-->

Hagia Sophia, Khilafah, dan Hipokrit Turki


 

Hagia Shopia  bangunan paling luar biasa dari akhir zaman. Kubah tertingginya yang besar adalah keajaiban yang nyaris tak bisa dipercaya. Seolah kubah itu tak bertengger di atas dasar yang  keras, tetapi menaungi ruang di bawahnya seperti digantung langsung dari surga. Dihiasi empat pintu dengan mozaik emas, begitu megah sehingga saat cahaya keemasan masuk dan langsung mencapai mata orang di dalamnya, mereka nyaris tak kuasa melawannya. Warna warni pualam membawa mereka ke kondisi ekstase. Saat mereka menatap seakan sedang ditaburi bintang-bintang...seperti susu yang ditebarkan di  atas permukaan hitam mengkilat...atau seperti lautan, atau batu permata, atau warna biru bunga corn flower di padang rumput yang disana sini diselingi tebaran salju.

Demikian gambaran Hagia Shopia dimasa lalu sebelum penaklukan konstantinopel.  Meski keindahan ini hanyalah perspektif  kesenangan dunia. Sebatas pandangan manusia yang dibatasi oleh kacamata persepsi barat yang materialistis.

Hingga 1453 menjadi saksi bisu jatuhnya simbol kebesaran konstatinopel ini di tangan Al Fatih sang penakluk. Seketika ia mengubah fungsinya sebagai Masjid . Maka siapapun yang memasuki Hagia Shopia bukan sekedar tertegun karena kemolekan, tetapi juga seperti berjumpa mutiara, karena nuansa ‘ruhiyah’ dan ‘ilahiyah’ yang berhasil menuntun langkah pada sebuah keMaha kuasaan atas dasar ketundukan dan kepasrahan seorang hamba kepada RabbNya, serta menghapuskan tertambatnya hati manusia pada dunia.

Kekalahan konstantinopel telah disyaratkan melalui lisan Nabi saw dalam hadits beliau dari Abdullah bin Amru bin al ‘Ash, ia berkata : “sementara kami ada di sekitar Rasulullah saw, kami sedang menulis, ketika Rasulullah saw ditanya, “kota manakah dari dua kota yang ditaklukkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?”, maka Rasulullah saw bersabda :
“Kota Heraklius ditaklukkan lebih dahulu, yakni Konstantinopel” (HR Imam Ahmad).

Demikian pula dalam hadits dari Abbdullah bin Bisyri Al Khats’amiy dari bapaknya bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda:

“Sungguh konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”

Maka Al Fatih pemegang bisyarah Nabi memimpin penyerangan dan pengepungan konstantinopel selama dua bulan terhitung sejak 26 rabiul awal hingga bisa ditaklukkan pada selasa, 20 jumadil ula tahun 857H.

Namun usaha keras kaum muslim dikhianati oleh Mustafa Kemal Attaturk . Ia mengubah Masjid Hagia Shopia menjadi museum melalui keputusan kabinet  Republik Turki tanggal 24 November 1934 M. (aa.com.tr/ar/190-kantor berita Anadul,11/7). Sebelumnya, Mustafa Kemal telah memadamkan cahaya Hagia Shopia sejak 1930-1935 M, disebabkan adanya pekerjaan restorasi.

Hagia Shopia dan Hipokrit Turki

Kini kaum muslim merindukan kembalinya Masjid Hagia Shopia. Seperti dirilis dalam website al Mudun, 26/3/2019 “banyak orang Turki terus menantikan hari yang mana “museum hagia shopia” kembali menjadi masjid untuk kaum muslim.

Pada 27 mei 2012 bertepatan dengan momen peringatan ke-559 kemenangan Sultan Muhammad Al Fatih dan penaklukan Konstantinopel ribuan kaum muslim menunaikan sholat di depan bangunan itu sebagai protes terhadap undang-undang larangan menegakkan syiar-syiar keagamaan di tempat itu.

Erdogan saat menjadi perdana menteri tahun 2013 menolak tuntutan tersebut, dan tidak  pernah berpikir untuk mengubah posisi Hagia Shopia.

Namun Recep Tayyip Erdogan sangat hipokrit dan terlalu sekuler. Terbukti saat kampanye pemilu parlemen yang diadakan di Turki pada 31 Maret 2020, ia menjadikan isu Hagia Shopia sebagai lonceng kemenangan untuk meraih kepentingan politik sesaat. Menurutnya konversi Hagia Shopia menjadi Masjid akan menaikkan saham pemilu parlemennya. Walhasil Presiden Turki ini menyatakan bahwa penyebutan kembali Hagia sophia sebagai Masjid di Istanbul harus dilakukan, mengantikan sebutan museum, setelah pemilu hari ahad. (al jazeera.net 30/3).

Sayangnya kampanye Erdogan tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Bukannya menang, Erdogan justru kehilangan suara di Istanbul dan Ankara, dua kota terbesar Turki di hadapan Partai Popular pengikut Mustafa Kemal yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum

Sungguh, Hagia Shopia adalah simbol penaklukan dan amanah sang penakluk. Sultan Muhammad Al Fatih mewakafkan tempat itu dan menjadikannya wakaf dengan sifatnya sebagai Masjid sampai hari kiamat, dan meninggalkannya dalam perjanjian dengan kaum mukmin.  Maka Hagia Shopia sejak saat penaklukan itu hingga sekarang adalah tempat suci bukan hanya bagi muslim Turki, namun juga tempat suci umat Muhammad saw di dunia.

Hal ini sudah menjadi mafhum umat Islam, dan telah memenuhi persepsi-persepsi di benak mereka. Bahkan sejak pertama mereka mendengar kabar gembira Rasulullah saw tentang penaklukan konstantinopel, kaum muslim telah mengetahui bahwa pemerintahan Islamlah yang akan menaklukkan konstantinopel. Karenanya keberadaan Hagia Shopia  sebagai Masjid tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan posisi Daulah khilafah.

Dengan demikian, mengembalikan kemuliaan Hagia Shopia sebagai Masjid haruslah  disertai dengan pengembalian Al Khilafah sebagai institusi penjaganya.

Nyatanya kesadaran ini benar-benar disuarakan oleh media Gercek Hayat-al hayah Al Haqiqiyah di dalam halaman sampulnya, sebuah ungkapan yang menyerukan dihidupkannya kembali kekhalifahan yang dihapuskan tak lama setelah jatuhnya kekaisaran Ottoman.

“Sekarang Hagia Shopia dan Turki bebas; bersiaplah untuk kekhalifahan” (beritakaltim.co, 31/7).

Hal ini semestinya disambut dengan tangan terbuka, mengingat tegaknya khilafah adalah perkara mulia (tajul furudh) bagi kaum muslimin. Tetapi juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki, Amru Chalik justru menolaknya dan menentang dengan kecaman yang menimbulkan kontroversi. Ia menjelaskan bahwa Turki adalah negara hukum demokrasi, sekuler, dan sosial. Bahwa merupakan kesalahan menciptakan polarisasi politik tentang sistem politik Turki...”

Bahkan ia melanjutkan kalimatnya, “saya berdoa memohon belas kasihan untuk komandan perang kemerdekaan dan pendiri republik serta presiden pertamanya, Mustafa Kemal Attaturk dan seluruh komandan perang kemerdekaan. Kita akan melanjutkan langkah damai dan tegas menuju keinginan bangsa kita dengan kepemimpinan terampil presiden kita. Seruan kami bersama bangsa dan tujuan kita adalah negeri yang bersatu. Hidup Republik Turki”.

Maka seperti terangnya matahari, penolakan ini semakin memperjelas adanya permusuhan sekuler dan Islam. Sebab sejak awal pendirian Republik Turki, Mustafa Kemal telah melandaskan sekulerisme  sebagi ‘ruh’ negara. Dengan demikian, kembali kepada khilafah adalah ancaman bagi sekulerisme. Karena tegaknya khilafah berarti hancurnya tatanan politik sekuler.

Sejak keruntuhan khilafah ditangan Mustafa Kemal Attaturk 1924, kaum muslim benar-benar dipaksa untuk tunduk pada undang-undang Barat. Lalu dibawah kepemimpinan Amerika, Barat menjalankan politik culas dan kotor pada kaum muslim. Mereka mencari orang-orang yang disebut para aktivis Islam moderat, dan menjadikan mereka menang dalam pemilu setelah menunjukkan kesediaan mereka untuk memasuki permainan politik demokrasi yang dijalankan Amerika.

Siapapun yang sejalan dengan Amerika dan menyerahkan urusannya kepada Amerika termasuk menyetujui undang-undang, peraturan, persyaratan, dan tujuan yang telah disusun Amerika, akan mendapat julukan Islam moderat. Mereka akan ‘dilindungi’ Amerika demi mewujudkan kepentingan-kepentingannya.

Maka demikianlah yang terjadi dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di bawah kepemimpinan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan dalam perseteruannya dengan ajakan kembali pada khilafah. Pihak sekuler di bawah kendali Barat mendudukkan seruan kepada khilafah sebagai ajakan yang tidak dapat diwujudkan dalam hukum, dan diopinikan sebagai ajakan pemberontakan bersenjata, sehingga diadukan menurut hukum pidana oleh pihak sekuler Turki (tren opini, 29/7).

Metode Penegakan Khilafah

Tidak pernah ada dalam catatan sejarah, bahwa untuk menegakkan daulah Islam ditempuh dengan kekerasan dan kekuatan senjata. Bahkan di masa Nabi saw dan para sahabat berdakwah di mekkah, hingga berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah. Hal ini disebabkan beberapa alasan :

Pertama, dakwah menegakkan daulah Islamiyah termasuk bagian integral dari ibadah.  Merupakan aktivitas taqarrub ilallah yang metode dan tata caranya telah dijelaskan Allah swt dan RasulNya. Maka seorang muslim wajib mengikutinya dan dilarang menyimpang dari metode dan tatacara yang telah digariskan oleh Asy Syari’.

Kedua, metode syar’i untuk menegakkan kembali daulah Islamiyah adalah thalabun nushrah, bukan jihad, kekerasan, musyarakah dalam parlemen, people power, dan lain sebagainya. Pasalnya metode inilah yang ditempuh oleh Nabi saw dalam menegakkan daulah Islamiyah di Madinah.

Ketiga, pada dasarnya setiap hukum Islam termasuk di dalamnya jihad dan tindakan fisik disyariatkan untuk memecahkan problem-problem manusia. Misalnya, jika seorang muslim menghadapi problem waris, maka Islam telah menetapkan faraidh (hukum waris) sebagai solusi. Syariah Islam tidak menetapkan sholat lima waktu sebagai solusi masalah waris tersebut. Ketika kaum muslim diserang oleh kaum kafir, maka syariah telah menetapkan jihad sebagai solusi atas problem ini. Syariah tidak menjadikan shalat, puasa, atau pun tilawah al quran sebagai solusi untuk mengusir musuh yang menyerang negara Islam. Maka demikian pula dengan kehendak kaum muslim untuk menegakkan daulah Islamiyah, sesungguhnya syariah telah menetapkan thalabun nushrah sebagai metodenya, dan bukan dengan sholat, puasa, kekerasan fisik, jihad, dan sebagainya.

Aktivitas thalabun nushrah dilakukan Nabi saw setelah paman dan istri beliau, yaitu dua orang yang melindungi diri Rasulullah dan dakwahnya wafat. Maka Rasul saw mendatangi para pembesar Thaif, meminta agar mereka mau mendukung Islam dan melawan kaum Quraisy yang menentang beliau.

Selain itu Rasulullah saw pun pernah mencari nushrah, sebagaimana dalam sirah Ibnu Hisyam diriwayatkan bahwa Zuhri menceritakan :

Rasulullah pernah mendatangi secara pribadi Bani Kindah, tetapi mereka menolak beliau. Beliau juga mendatangi Bani Kalban, tetapi mereka menolak. Beliau mendatangi Bani Hanifah dan meminta kepada mereka nushrah dan kekuatan, namun tidak ada orang Arab yang lebih keji penolakannya terhadap beliau kecuali Bani Hanifah.

Beliau juga mendatangi Bani Amir bin sha’sha’ah, mendoakan mereka kepada Allah, dan meminta kepada mereka secara pribadi. Kemudian berkatalah seorang laki-laki dari mereka bernama Bahirah bin Firas. “Demi Allah, seandainya aku mengabulkan pemuda Quraisy ini, sungguh orang Arab akan murka.” Kemudian ia berkata, “Apa pendapatmu jika kami membaiatmu atas urusan kamu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menyelisihimu, apakah kami akan diberi kekuasaan setelah engkau?”. Rasulullah berkata kepadanya, “urusan itu hanyalah milik Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki”. Bahirah berkata, “Apakah kami hendak menyerahkan leher-leher kami kepada orang Arab sedang engkau tidak. Adapun jika Allah memenangkan kamu, urusan bukan untuk kami. Kami tidak butuh urusanmu”.

Namun akhirnya dari berbagai penolakan itu, Allah swt memberi pertolongan yang besar melalui nushrah penduduk madinah yang diberikan kepada Rasulullah saw. Maka terjadilah babak baru dalam dakwah Rasul saw, dengan peristiwa Baiat Aqabah II, yaitu penyerahan kekuasaan dari penduduk Madinah kepada Rasulullah saw, yang disusul dengan pendirian Daulah Islamiyah di Madinah.

Dengan demikian  jika saat  ini  penguasa Turki, Recep Tayyib Erdogan melalui juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) menolak seruan untuk mengembalikan kekhilafahan Islam.  Semoga Allah Swt menunaikan janjiNya dan memilihkan nushrah terbaik bagi para pengemban dakwah Islam, agar semakin yakin bahwa tegaknya khilafah tak perlu menunggu waktu lama.[]

Oleh: Azizah, S.PdI | Penyuluh Agama Islam

Referensi
https://m.wartaekonomi.co.id/berita296686/ketika-khutbah-perdana-di-hagia-sophia-justru-picu-kemarahan
https://m.republika.co.id/berita/qe5wi7430/serukan-khilafah-majalah-turki-diadukan-asosiasi-bar
https://beritakaltim.co/sistim-negara-khilafah-ditolak-partai-berkuasa-turki/
https://www.trenopini.com/2020/07/seruan-khilafah-yang-diadukan-dan-sifat.html
Media Politik dan Dakwah al waie no 129 tahun 2011
Media Politik dan Dakwah al waie no 180 tahun 2015

0 Response to "Hagia Sophia, Khilafah, dan Hipokrit Turki"

Post a Comment