-->

𝗦𝗘𝗝𝗔𝗥𝗔𝗛 𝗣𝗥𝗔𝗦𝗔𝗡𝗚𝗞𝗔 𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠

  Oleh : DR. Moeflich Hasbullah (Sejarawan, UIN SGD)

Pengamatan pada fenomena keagamaan banyak diwarnai prasangka apalagi dalam konteks konflik antar kelompok dan benturan agama-agama. Prasangka sudah mewarnai hampir seluruh studi-studi agama baik pendekatan sejarah, sosiologi dan politik terutama studi-studi para ilmuwan Barat terhadap dunia Islam.

Karya cemerlang Edward Said, Orientalism (1995) yang menggemparkan dunia, menyadarkan dunia Barat bahwa dasar dari pandangan dan studi-studi mereka atas dunia Timur dan Islam dibangun di atas imperium prasangka. Dan seperti ditunjukkan Norman Daniel (1993), prasangka, kecurigaan dan salah faham tersebut masih berlangsung hingga belakangan ini karena orientalisme, lebih dari sekadar obyek studi, sesungguhnya adalah sebuah proyek Barat untuk mempertahankan hegemoni terhadap Timur, terutama, dunia Islam.

Sudah umum difahami, dalam konteks global, konsern Barat atas dunia Islam dan masyarakat Muslim tidak hanya dimotivasikan oleh ilmu, kesarjanaan dan kepenasaran atas dunia Timur yang eksotik dan penuh pesona tapi juga karena pertimbangan-pertimbangan agama, ekonomi dan politik.

Konflik Islam-Barat yang terus berlanjut dan makin menajam memproduksi bentuk-bentuk prasangka lebih banyak lagi. Istilah-istilah Islam fundamentalis, Islam militan, Islam radikal, dan terorisme, semuanya tak lepas dari prasangka. Kebangkitan Islam di seluruh dunia dituduhkan oleh Samuel Huntington (1992) akan memicu ”the clash of civilization” (benturan peradaban). Perkembangan Islam yang semakin ekstensif di Barat dicurigai sebagai “Islamic threat” (ancaman Islam) seperti digambarkan oleh John Esposito (1993).

Dalam sejarah, prasangka dunia Barat terhadap Islam menemukan bentuk definitifnya pada periode Perang Salib. Antara tahun 1100 dan 1300, Eropa melakukan standarisasi dalam memandang Islam. Mispersepsi, antipati dan konflik terhadap Islam diciptakan dalam tiga level: teologis, ekonomi-politik dan kultural.

Norman Daniel membahas tentang penetapan standar ini dalam salah satu bab bukunya, Islam and the West, The Making of an Image (1993: 267- 301). Kemudian William Montgomery Watt secara jelas mengemukakan empat standarisasi yang dibuat Eropa dalam memandang Islam: Pertama, Islam itu salah dan merupakan penyimpangan dari kebenaran. Kedua, Islam adalah agama yang disebarkan dengan kekerasan dan pedang. Ketiga, Islam adalah agama yang merasa benar sendiri (self-indulgence). Keempat, Muhammad adalah seorang anti Yesus. (William Montgomery Watt, Muslim-Christian Encounters, Perceptions and Misperceptions, Routledge, London and New York, 1991. hal. 85-86).

Bila dunia sekarang masih ketakutan pada Islam, itu tak lain karena prasangka dan mempertahankan prasangka berabad-abad. Bila negara, dimana pun, khawatir atas perkembangan Islam, juga tak lain adalah mempertahankan prasangka yang sudah berkembang lama dalam sejarah dunia. Dikatakan oleh Tuhan sendiri, Islam adalah rahmatan lil' alamin (rahmat buat manusia dan seluruh alam). Rahmat artinya kebaikan untuk manusia. Karena ketidaktahuanlah (ignorance) Barat dan non-Muslim penuh prasangka, karena lemahnya penghayatan pada agamanyalah, sebagian Muslim khawatir bahkan ketakutan dengan agamanya sendiri. Keduanya memproduksi Islam-phobia. Menghilangkan phobia adalah tugas dakwah sepanjang massa.***

0 Response to "𝗦𝗘𝗝𝗔𝗥𝗔𝗛 𝗣𝗥𝗔𝗦𝗔𝗡𝗚𝗞𝗔 𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠"

Post a Comment