-->

LIMA INDIKASI ORANG YANG MENJUAL AYAT DENGAN HARGA MURAH

 

Oleh : Dr. Moeflich Hasbullah

Dalam Al-Qur’an, beberapa kali Allah memperingatkan kaum Muslimin tentang larangan menjual ayat dengan harga murah: “… tasytarû biâyâti tsamanan qalîlâ” (menjual/menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah). Allah sangat murka dengan perilaku menjual ayat secara murah ini dan Allah mengancamnya dengan siksa yang keras di akhirat kelak. Mengapa diancam siksa-Nya? Karena itu sama dengan merendahkan-Nya dan merendahkan Al-Qur’an yang Agung. “Menjual ayat dengan harga murah” selama ini, belum ada yang menjelaskan ciri-cirinya secara konkrit, rinci dan jelas, mungkin juga dalam kitab-kitab tafsir. Apa sajakah indikasi “menjual ayat dengan harga murah?” Inilah ciri-cirinya.

Pertama, Menyediakan ayat untuk tujuan salah

Menyediakan disini ada tiga pengetian: Pertama, menyediakan atau memberitahu ayat untuk kepentingan orang tanpa mengetahui untuk apa penggunaannya. Padahal, mungkin seseorang ingin mengetahui sebuah ayat untuk tujuan yang salah. Kedua, menyediakan ayat-ayat Qur’an dalam berbagai kesempatan untuk kepentingan materi dan uang termasuk ceramah agama dengan memasang tarif honor. Kalau tidak memenuhi tarif yang dipasang, ia tidak mau. Ada penceramah yang berkelakar: "Ayat yang saya bacakan ya tergantung amplop," sambil tertawa. Ceramah agama yang niat utamanya karena honor, bukan berdakwah lillâhi ta’âla, termasuk menjual ayat. Inilah makna pertama “menjual ayat dengan harga murah.”

Ketiga, adalah mengungkapkan ayat untuk melegitimasi tindakan, pikiran, situasi dan persoalan seseorang dengan tidak melihat benar salahnya. Pokoknya, agar simpatik, pembicaraan orang walaupun salah didukung dengan ayat Al-Qur’an. Ini adalah perilaku yang dimaksudkan Al-Qur’an: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”

Kedua, Menjelaskan ayat secara samar-samar

Ciri kedua perilaku “menjual ayat” adalah mengutip atau menyebutkan sebuah ayat Al-Qur’an secara samar-samar demi menyenangkan hadirin atau agar orang tidak tersinggung. Arti yang “sebenarnya” disembunyikan, agar enak kedengarannya, agar mendapat simpatik. “Tasytaru” (menjual/menukarkan) adalah perilaku memilih-milih ayat Al-Qur’an dalam berdakwah atau dalam berkomunikasi. Agar tidak menyinggung orang dipilihlah ayat-ayat yang lunak, yang menghibur dan menyenangkan, sementara ayat-ayat yang terdengar keras, pahit dan isinya ancaman Allah tidak diungkapkan. Dengan begitu, ia tetap laris dan disukai orang lain sebagai mubaligh.

Tasytaru” juga bermakna melegitimasi tindakan, pikiran, situasi dan persoalan seseorang dengan ayat Qur’an tanpa melihat benar salahnya. Pokoknya, agar simpatik, pembicaraan orang (biasanya pemimpin, penguasa, orang bepengaruh atau teman) kita dukung dengan ayat Al-Qur’an. Ini adalah bentuk perilaku menjual ayat dengan harga murah. Ayat Al-Qur’an yang agung dan luhur kita suguhkan tapi dipilih-pilih yang menyenangkannya saja. Akhirnya, benar-benar harga murah atau kerendahan derajatlah yang kita dapatkan yaitu kesenangan orang, pujian orang kepada kita dan sebutan orang bahwa kita ustadz yang bijak dan sebagainya.

Padahal kebenaran dalam Al-Qur’an harus ditunjukkan dan diikuti tanpa pilih-pilih, kecuali pertimbangan ketepatan situasi bukan selera dan kepentingan duniawi. Inilah makna kedua yang dimaksudkan Al-Qur’an: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

Ketiga, Menyampaikan kebenaran tidak tegas

Makna ketiga “menjual ayat denga harga murah” adalah menyatakan kebenaran dengan tidak tegas agar tidak terdengar galak. Menyampaikan kebenaran dengan diplomatis dan bijaksana itu perlu dalam konteks tertentu tapi tidak dengan menghindari ketegasan, kebenaran dan menyembunyikan ancaman Allah. Kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak ada yang disembunyikan. Menyampaikan kebenaran tidak boleh takut resiko, kalau takut resiko ya jangan berdakwah, itu artinya belum siap. Dakwah menyeru kepada kebenaran adalah perilaku luhur dan mulia, tapi tentu ada resikonya. Nabi saja banyak yang membencinya apalagi manusia biasa.

Seorang penyeru kebenaran (da’i) harus lebih takut kepada Allah ketimbang takut pada manusia. Dalam menyampaikan kebenaran, yang dituju semata-mata ridha Allah bukan simpati manusia. Rasulullah SAW mengingatkan: “Qulil haqqa walau kâna murran” (sampaikanlah kebenaran walaupun terasa pahit). Orang yang memilih ayat yang lunak-lunak, yang lembut, agar mendapat simpati, agar ceramahnya dipakai lagi, agar tetap laku sebagai ustadz, adalah perilaku “menjual ayat dengan murah” yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Keempat, Tidak mau mengingatkan dan menyampaikan kebenaran

Ini adalah indikasi keempat dari orang yang menjual ayat dengan harga murah. Ia tidak mau, jarang bahkan tidak pernah mengingatkan orang, menolak menyampaikan kebenaran yang ia tahu karena tidak biasa, merasa kagok, segan, atau takut tidak diberi jabatan dan kedudukan dll. Tahu kebenaran tapi tidak menyampaikan. Ini pun termasuk menjual ayat dengan harga yang sedikit atau murah. Perasaan takut menyinggung dan “tidak enak” (yang tidak proporsional) lebih diikuti daripada menyampaikan kebenaran. Ini termasuk indikasi menjual ayat dengan harga murah. Menukarkan yang mahal (memberikan nasehat kebenaran) dengan yang murah (pertemanan, persahabatan atau relasi yang tidak saling mengingatkan). Seharusnya, bila tak mampu mengingatkan (adh’âful îman), hindari, jangan bergaul dengan orang yang perlu diingatkan tapi kita tidak mampu. Pertemanan dan persahabatan itu akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat. (Kitab Paradigma Hikmah Lima)

Kelima, Tidak mau belajar ilmu agama

Ini adalah orang-orang tidak punya pengetahuan agama untuk meluruskan orang lain berbuat salah dan keliru. Ia biarkan semua, ia maklumi, karena ia sendiri memang tidak punya pengetahuan agama untuk menegurnya. Apalagi bila sama-sama sebagai pelaku keburukan, pemelihara kesalahan dan dosa. Ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar menurut agama. Orang seperti ini mengaku Muslim tapi tidak pernah mau belajar agama dan bila sengaja tidak mau belajar agama termasuk kepada “menjual ayat dengan harga murah” karena ia lebih memilih yang murah yaitu kebodohannya, ketaktahuan agamanya dan ketakmampuan saling menegur dan memberikan nasehat dalam pergaulannya.***

(Kitab Paradigma Hikmah Lima)

0 Response to "LIMA INDIKASI ORANG YANG MENJUAL AYAT DENGAN HARGA MURAH"

Post a Comment