-->

Pesta G4y Jakarta, Waspadai Ekspor Penyakit Kaum Luth ke Indonesia

  Penulis : Pipit Agustin (Koordinator JEJAK)

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menggerebek pesta seks komunitas homoseksual pada Sabtu, 29 Agustus 2020. Kepolisian mendapat informasi sehari sebelumnya, dan penggerebekan dilakukan dinihari.

Dalam penggerebekan di apartemen Kuningan Suites Jakarta Selatan, polisi menahan 9 orang tersangka sebagai penyelenggara pesta dan 47 orang berstatus saksi.

Para tersangka penyelenggara pesta gay itu dijerat tindak pidana barang siapa yang mata pencaharian atau kebiasaannya dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain, dan atau melanggar UU Pornografi. Pasal yang disangkakan yaitu pasal 296 KUHP dan atau Pasal 33 juncto Pasal 7, dan atau Pasal 36 juncto pasal 10 UU No. 44 Tahun 2008.

Mirisnya, pesta gay tersebut dilakukan di tengah kondisi pandemi Corona yang sedang tinggi-tingginya di DKI Jakarta. Berdasarkan informasi dari Satgas Penanganan COVID-19, Selasa (1/9), DKI Jakarta menjadi provinsi terbanyak penambahan kasus Corona, yakni 901 kasus. Disusul Jawa Timur dengan 350 kasus.

Nampaknya LGBT di era modern ini seolah sudah menjadi problem abadi lantaran ada rantai demand abadi. Yaitu individu atau kelompok masyarakat hedonis dalam peradaban sekuler seperti sekarang. Penyelenggaraan pesta asusila gay terus eksis karena sistem nilai liberal sekuler begitu kencang menghembuskan ide kebebasan ekstrem di masyarakat. Sistem sekuler telah menebarkan kesenangan dunia tipe hewani akibat dehumanisasi yang mewabah di mana-mana. Masyarakat permisif, hedonis, berpadu dengan atmosfer ekonomi kapitalistik telah memelihara rantai demand tindak asusila gay. Terbukti dari hasil penelusuran pihak kepolisian, bahwa motif pelaku pesta gay adalah kesenangan.

Inilah buah nyata sekularisme radikal yang telah melahirkan manusia rusak mental, kosong spiritual, gagal mendefinisikan kebahagiaan hidup. Mereka terjerumus dalam kubangan dosa tanpa rasa bersalah dan terus berulang-ulang. Terbukti acara serupa telah berlangsung enam kali di Jakarta. Ini baru dari satu kelompok yang tertangkap. Yang belum tersentuh hukum, dipastikan tak kalah mengerikan.

Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi pilihan lokasi penyelenggaraan pesta asusila. Ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah. Betapa pembangunan infrastruktur dan industri yang membabi-buta ala kapitalisme justru menjadi tempat nyaman bagi praktik asusila gay. Kapitalisme gagal membangun sumber daya manusia sehingga manusianya hampa.

Sementara itu, keberhasilan pihak berwenang dalam mengungkap kasus ini memang patut diapresiasi. Namun, terus terulangnya kasus serupa menjadi PR besar bagi semua. What's wrong?

Bila dicermati, persoalannya bukan hanya soal sistem hukum dan sanksi yang tak membuat jera sehingga harus diperbaiki, melainkan sistem nilai dan tata nilai kehidupan yang membangun masyarakat kitalah yang harus diganti.

Karena itu, masyarakat Jakarta dan Indonesia secara umum perlu memahami akar persoalan ini. Ekspor penyakit Kaum Luth yang telah memapar negeri Muslim terbesar Indonesia adalah sinyal bahaya. Masyarakat harus disadarkan bahwa pangkal semua ini adalah bercokolnya sekularisme, prinsip yang memisahkan agama dari kehidupan. Masyarakat tidak lagi resisten terhadap azab dan dosa.

/ Islam Sebagai Ganti Sekularisme /

Mengganti sistem nilai di masyarakat memang tidak mudah, tetapi sangat bisa. Kuncinya ada pada kesadaran. Kampanye massif sekularisme liberal harus dilawan dengan penderasan visi Islam. Konsep Islam begitu humanis. Seluruh syariat Islam diturunkan untuk menciptakan keteraturan, selaras dengan penciptaan manusia itu sendiri terutama dalam hal pelestarian keturunan.

Karenanya, pertama, harus ada edukasi ke tengah-tengah masyarakat bahwa LGBT dilarang Allah sebab menyalahi fitrah insaniah dalam melestarikan jenisnya.

Allah SWT berfirman:

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (TQS. An-Nisa: 1)

Kedua, merekonstruksi amar ma'ruf nahi munkar dalam masyarakat. Bentuk kepedulian yang paling tepat terhadap para pelaku homoseksual adalah dengan menyadarkannya kemudian mensupport mereka agar bisa sembuh dan kembali hidup sesuai kodratnya. Bukan dengan pembenaran atas nama HAM. Islam membebankan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar pada setiap Muslim dan Mukmin yang fungsinya sebagai imunitas masyarakat guna mencegah merebaknya penyakit sosial.

Ketiga, menyadarkan masyarakat bahwa ide-ide Barat tentang HAM dan kebebasan yang menjadi landasan kebolehan LGBT adalah ide batil dan berbahaya bagi manusia itu sendiri. Kesenangan mereka telah melanggar tanggung jawab sosial dan menyebabkan hilangnya rasa peduli akan kemashlahatan orang banyak dan generasi yang akan datang.

Keempat, menyeru penguasa negeri-negeri Muslim agar bersatu mengemban visi politik Islam dalam sebuah Institusi Khilafah. Karena inilah otoritas yang kredibel dalam menjaga kehormatan generasi Islam dalam keluhuran martabat kemanusiaan. Khilafahlah satu-satunya institusi yang mampu mencegah berkembangnya perilaku hewani seperti LGBT, bukan yang lain. Wallahua'lam bish-shawab

0 Response to "Pesta G4y Jakarta, Waspadai Ekspor Penyakit Kaum Luth ke Indonesia"

Post a Comment