-->

Selalu Rakyat Yang Salah, Ada Apa?


 


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih | Institut Literasi dan Peradaban

Presiden Jokowi meminta perubahan cara sosialisasi protokol Covid-19 yang dinilainya tak efektif bagi masyarakat menengah bawah. Namun pakar epidemiologi yang mengadakan riset tentang tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol Covid-19 mengatakan pemicu terus naiknya kasus positif di Indonesia adalah sosialisasi yang lebih bersifat satu arah atau diseminasi informasi.

Hal itu beliau sampaikan dalam pembukaan rapat terbatas yang membahas penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional di Jakarta. pada Senin (03/08). "orang yang tidak taat pada protokol kesehatan tidak semakin sedikit tapi semakin banyak. Kalau (sosialisasi) barengan mungkin yang menengah atas bisa ditangkep dengan cepat, tapi yang di bawah ini menurut saya memerlukan (sosialisasi) satu per satu," tambah Jokowi

Di tengah kondisi terus meningkatnya kasus positif yang sampai Senin (03/08) mencapai lebih dari 113.000, Jokowi meminta agar sosialisasi lebih digencarkan termasuk dengan melibatkan peran ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari rumah ke rumah.

Epidemiolog dari Universitas Padjajaran, Deni Kurniadi Sunjaya - yang melakukan riset terkait sosialisasi, mengatakan penyebab terus bertambahnya kasus Covid-19 di Indonesia disebabkan pemerintah tidak memiliki program nyata dalam melaksanakan sosialisasi yang terencana, terukur, dan dapat dievaluasi (BBC news Indonesia, 4/8/2020).

Mengapa tak berhenti terus menyalahkan rakyat? Bukankah sudah nyata bahwa rakyatlah korban dari kelalaian penguasa dalam menangani Covid-19?

Meningkatnya angka yg terinfeksi covid19 bukan semata-mata karena ketikdakpatuhan rakyat, tapi semua disebabkan karena salah penanganan dari awal dan berubah-ubahnya kebijakan dari penguasa.

Belum lagi perdebatan yang saling mengklaim zona, antara hijau dan merah, bukankah itu makin membuat bingung rakyat, sementara faktanya satu persatu rakyat terus kehilangan anggota keluarga mereka karena Covid-19 kian merajalela.

Jika sudah begini, bukankah nyawa yg harusnya diselamatkan? Namun masih saja mencari muka, nihil pemikiran cemerlang. Maka harus ada kesadaran yang ditumbuhkan ditengah masyarakat bahwa kenyataannya mereka berjuang sendiri. Tak ada periayahan nyata dengan sebuah sistem yang solid hingga mampu menjamin untuk segera keluar dari kubangan kesulitan ini.

Kita tak hanya butuh bersabar dan kooperatif dengan pemerintah. Sebab memang faktanya rakyat tak bisa terus mengisolasi diri dan keluarganya sepanjang hari jika tanpa jaminan kebutuhan mereka terpenuhi.

Sudahlah Masyur bagaimana kepemimpinan Umar bin Khattab ketika salah satu wilayah kekhalifahan terserang wabah. Bukan masalah ketangkasan dan heroiknya, sebab memang demikianlah sifat Umar, namun justru yang harus menjadi fokus adalah ketaatan beliau pada Sang Pembuat Hukum yang sudah menetapkan seperangkat aturan untuk diterapkan.

Umar bin Khattab yakin bahwa apa yang ia jalankan adalah amanah, sedang amanah tak akan tertunaikan tanpa ada ketaatan dan keikhlasan dalam mengembannya. Terlebih beliau sadar bahwa tampuk kepemimpinan yang ada padanya hanyalah titipan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan itu yang lebih berat.

Semestinya pemimpin kita juga berpikir demikian dan bukan terus menerus menjadikan rakyatnya sebagai kelinci percobaan. Wallahu a' lam bish showab.

0 Response to "Selalu Rakyat Yang Salah, Ada Apa?"

Post a Comment