-->

DAKWAH


 


Kehidupan kita itu yang hakiki di akhirat. Jangan korbankan kehidupan kita untuk dunia yang fana. Menua dan mati itu kodratnya manusia, tapi takdir tak mengharuskan semua manusia hidup di surga.

Terluka demi kehidupan itu biasa, seperti ibunda yang merintih menahan sakit saat melahirkan kita. Yang aneh itu, jika kita sakit dan merintih, mengejar dunia yang fana, dan mengabaikan kehidupan kita kelak di surga.

Ada sebagian manusia bertambah usia, namun tak bertambah dewasa. Ia masih saja disibukkan dunia, seperti tak ingin berpisah dengannya. Kedewasaan kita, diukur dari seberapa serius kita menyiapkan amal untuk kehidupan kita yang sesungguhnya.

Dan Dakwah...
Dakwah yang menghampiri kita, dakwah yang menyeru kita, dan akhirnya kita terlibat dengan dakwah. Dakwah itulah, sesungguhnya perbendaharaan kita menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Demi dan untuk dakwah, tahanlah sakit, sembunyikan perih. Tak semua orang berhak tahu atas luka, sebagaimana tak semua orang sanggup untuk menyembuhkan luka.

Demi dan untuk dakwah, bersikaplah ksatria dihadapan penguasa. Sebab kelemahan kita tak akan membuat penguasa zalim merasa iba.

Kita berani, bukan untuk dipuji. Kita juga melawan, bukan karena banyak kawan. Kita berani dan melawan kezaliman, karena dakwah ini memang menuntut pengembannya pemberani. Dakwah ini menuntut pengembannya untuk melawan.

Coba perhatikan, Rasulullah SAW dan para sahabat, para pengemban dakwah generasi awal Islam. Mereka berani bukan karena jumlah, mereka melawan bukan karena terdesak. Mereka, hanya melakukan apa yang dituntut oleh Wahyu.

Mereka, berdiri tegak dan berjalan diatas manhaj Wahyu, meyakini kebenaran jalan Wahyu, hingga Allah SWT turunkan pertolongan dan kemenangan.

Karena itu tidak usah pedulikan seruan manusia, yang menuntut berpolitik mengikuti manhaj demokrasi. Jalan itu, yakni jalan demokrasi sudah pasti tak akan sampai pada tujuan syariat Islam, tak akan sampai pada ridlo Allah SWT.

Tetaplah di jalan dakwah, berpolitik lah di jalan dakwah. Ini bukan soal lama atau sebentar, ini soal ketaatan.

Kita tak tahu kapan Nasrullah turun, dan Khilafah tegak di muka bumi. Kita juga tak tahu kapan ajal menjemput, sehingga perjumpaan dengan Allah SWT lebih dahulu terjadi sebelum berjumpa dan membaiat Khalifah.

Kita, hanya ingin tetap dalam garansi taat, dalam jalan dakwah Islam dan tak terjebak dalam lumpur demokrasi. Kita, hanya ingin tetap fokus pada kehidupan kita yang sesungguhnya, yakni di akhirat kelak, bertemu Rasulullah SAW dan para sahabat.

Rawatlah dakwah, sirami pohonnya, terus tumbuh kembangkan dengan harapan suatu saat kelak kita akan ikut memanen buah dakwah. Buah dakwah adalah tegaknya hukum Allah SWT dimuka Bumi, bukan jabatan atau kekuasaan. [].

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

0 Response to "DAKWAH"

Post a Comment