-->

Soal Citarum, Kepala DLHK Diminta Berhati-hati dalam Memberi Pernyataan


 

Rabu (6/8) siang kemarin, organisasi masyarakat Macan Citarum Indonesia (MCI) menggelar audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang terkait permasalahan dugaan pencemaran terhadap sungai citarum yang saat ini kondisinya berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau yang menyengat.

Wakil sekretaris jenderal DPP MCI Karawang, Iwan Portal Karsiwan mengungkapkan bahwa kedatangan pihaknya dengan ratusan anggota MCI, untuk mempertanyakan pernyataan kepala DLHK Kabupaten Karawang, Wawan Setiawan soal pengendapan sedimentasi yang menurut DLHK menjadi penyebab sungai citarum dalam keadaan kondisi seperti itu.

“Yang pertama terkait dengan statement-nya kepala DLHK yaitu pencemaran limbah warna hitam pekat dan bau di sungai citarum itu dikarenakan adanya pengerukan di wilayah Walahar, tapi setelah dikroscek ke lapangan tidak ada pengerukan yang langsung bercampur dengan lumpur atau limbah yang berwarna hitam,” kata Iwan menjelaskan.

Yang kedua, lanjutnya, soal pengendapan sedimentasi yang sudah bertahun-tahun.

“Ini tidak masuk logika kami, karena beberapa bulan yang lalu air citarum ini meluap karena musim hujan, endapan seperti itu dengan debit air yang besar pasti akan terbawa,” ungkapnya lagi.

Pria dengan panggilan akrab Iwan Portal ini pun meminta kepala dinas untuk berhati-hati dalam memberikan statement dan jeli dalam menganalisa suatu persoalan.

“Kita lihat selama satu minggu ini, masih ada atau tidak, kalau masih ada lagi itu murni pembuangan limbah itu dari perusahaan, tinggal bagaimana DLHK memastikan, meyakinkan sesungguhnya perusahaan mana yang membuang limbah seperti itu,” tegasnya.

MCI juga akan bertindak dengan memberikan surat terhadap perusahaan yang diduga mengeluarkan limbah, tujuannya agar lebih diperhatikan terkait persoalan limbah.

“Kalau mereka tidak memahami apa yang kami sampaikan, maka kami akan datang mengunjungi memberikan penjelasan. Ini persoalan Karawang, ini persoalan citarum,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala DLHK Kabupaten Karawang, Wawan Setiawan yang ditemui usai rapat bersama DPP MCI Karawang, di ruang rapat Wakil Bupati Karawang, menjelaskan statement atau pernyataan dirinya soal penyebab hitamnya sungai Citarum adalah berdasarkan hasil pantauannya di lapangan sama Tim Satgas Citarum.

“Karena di sektor 18 air Citarum itu kondisinya jernih seperti biasa, pas masuk sektor 19 saja air ini hitam sampai ke alun-alun kota. Kebetulan di Walahar ini ada pengerjaan pengerukan agar daya tampung Walahar ini semakin besar, dengan posisi meng-nol-kan, sehingga air mengering dengan daya dorong mengecil,” jelasnya.

Lalu kenapa kemudian masih ada air di sungai Citarum, kembali Wawan menjelaskan jika air itu berasal dari outfall buangan perusahaan disekitarnya.

“Karena itu pemahaman kami mah, seperti itu, akibat kecilnya daya dorong air dari Walahar dan besarnya outfall air dari perusahaan-perusahaan yang kemudian membuat sungai Citarum ini berwarna hitam,” ulasnya.

“Terlebih ketika kami turun kembali keesokan harinya bersama tim ahli dan Ketua Harian Tim Satgas Citarum, air itu memang keruh biasa, dan menguatkan dengan analisa, air yang kecil, sedimen yang terkena panas dan adanya limbah domestik,” papar Wawan lagi.

Termasuk juga soal banyaknya ikan yang mati, diterangkannya, pada saat pihaknya turun ke lokasi bersama pihak Satgas Citarum, tidak ditemukan ikan-ikan mati. Hanya melompat keudara.

“Tidak ada ikan mati, Hanya kondisi ikan itu ketika diperhatikan seperti ikan lumba-lumba , muncul melompat ke udara mencari oksigen. Kenapa demikian, kondisi air yang sedikit, sementara udara panas terik dan lumpur di bawah sungai mengendap sehingga air itu mengental dan mungkin hal itulah yang membuat ikan-ikan itu mati,” kata Wawan.

Dan saat ini, diungkapkannya, pihaknya sedang melakukan uji lab terhadap air sungai citarum tersebut, dengan mengambil 8 sampel air di sekitar sektor 18 dan 19. Di mana hasilnya akan keluar dalam waktu 12 hari kerja.

“Hasil lab ini setelah keluar nanti akan segera kami umumkan kepada masyarakat. Dan jika terbukti ada perusahaan yang memang membuang limbah industrinya ke sana kami akan berikan sanksi sesuai aturan. Yaitu sanksi administrasi,” jelasnya.

Mengapa hanya sanksi administrasi, karena ditandaskan Wawan, kewenangan DLHK yang diatur Undang-Undang seperti itu. Selebihnya untuk masalah action atau penutupan, itu adalah kewenangan Dansektor.

Selain menunggu hasil uji lab, solusi lainnya dalam penyelesaian masalah ini adalah DLHK dan Satgas dansektor 18 dan 19 akan membuka aliran air dari Walahar dalam kurun waktu 15 menit dengan harapan sedimentasi akan terdorong dan air sungai berwarna hitam itu ikut mengalir dan terbuang.

“Dansektor sudah berkomunikasi dengan pihak Walahar, dan mereka hanya memberikan waktu paling lama 15 menit saja,” pungkasnya. (nna/fzy/tvberita)

0 Response to "Soal Citarum, Kepala DLHK Diminta Berhati-hati dalam Memberi Pernyataan"

Post a Comment