-->

PDIP SUMBAR MUNDUR PILGUB ? SAKITNYA TUH DIMANA YA ?

 

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Buntut pernyataan Puan Maharani terkait harapan agar masyarakat Sumatera Barat mendukung Negara Pancasila belum tuntas. Setelah pasangan Calon Kepala Daerah (Cakada) Mulyadi-Ali Mukhni mengembalikan dukungan PDIP, sekarang internal di DPD PDIP Sumbar juga turut bersuara.

Pengurus DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sumbar menggelar pertemuan pada Sabtu (5/9), dan hasil rapat memutuskan PDIP Sumbar tidak mengikuti proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumbar 2020. Apalagi, saat ini tahapan pilkada telah memasuki masa pendaftaran pasangan calon dan berakhir Minggu (6/9).

Keputusan ini, bagi partai politik jelas keputusan yang sangat pahit lebih pahit daripada empedu. Mengingat, tidak terlibat berarti tidak akan mendapatkan komitmen kue kekuasaan. Padahal, partai politik didirikan dengan tujuan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Meskipun keputusan ini menunggu otorisasi dari DPP PDIP di Jakarta, dipastikan apapun keputusan DPP PDIP tidak akan berpengaruh terhadap nasib dan posisi konstelasi politik DPD PDIP Sumbar. Baik DPP PDIP menyetujui atau menolak hasil rapat DPD PDIP Sumbar, keputusannya tak akan mengubah posisi Cakada Mulyadi-Ali Mukhni yang telah mengembalikan dukungan dari PDIP.

Itu artinya, dengan kekuatan PAN dan Demokrat, pasangan Cakada Mulyadi-Ali Mukhni dapat melaju ke Pilgub Sumbar dan ada potensi masih bisa menyelamatkan diri dari tergerusnya elektabilitas pasangan tersebut akibat 'Puan Effect'. Tidak bisa ditampik, kekeliruan komunikasi Puan Maharani merubah konstelasi politik Pilgub Sumbar dan menghancurkan mimpi DPD PDIP Sumbar.

Namun, alih-alih menginsyafi kekeliruan petinggi partainya Puan Maharani, Ketua DPD PDIP Sumbar Alex Indra Lukman menyebut keputusan diambil tak lepas dari buruknya kualitas komunikasi politik Mulyadi dan Ali Mukhni pasca pro-kontra pernyataan Puan Maharani. Padahal, secara politik adalah sangat wajar respons Cakada Mulyadi-Ali Mukhni yang mengembalikan dukungan PDIP sebab dampak dari 'Puan Effect' memang sangat berbahaya bagi elektabilitasnya sebagai Cakada.

Adapun teknis pengembalian dukungan yang dikeluhkan oleh Alex yang semestinya 'Datang Tampak Muka Pulang Tampak Punggung' adalah hal yang biasa apalagi dalam situasi Pandemi. Siapapun Cakada dalam posisi ini, pasti akan mengambil langkah serupa yakni mengembalikan dukungan PDIP.

Isu sensitif apalagi terjadi di daerah yang mayoritas masyarakatnya sangat kritis, akan berdampak pada 'Pengadilan Politik' oleh masyarakat Sumbar yang vonisnya bisa berupa pesan untuk mengalahkan Cakada yang didukung oleh PDIP. Pasangan Cakada Mulyadi-Ali Mukhni sangat paham watak dan kultur masyarakat Minang.

Belum lagi, sosial media telah melambungkan interaksi masyarakat nasional untuk Turut serta menghakimi PDIP. Pasangan Cakada yang didukung PDIP bukan hanya menghadapi lawan Cakada lainnya, masyarakat Sumbar tetapi juga suara masyarakat nasional.

Terbukti, di Jakarta Puan Maharani dilaporkan ke Mabes Polri. Meskipun laporan ditolak, namun adanya laporan ini merupakan konfirmasi adanya perlawanan umum dari masyarakat nasional baik berlatar belakang masyarakat Minang atau siapapun yang bosan dengan jargon politik 'aku Pancasila'.

Nampaknya peristiwa ini akan menimbulkan luka politik yang cukup dalam. Secara kasat mata, peristiwa ini jelas membuat PDIP khususnya DPD PDIP Sumbar merasa sakit. Namun, mungkin saja masih ada pihak yang bertanya, dan ini pertanyaan yang wajar : sakitnya tuh dimana ? [].

0 Response to "PDIP SUMBAR MUNDUR PILGUB ? SAKITNYA TUH DIMANA YA ?"

Post a Comment