa yang lebih dikenal dengan Haji Purwa (1363). Karena dianggap sebagai orang pertama dari kerajaan Galuh yang pergi haji. Bratalegawa adalah anak kedua dari Raja Galuh, Ia lebih memilih menjadi saudagar besar yang terbiasa berlayar ke Sumatra, China, India, hingga Arab. Ia pun menikah dengan muslimah dan menjadi Islam. Lalu menetap di Cirebon Girang, di bawah kekuasaan Galuh. Haji Purwa ini merupakan paman dari ayah Prabu Siliwangi.

Secara geografis Cirebon terletak di Pesisir Utara Jawa atau di tepi pantai sebelah timur ibu kota Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran. Di Pesisirnya ada pelabuhan Muara Jati dan Pasambangan. Banyak saudagar dari Pasai, Arab, India, Parsi, Malaka, Tumasik (Singapura), Palembang, China, Jawa Timur, dan Madura datang berkunjung ke Pelabuhan Muara Jati dan Pasar Pasambangan untuk berniaga dan memenuhi keperluan pelayaran lainnya.

Maka tak heran jika Cirebon dijadikan sasaran dakwah para ulama. Seperti Syeikh Quro dan Syeikh Nurjati. Sehingga sangat memungkinkan penduduk Cirebon khususnya di Pelabuhan Muara Jati dan Pasar Pasambangan berkenalan dengan agama Islam. Lalu kebudayaannya terwarnai oleh ajaran Islam.

Pada abad ke 15, ada syeikh Hasanudin utusan Raja Champa (Sebagian Vietnam) yang lebih dikenal dengan nama Syeikh Quro. Beliau ikut dengan rombogan armada Laksamana Cheng Ho yang sedang melakukan misi muhibah Kaisar Yung Loo dari China. Berkeliling ke 36 negara, termasuk Nusantara. Mendarat di Muara Jati Cirebon (1416M).

Dari sanalah Syeikh Quro bertemu dengan Ki Gedeng Tapa yang merupaka penguasa Muara Jati Cirebon. Ki Gedeng Tapa adalah ayah Nyi Subang Larang yang nantinya akan menjadi murid yang sangat pintar dan menjadi andalan syekh Quro dalam menyebarkan dakwah Islam melalui qiraah Al Quran. Masuk Islamnya Ki Gedeng Tapa dan menyebarnya dakwah Islam di Cirebon, membuat Raja Anggalarang penguasa Galuh yang juga merupakan Kakak dari Ki Gedeng Tapa marah.

Karena secara de facto Cirebon di bawah kekuasaan Galuh. Lalu Raja Anggalarang memerintahkan Syeikh Quro berhenti berdakwah. Perintah itu pun dipatuhi. Lalu kepada utusan yang datang Syeikh Quro mengingatkan, walaupun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi Walillullah. Artinya dakwah Islam tak akan berhenti.

Syeikh Quro akhirnya kembali ke Champa bersama anak Ki Gedeng Tapa, Nyi Subang Larang. Berselang 2 tahun, Syeikh Quro pun kembali berdakwah ke tanah Sunda bersama para santrinya. Dan mendarat di Pura Dalam (Pelabuhan Karawang). Budi luhur dan ajaran Islam yang praktis telah membuat penduduk setempat banyak yang memeluk Islam.

Raja Anggalarang mengutus anaknya Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) untuk mengusir Syeikh Quro dan menutup pasantrennya. Namun tatkala putera mahkota ini tiba ditempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu pembaca ayat-ayat suci Al Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang.

Putra Mahkota Pamanah Rasa yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang yang cantik itu. Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyi santri dengan syarat maskawinnya harus "Bintang Saketi jejer seratus " yaitu simbol dari "tasbih" yang berada di Negeri Mekah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Dari keturunan mereka akan lahir para ulama penyebar Islam yang terkenal di Tatar Sunda. Seperti Cakrabuana raja Cirebon, Sunan Gunung Jati Wali songo, Maulana Hasanudin penguasa Banten dll.

Ada juga naskah tradisional (Babad Banten dan Babad Cirebon) yang menyebutkan tentang Syeikh Nurjati atau dikenal dengan nama Syeikh Datuk Kahfi dari Persia. Ia adalah ulama yang datang setelah Syeih Quro. Berdakwah di kampung Pasambangan. Beberapa diantara muridnya adalah anak Prabu Siliwangi yaitu pangeran Cakrabuana Raden Walasungsang beserta istrinya dan adiknya Nyi Mas rara santang.

Diceritakan saat Pangeran Walasungsang beserta istri dan adiknya (Nyi Mas Rara Santang) Menunaikan haji. Disana Nyi Mas Rara Santang menikah dengan penguasa Mesir dan Palestina, Syarif Abdullah Umdatuddin. Yang kelak nantinya akan melahirkan ulama besar yang bernama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Tertulis dalam naskah Mertasinga Pupuh 1-05 sampai dengan ii.04.

Sejarah Penyebaran Islam Secara Politis

Diriwayatkan secara masyhur bahwa dakwah politis Islam di Tatar Sunda bermula di Cirebon. Kesultanan Cirebon di bawah pengaturan Kesultanan Demak bersama Wali Songo, telah menggantikan kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu. Secara khusus dakwah diamanahkan pada Sunan Gunung Jati dibantu oleh pamannya, Pangeran Cakrabuana (Pendiri kerajaan Cirebon yang masih berada dibawah kerajaan Galuh (1430)).

Setelah Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati (anak pangeran Cakrabuana). Kekuasaan kerajaan Cirebon berpindah pada Sunan Gunung Jati (1479). Lalu pada tahun 1482, Sunan Gunung Jati memerdekakan diri dari Pajajaran setelah Prabu Siliwangi (kakeknya) naik tahta di Sunda dan menggabungkan Sunda Galuh menjadi Pajajaran yang beribukota di pakuan bogor.

Pada tahun 1479, Kesultanan Demak memproklamasikan diri sebagai Darul Islam Pertama di Jawa. Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatul ing Tanah Jawa (Perwakilan raja yang berbaiat langsung pada Khalifah). Hal ini diungkapkan oleh Sri Sultan Hamang Kubuwono X pada pembukaan kongres KUlI VI di Jogjakarta tahun 2015.

Pada tahun 1515, Kesultanan Cirebon bergabung dengan Kesultanan Demak. Saat itulah Sunan Gunung Jati dibantu oleh kerajaan Demak untuk mengIslamkan seluruh tanah Sunda. Perjalanan dakwahnya hampir tak menemui konflik berarti. Karena dibantu pamanya Cakrabuana dan didukung kakeknya Prabu Siliwangi.

Pro Kontra terkait keIslaman Prabu Siliwangi memang ada. Ada yang mengatakan Raden Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi berIslam dulu agar bisa menikah dengan Nyi Subang Larang, lalu kembali kafir. Ada juga yang meriwayatkan keIslamannya tetap hingga wafatnya. Namun seperti halnya Raja Habsyah di masa Rasulullah Saw. Ia berIslam namun keIslamannya tidak diketahui orang dan tidak menjadikan agama Islam sebagai agama Kerajaan. Namun fakta sejarah bahwa Prabu Siliwangi tak menghalangi anak-anaknya berdakwah, tak ada perdebatan disana.

Pada saat Prabu Siliwangi wafat dan digantikan putranya Pangeran Surawisesa yang beragama Hindu, Pajajaran pun melakukan kerjasama dengan Portugis. Pajajaran menyerahkan Sunda Kelapa dengan membolehkannya membangun benteng di Sunda. Dengan syarat Portugis harus meberikan bantuan militer pada Pajajaran.

Pada saat itulah, tahun 1526. Kerajaan Cirebon dibantu Demak menyerang Pajajaran. Sedikit demi sedikit wilayah Pajajaran berkurang. Sisa wilayah Pajajaran ditaklukan oleh Maulan Hasanudin, anak Sunan Gunung Jati yang menjadi Raja Banten. Pada tahun 1579 kekuasaan Pajajaran berakhir dan hampir seluruh tatar Sunda dikuasai kerajaan Islam.

Pola Dakwah Sunan Gunung Jati Bentuk Ittiba terhadap Rasulullah

Sunan Gunung Jati adalah salah satu walisongo yang kiprahnya begitu besar dalam memahakan masyarakat Sunda dengan Islam. Tak hanya sebagai ulama, Sunan Gunung Jati pun adalah seorang raja alias pemimpin negara. Kepiawainnya dalam mengatur urusan negara dan kefaqihannya dalam ilmu agama membuat dirinya diberi gelar Inkang Sinuhun Kanjeng Susun an Jati Purba Wisesa, Panetep Gama Aulia Allahu Khalifatur Rosu lillahi Salallahualaihiwasalam. (gelar yang sama dengan gelar yg digunakan sayidina Abu Bakar radhiyyallahu ‘anhu setelah menerima dari kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam)

Selama masa pemerintahannya, Cirebon mengalami zaman keemasan. Wilayahnya dengan cepat terus merambah hingga meliputi seluruh Jawa Barat, lampung, Jakarta, dan Banten (1479-1683 M). Inilah yang dinamakan dakwah politis, dengan kekuatan negara dakwah bisa menyebar dengan cepatnya di Tatar Sunda.

Maka, sudah bisa dipastikan bahwa dakwah Sunan Gunung Jati mengikuti pola dakwah Rasulullah SAW. Bukti-buktinya adalah:

Pertama, Dakwah politik yang ditandai dengan memperbaiki struktur pemerintahan. Pertama memerdekakan diri dari kerajaan Pajajaran lalu merubah sistem pemerintahan/ketatanegaraan kerajaan menjadi kesultanan. Artinya disini, ada perubahan dari sistem bukan Islam ke sistem Islam, termasuk sistem pemerintahannya mengacu pada Rasulullah Saw. Setelah itu bergabung dengan Kesultanan Demak yang telah mendeklarasikan diri sebagai Kesultanan Islam pertama di tanah Jawa.

Di tahun pertama pengangkatannya, langkah politis sebagai kepala negara, Sunan Gunung Jati berkunjung ke Kerajaan Pajajaran guna memperkenalkan Islam dan mengajak penguasanya memeluk Islam. Ada juga yang meriwayatkan meminta restu dari sang kakek untuk menyebarkan Islam.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Sunan Gunung Jati selalu mengutamakan langkah yang bermanfaat dan menghindari yang mudorot. Terlihat dari kebijakannya yang lebih mendahulukan kepentingan umum dan rakyat kecil daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Hal demikian hanya ditemukan di dalam karakter kepemimpinan Islam. Karena sebelumnya, Kerajaan Pajajaran yang menerapkan sistem kasta, telah menjadikan kepentingan keluarga Raja di atas segalanya.

Selanjutnya, dakwah politis Sunan Gunung Jati dengan pendekatan kultural adalah terjalinnya silaturahmi dengan melakukan pernikahan antar suku. Misalnya pernikahan Sunan Gunung Jati dengan anak penguasa Banten, yang nantinya lahir Maulana Hasanudin yang merupakan sultan pertama Banten.

Begitupun hubungan dengan Demak terjalin karena Maulana Hasanudin menikahi salah seorang putri sultan Trenggono (Raja Demak Ketiga) dan anak-anak Sunan Gunung Jati lainnya pun banyak yang menikah dengan keturunan Demak. Sehingga kekeluargaan Cirebon dan Demak begitu erat. Bukan hanya hubungan pernikahan, lebih dari itu yang paling kuat adalah hubungan aqidah.

Maka dari itu, setelah Demak mulai menyalahi Islam, Cirebon pun menyatakan mandiri. Saat itulah persaingan antar kekuasaan muncul. Hingga yang tersisa adalah kesultanan Banten di Sunda. Dan kesultanan Mataram di Jawa, sebagai Kesultanan Islam terakhir di tanah Jawa. Namun, walaupun demikan sikap seluruh kesultanan terhadap para penjajah eropa sama, mereka berjuang melepaskan dominasi para penjajah.

Kedua, Kesultanan Cirebon melakukan dakwah dengan berjihad hingga kekuasaanya mampu menguasai seluruh Jawa Barat, termasuk Banten dan Sunda Kelapa, juga Lampung. Jihad fi sabililah untuk menghilangkan penghalang fisik bagi dakwah di masyarakat berapakali terjadi di masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati. Pertama pembebasan Kerajaan Galuh yang berakhir dengan takluknya Pajajaran timur, Majalengka hingga ciamis, bahkan Brebes. Kedua Pembebasan Sunda Kelapa (Jakarta, Pelabuhan Penting Pajajaran). Ketiga Kerajaan Banten dengan Pakuan (Bogor, Ibukota Pajajaran) dll.

Ketiga, Memperbaiki sistem ekonomi yang berlaku. Yaitu dengan pemberdayaan rakyat, memberikan keterampilan pembuatan kerajinan untuk meningkatkan ekonomi rakyat. Memperhatikan rakyat jelata. Menghentikan upeti.

Sunan Gunung Jati mengubah aturan bulu bekti (pajak) menjadi atur bekti (zakat/infak/shadaqoh). Kebijakan sang sultan untuk menghentikan pengiriman garam dan terasi sebagai upeti (pajak) ke Pajajaran juga diterapkan di Cirebon. Dan ini adalah ciri khas dalam Islam rakyat tak dibebani upeti/pajak.

Keempat, Begitupun sistem hukum yang berlaku, hukum kesultanan Cirebon mengikuti Demak. Adapun rumusan hukum kesultanan Demak Bintaro disusun oleh Sultan dan para wali berdasarkan fiqih Islam mazhab syafii. Diantara yang disebutkan sebagai kitab hukum ialah Salokantara, Jugul Muda, Serat Suryangalam dan Seret Angger-Angger Suryangalam. Kitab-kitab tersebut menjadi rujukan bagi Cirebon, Pajang dan Mataram.

Kelima, Memperbaiki sistem sosial dan budaya. Sistem kasta dihilangkan dan sentimen terhadap jawa hilang dari benak masyarakat sunda. Buktinya unsur jawa yang dibawa Cirebon, Banten dan Mataram diterima sebagai budaya yang melengkapi adat yang sudah berlaku dan membuang adat yang tak sesuai syariat.

Keenam, selain berdakwah kepada masyarakat, Sunan Gunung Jati pun melakukan Thalabul Nusroh. Terbukti para pemegang kekuasaan banyak yang memeluk Islam. Seperti RH Muhamad Yusup bin Djajanegara atau dikenal sebagai Baing Yusuf (1820) yang merupakan anak dari Kanjeng Raden Aria Djajanegara, Bupati Bogor. Masih keturunan Trah Pajajaran. Baing Yusuf pun berguru langsung pada Pangeran Diponegoro. Hingga Purwakarta pernah menjadi sentra logistik beras dan teh pada masa kesultanan Mataram.

Deislamisasi Sistematis Saat Masuknya Penjajah

Portugis sudah mendarat di Sunda pada tahun 1509, dilanjutkan oleh sepanyol. Pada tahun 1596 Belanda sampai ke Jawa dan mendarat di Banten. Namun masih sebatas berdagang. Setelah itu Belanda mendirikan VOC, sebuah kongsi dagang internasioanal. Sultan Banten Ageng tirtayasa adalah raja yang paling tersohor atas pertarungannya dengan VOC, namun pada tahun 1683 Banten takluk dibawah VOC.

Surutnya Kharisma dan kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam berganti dengan dominasi ekonomi, politik dan militer Eropa. Pada masa ini mulai ada usaha deIslamisasi secara masif yang dilakukan Belanda melalui gerakan, baik sosial, politik maupun budaya.

Gerakan deIslamisasi politik dilakukan dengan cara tidak memberlakukan kembali sistem perundang-undangan berdasarkan syariat Islam, yang telah diterapkan oleh kerajaan-kerajaan Islam, termasuk Banten dan Cirebon.

Secara sosial, usaha-usaha kristenisasi begitu agresif dilakukan diwilayah-wilayah mayoritas muslim. Melalui kebudayaan pun, timbul usaha-usaha untuk memisahkan Islam dari kebudayaan lokal. Dengan dalih “melestarikan “ budaya lokal, kebudayaan dahulu sebelum Islam datang dibentur-benturkan dengan ajaran Islam. Namun proses ini tidak terlalu berhasil mempengaruhi masyarakat Sunda.

Kesimpulan

Maka sudah bisa dipastikan pergerakan dakwah di tatar Sunda tak bisa dilepaskan dari penyebaran Islam dari pusat kejayaanya, yaitu kekhilafahan. Dominasi barat yang terjadi setelah masa kejayaan para sultan telah menguburkan dan mengaburkan sejarah akan kejayaan Islam itu sendiri. Bisa terlihat dari hilangnya pembahasan secara rinci mengenai perjuangan para sultan dan jaringan ulama dalam kiprah dakwahnya.

Maka dari itu, mari kita rewriting dan retelling tentang sejarah agama kita. Karena sesungguhnya, keberadaan Khilafah adalah bagian terpenting dari sejarah negeri ini dalam menemukan keluhuran peradabannya.

Selain itu, mari kita ikuti dakwah para pendahulu kita. Para walisongo dan para Sultan yang dengan gigihnya menyebarkan Islam di tanah Sunda. Maka kita akan mendapati bahwa para ulama terdahulu bisa berhasil membumikan Islam dengan metode yang jelas sesuai ajaran Rasulullah Saw. Yaitu Dakwah Politis demi terwujudnya hukum Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

Karena Islam dengan Khilafahnya telah terbukti mampu mewujudkan peradaban tinggi serta memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan yang hakiki bagi ummat manusia. Bukan hanya muslim tapi juga non muslim. Lalu mengapa kita harus takut dengan Khilafah ?

Sumber:
- Ummu Aiman “Sejarah Islam di Tatar Sunda”
- Kanti Rahmillah “Islam di Tatar Sunda”
- Ahmad Abdurahman Al Khaddami “Dakwah dan Pengaruh Islam di Tatar Sunda"
- Dr. Tiar Anwar Bachtiar “Sunda teh Islam, Islam teh Sunda”
- Dr. Chye Retty Isnendes “Islam, Khilafah, Sunda (Tinjauan Sejarah dan Budaya Sunda)”

0 Response to "Sejarah dan Dakwah Islam di Tatar Sunda"

Post a Comment