-->

Resesi: Kegagalan Kapitalisme Atasi Pandemi


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag. (Pegiat literasi dan pemerhati kebijakan publik)

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab : 21).

Sudah lima bulan sampai saat ini sejak pertama kali diumumkan kasus Covid-19 awal Maret lalu. Tak bisa dihindari kasus kian hari kian bertambah tak terkecuali setelah kebijakan new normal dilakukan. Hingga Selasa (11/8/2020) pukul 12.00 WIB, kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 1.693. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi 128.776 orang (Kompas.com). Dampak pandemi menjalar ke berbagai aspek, terutama ekonomi dimana negeri ini dilanda krisis bahkan resesi.

Pemerintah memprediksi, pandemi akan membuat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus hingga 3,8 persen. Jika pertumbuhan minus itu berlanjut ke kuartal III 2020, Indonesia berpotensi masuk ke jurang resesi (Kompas.com, 13/7/20). Bahkan saat ini sudah sampai pada angka minus 5,32 % (Kompas.com, 10/8/20).

Dunia akan mengalami resesi ekonomi terparah sejak perang dunia ke-II. Di mana kontraksi perekonomian global akan mencapai 5,2% pada tahun ini akibat pandemi Covid-19. "Bank Dunia memprediksi kontraksi ekonomi 5,2% terhadap PDB global tahun ini. Angka ini mencerminkan resesi global terparah sejak Perang Dunia II, dan hampir tiga kali lebih tajam dari pada resesi global pada 2009," kata Country Director World Bank Indonesia-Timor, Satu Kahkonen dalam video conference, Kamis (16/7).

Sedangkan untuk Indonesia, Bank Dunia memproyeksikan laju perekonomian pada 2020 hanya tumbuh 0%. Ini dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kontraksi perekonomian global 5,2%, peluang terbukanya ekonomi Indonesia pada Agustus, dan tidak adanya gelombang kedua pandemi Covid-19. Jika tiga hal di atas berubah, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan turut berubah (Alinea.id, 16/7/20).

Mengapa dunia termasuk Indonesia mengalami krisis bahkan resesi akibat pandemi? Hal yang patut dipertanyakan dan segera dicari solusi. Berawal dari makhluk mungil ciptaan Allah yang diutus ke muka bumi, seperti Allah mengutus Baginda Nabi Saw. pasti ada tujuannya mengapa Allah menghendakinya. Karena tak ada satupun yang bergerak di muka bumi tanpa kehendak-Nya. Terkait wabah, bahwa di masa Nabi Saw. pun pernah terjadi dan solusi yang digunakan adalah isolasi/lockdwon segera di daerah terjangkit agar wabah tidak menyebar ke tempat yang lain.

Hadist mengenai hal tersebut popular, apalagi sejak wabah melanda negeri ini. Sayangnya, apa yang pernah dicontohkan Baginda Nabi Saw. tak digubris oleh negeri yang mayoritas muslim dan yakin bahwa Hadis adalah sumber hukum kedua di dalam Islam. Mengapa demikian, karena memang negeri ini belum menerapkan aturan Islam tapi kapitalisme yang sudah lama dipakai. Namun, apa hasilnya ketika kapitalisme atau aturan buatan manusia yang serba lemah dan terbatas yang digunakan? Akibat tak tepat menangani pandemi seperti yang Nabi Saw. contohkan, ancaman resesi di depan mata.

Resesi yang melanda sebuah negara, ditandai meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, turunnya daya beli masyarakat, dan melemahnya neraca perdagangan internasional. Sistem ekonomi kapitalisme mengukur pergerakan berbagai variabel tersebut dalam skema angka pertumbuhan ekonomi. Jika dalam dua kuartal berturut-turut angka pertumbuhan ekonomi dalam posisi kontraksi atau negatif, maka sebuah negara mengalami situasi resesi.

Di awal terjadinya pandemi, beberapa negara maju mengambil langkah solusi dengan menutup berbagai aktivitas di sektor riil perekonomian. Langkah ini kemudian diikuti berbagai negara berkembang, yang berdampak cukup serius terhadap perekonomian. Sebagai dampak lanjutan dari penutupan berbagai sektor riil ini, terjadi lonjakan tajam angka pengangguran di berbagai negara.

Dalam Islam, solusi pandemi adalah isolasi di daerah wabah. Sementara di tempat lain yang tidak terkena wabah, melakukan aktifitas normal seperti biasa sehingga roda perekonomian masih tetap berjalan. Ancaman resesi bisa dihindari jika sejak awal mengikuti apa yang dicontohkan Baginda Nabi Saw. Bukankah terdapat teladan pada diri Nabi Saw. yang dengannya Beliau diutus ke muka bumi? Maka bagaimana solusi resesi dalam Islam?

Solusi yang digunakan kapitalisme saat ini dengan cata menurunkan berbagai tarif pajak dan menurunkan tingkat suku bunga ternyata tidak berhasil menggerakkan roda ekonomi. Kebijakan new normal tidak terlihat pengaruhnya dalam menggerakkan roda ekonomi. Daya beli tak kunjung meningkat, produksi juga tidak bisa digenjot karena ancaman wabah justru tidak bisa diprediksi akan diurai dari area mana.

Sementara, ekonomi Islam yang fokus pada capaian per individu, akan bisa mendeteksi masalah dengan cepat sebelum makin parah. Dunia hari ini membutuhkan sistem ekonomi Islam kaffah untuk membangkitkan ekonomi yang sedang mengalami koma akut. Sistem makro dan mikro ekonomi Islam terbukti berbuah produktivitas, stabilitas, serta distribusi yang adil dalam rentang waktu 13 abad lebih. Tanpa pernah mengalami defisit APBN akut, tidak pernah mengalami turunnya daya beli simultan, tidak pernah mengalami krisis ekonomi apalagi resesi dan depresi.

Tawaran ekonomi syariah dalam tata ulang kebijakan makro dan mikro menghadapi resesi:

Pertama, Menata ulang sistem keuangan negara. Sistem keuangan kapitalis-demokrasi yang bertumpu pada pajak dan utang, terbukti tidak bisa memberikan pemasukan dan justru bergantung kepada negara lain. Membuat dunia Islam masuk dalam debt trap. Hal ini tidak akan pernah dipakai oleh peradaban Islam.

Sebab, sistem keuangan Islam terbukti selama 13 abad memiliki pemasukan besar sekaligus mandiri tanpa tergantung kepada negara atau organisasi lain. Pemasukan ini diperoleh dari pengelolaan berbagai kepemilikan umum (milkiyah aamah), termasuk di dalamnya pertambangan, laut, hutan, dan aset-aset rakyat lain dengan posisi negara hanya sebagai pengelola. Pemasukan lain adalah dari pengelolaan milik negara berupa kharaj yaitu pungutan atas tanah produktif.

Abstraksi pemasukan yang besar ini bisa ditelusuri dari sejarah Kekhilafahan Abbasiyah di bawah kepemimpinan Harun Ar Rasyid, yang memiliki surplus pemasukan sebesar APBN Indonesia yaitu sekitar lebih dari 2.000 triliun. Hal ini berarti menunjukkan jumlah pemasukannya yang lebih besar lagi.

Kedua, Menata ulang sistem moneter. Dalam sistem ekonomi Islam, income atau pendapatan masyarakat dipastikan memiliki kecukupan yang tidak membuatnya jatuh pada jurang kemiskinan, yakni dengan menjaga daya beli uang. Daya beli uang ini dipertahankan dengan moneter berbasis zat yang memiliki nilai hakiki yaitu emas dan perak. Mata uang kertas yang menyandarkan pada dolar yang dihegemoni Amerika Serikat akan ditinggalkan.

Ketiga, Menata ulang kebijakan fiskal. Dilakukan dengan menghapus semua pungutan pajak. Pajak hanya pada situasi extraordinary dan hanya ditujukan pada kalangan mampu dari orang kaya (aghniya). Ketika kondisi extraordinary selesai, pajak pun dihentikan.

Keempat, Menata ulang sistem kepemilikan asset di permukaan bumi. Kepemilikan aset akan direvolusi, tidak diberikan kepada asing dan aseng. Hal yang terjadi hari ini dengan memberikan bagian kepemilikan kepada asing dan aseng adalah bentuk penentangan pada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Kelima, Tata Ulang kebijakan mikro ekonomi. Hal ini dilakukan dengan mengatur aktivitas ekonomi antarindividu dan pebisnis. Khilafah akan melarang praktik riba dan transaksi yang melanggar aturan syariat lainnya. Kekurangan modal bisa diselesaikan dengan akad syirkah antarindividu pebisnis. Namun, dalam situasi khusus seperti pandemi, negara hadir dengan memberikan modal dalam bentuk hibah atau pinjaman tanpa beban bunga/riba. Bank sentral tidak diperlukan, yang akan berdiri adalah institusi baitulmal.

Dalam skala keluarga, hendaknya bergaya hidup sederhana; mengedepankan needs (kebutuhan), bukan wants (keinginan); mengedepankan halal-haram. Di tengah krisis saat ini, harus pandai mengelola pengeluaran disesuaikan dengan pemasukan.

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

Sumber : Banten Pos Edisi 14 Agustus 2020  

0 Response to "Resesi: Kegagalan Kapitalisme Atasi Pandemi"

Post a Comment