-->

Jejak Khilafah di Tatar Sunda

  Oleh: Wity (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Semakin dibendung, semakin kuat arusnya. Begitulah opini Khilafah. Meski ada pihak-pihak yang berusaha mengubur dan mengaburkan sejarah Khilafah, ketertarikan masyakat terhadapnya justru semakin kuat.

Pada Minggu (6/9), telah berlangsung sebuah Kajian Webinar Islam Kaffah. Webinar yang diikuti oleh tokoh-tokoh Muslimah Se-Purwasuka (Purwakarta, Subang, dan Karawang) ini mengupas tentang Jejak Islam di Tatar Sunda. Kedua pembicara, yaitu Ustazah Kanti Rahmillah, M.Si (Penulis Buku Fiksi Sejarah) dan Hj. Sudjati Rachmini (Mubalighah dan Pengamat Sejarah Islam), dengan gamblang menguak jejak-jejak Khilafah di Tatar Sunda.

Berikut adalah ringkasan materi yang berhasil dirangkum dari kajian tersebut.

Sebelum Islam datang, kehidupan masyrakat di Tatar Sunda amat rumit. Mayoritas rakyatnya masih menganut agama Hindu, sebagian lainnya menganut agama Budha, agama Saura, Sunda Wiwitan dan lain sebagainya yang semuanya terasimilasi. Dari aspek budaya, masyarakatnya banyak terwarnai oleh kebudayaan Hindu, seperti tradisi Seren Taun, Ngaruat Batara Kala (memanggil roh untuk kesehatan), persembahan ribuan sapi untuk golongan Brahmana, dan sebagainya. Dari sistem social, Tatar Sunda kala itu masih berkasta-kasta. Masyarakat dibedakan menjadi empat kasta, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tak hanya itu, sebelum Islam datang terjadi permusuhan antara Sunda dan Jawa yang memunculkan sentiment anti Jawa di kalangan Sunda.

Ketika Islam datang, segalanya berubah. Sistem kasta dihapuskan, Jawa dan Sunda dipersatukan, agama asimilasi, kebudayaan sirik, dan sebagainya dihilangkan. Sungguh, Islam menjadi nur (cahaya) yang menerangi kegelapan di Tatar Sunda. Islam pun menjadi nar (api) yang membakar kebudayaan-kebudayaan kufur.

Jejak-jejak Khilafah di Tatar Sunda

Masuknya Islam ke Tatar Sunda tak bisa lepas dari sejarah masuknya Islam di Nusantara. Pada abad ketujuh Masehi, Islam datang ke Nusantara. Artinya, Islam memasuki Nusantara pada masa Bani Umayyah. Dibawa oleh para musafir Arab yang memiliki semangat menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia (dakwah).

Bukti-bukti yang menunjukan adanya hubungan antara Khilafah dengan Nusantara diantaranya adalah surat kabar Republika pada tahun 2018 pernah mempublis penemuan surat dari Sri Indra Warman, Raja Sriwijaya yang ditujukan kepada Khalifah Abdul Aziz yang isinya meminta dikirimkan guru untuk mengajarkan Islam. Selain itu, adanya perkampungan Islam khas Dinasti Umayyah yang berada di Pantai Timur Sumatera pada abad tujuh Masehi. Penggunaan gelar Al-Malik –yang umumnya dijumpai di Mesir-- oleh para raja di Samudera Pasai pun tak lepas dari pengaruh kekhilafahan.

Adapun jejak-jejak Khilafah di Tatar Sunda dapat kita lihat dari aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati. Dakwah beliau bukan sekedar dakwah individu, melainkan dakwah politis. Beliau tak hanya seorang ulama, tapi juga seorang raja, pemimpin negara hingga mendapat gelar Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Jati Purba Wisesa, Panetep Panata Gama Aulia Allahu Khalifatur Rosulillahi Salallahualaihiwassalam.

Selama masa pemerintahannya, Cirebon mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon kala itu meliputi seluruh Jawa Barat, Jakarta, dan Banten. Hal ini tidak lepas dari peran dakwah Islam. Pada tahun pertama pengangkatannya, Sunan Gunung Jati berkunjung ke Kerajaan Pajajaran guna memperkenalkan diri dan mengajak penguasanya memeluk Islam. Beliau pun menyatakan kemerdekaan Kerajaan Cirebon dari Kerajaan Pajajaran.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Sunan Gunung Jati selalu mengutamakan kepentingan umum dan rakyat kecil daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Beliau juga selalu menjungjung nilai-nilai keadilan dan universalisme di dalam masyarakat. Kedamaian dan ketentraman rakyat pun selalu mendapat prioritas utama dalam masa pemerintahannya. Hal ini menunjukan sifat kepemimpinan Islam.

Aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati dan karakteristik kepemimpinan Islam yang dijalankannya menunjukan adanya hubungan Islam di Tatar Sunda dengan kekhilafahan. Sayang, kemunculan para penjajah dari Eropa memporak-porandakan segalanya. Kehadirannya tak hanya mengambil alih kekuasaan dan sumber daya alam di Nusantara, melainkan juga mengambil alih ingatan yang dimiliki rakyatnya. Ingatan rakyat tentang Kepemimpinan Islam, tentang Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah.

Hingga saat ini jejak-jejak Khilafah, baik di Tatar Sunda, di Nusantara, bahkan di dunia terus dikubur dan dikaburkan dari ingatan umat Islam. Jikapun ada jejak, meski samar, maka akan dimonsterisasi.

Nina H. Lubis dalam Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat mengungkapkan bahwa, “Orang sering mengatakan bahwa Sunda itu Islam dan Islam itu Sunda. Agak aneh bila orang Sunda beragama bukan Islam”.

Bukankah lebih aneh bila orang Islam menolak Khilafah? []

0 Response to "Jejak Khilafah di Tatar Sunda"

Post a Comment