-->

SEKALI DAYUNG, KAPAL MAJU DAN HIU PUN DIPUKUL MUNDUR

 

Oleh : Tachta Rizqi Yuandri, Jurnalis Freelance

MUSTANIR, Itulah Kata Yang Pantas Disematkan Kepada Tim Pembuat Film Dokumenter JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA ( JKDN ), Beserta Tim Yang Menyajikan Film Tersebut Dengan Sangat Apik. Buah Karya Yang Tidak Hanya Padat Berisi, Tapi Juga Sangat Rapi, Estetis, Dan Beradab.

Konten Pada Film Tersebut Akurat Dan Ilmiah. Disampaikan Dalam Bentuk Yang Mudah Dicerna, Melalui Audio Dan Visual, Pemirsa Tinggal Duduk Manis Dan Menyimak Dengan Seksama. Dari Mulai A Sampai Z Sangat Diperhatikan, Bahkan Hingga Pilihan Pakaian Yang Dikenakan.

Adalah Sebuah Kesalahan Fatal Ketika Penguasa Memberangus Sebuah Karya Fenomenal Dan Ilmiah Yang Dekat Dengan Ummat, Dengan Cara Cara Yang Tidak Ilmiah. Memang Prosedural, Tapi Sangat Tidak Imiah Dan Tidak Mengundang Simpati. Bukannya Malah Menjauhkan Ummat Dari Pembuat Film, Malah Justru Akan Semakin Mendekatkan.

Ummat Bukan Hanya Menonton Film Dokumenter JKDN, Tapi Juga Dengan Jelas Menonton Sebuah Kesewenang-Wenangan. Beberapa Kali Tayangan Diganggu Bahkan Ada Beberapa Link 'Menyesatkan' Yang Dibuat Untuk Mengalihkan Ummat Dari Link Yang Asli Bersumber Dari Pihak Penyelenggara.

Pihak Pemberangus Telah Mempertontonkan Wajah Aslinya Di Hadapan Ummat. Sebab Pihak YouTube Pun Dengan Jelas Mempublikasikan Siapa Pihak Yang Paling Keberatan Dengan Konten Film Tersebut. Sebuah Kepanikan Yang Dipertontonkan Secara Masif, Dan Penyalahgunaan Kekuasaan Yang Ditelanjangi Hanya Oleh Sebuah Konten Film Dokumenter Yang Berdurasi Tidak Lebih Dari 4 Jam.

UMMAT TELAH BANGKIT

Hei Ngos ( Jongos ), Penonton Itu Adalah Manusia. Jangankan Semangat Keislaman, Ketika Sebuah Video Kekonyolan Yang Viral Di Takedown Di Jagat Maya, Spontan Netizen Malah Justru Mencari Karena Penasaran. Apalagi Sebuah Film Dokumenter Keislaman Yang Tengah Asyik Ditonton Tiba Tiba 'Diganggu', Justru Malah Akan Semakin Dicari. Riwayat Keislaman Di Indonesia Ini Berusia Ratusan Tahun, Dan Sentimen Itu Tidak Mudah Digoyahkan.

Apakah Kalian Lupa Kenapa Megawati, SBY, Dan Jokowi Dulu Bisa Naik Sebagai Presiden? Salah Satunya Karena Ada Unsur Simpati Dari Masyarakat Yang Melihat Tiga Sosok Tadi Sebagai Pihak Yang 'Teraniaya' Oleh Penguasa.

Dan Sekarang, Kesalahan Sama Justru Diulang. Maka Kita Bersama Pun Sudah Paham Hasilnya Akan Mengarah Ke Mana.

Kalian Telah Mengusik Sentimen Keislaman Di Negeri Ini. Benarlah Ustadz Felix Siauw Yang Mengatakan Ketika Seseorang Panik Dan Akan Tenggelam, Ia Meraih Apa Saja Yang Ada Di Dekatnya, Meski Itu Ranting Kecil Sekalipun. Karena Kalian Dekat Sama 'Pentungan', Akhirnya Kalian Pakai Pentungan Untuk Memberangus Sebuah Film. Maklum, Dikit Dikit Pentungan.

Dan Benarlah Pula Yang Dikatakan Ustadz Ismail Yusanto, Bahwa Memang Jelas Ada Upaya Pengaburan Dan Penguburan Mengenai Peran Besar Khilafah Dalam Meninggalkan Jejak Keislaman Di Nusantara.

Saat Ini, Selain Panaik (Panik Maksudnya), Mereka Kembali Berpikir Upaya Apalagi Yang Mesti Dilakukan Untuk Menghadang Sebuah Kemenangan. Sementara Di Sisi Lain, Para Pejuang Sudah Berlari Beberapa Langkah Di Depan Mereka. Sebab, Bukan Hanya MUSTANIR, Mereka Juga Selalu Senantiasa Dalam Naungan Dan Perlindungan Dari Allah SWT. Aamiinn Yaa Mujibas Saailiinn.

0 Response to "SEKALI DAYUNG, KAPAL MAJU DAN HIU PUN DIPUKUL MUNDUR"

Post a Comment