-->

Aneh! Rezim Demokratis Yang Doyan Persekusi Itu Ingin Disamakan Dengan Khalifah Umar bin Khattab ra

  Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Di sebuah negeri bebek, seorang rezim sangat gemar melakukan persekusi. Baik atas arahannya atau keinginan bawahannya, persekusi semakin menjadi-jadi.

Padahal apa salah orang yang dipersekusi? Apa karena mereka mendakwahkan Islam? Sedangkan semua orang tahu bahwa demokrasi itu intinya adalah menghargai perbedaan pendapat.

Namun itu hanya sekedar teori. Yang paling banyak dipersekusi adalah para Ulama, Intelektual, Mahasiswa, Ibu-Ibu dan lain sebagainya.

Katanya demokratis. Semua diwadahi namun yang dipersekusi seringkali berasal dari golongan Muslim yang setia mendakwahkan Islam. Berbagai tuduhan pun dilontarkan untuk membungkam suara Pejuang Islam yang anti korupsi, penjarahan SDA dan pergaulan bebas.

Para pejuang Islam wa bil khusus Syariat dan Khilafah mulai dituduh adanya chat mesum, menyimpan video porno, menyebar kebencian hingga menyebarkan Ide Khilafah yang sebenarnya ajaran Islam dianggap oleh mereka ajaran terlarang.

Hiprokit ini subur dalam demokrasi. Sebagian penguasa yang anti Islam lupa kalau mayoritas penduduk negeri adalah Muslim. Umat mencintai Islam dan mencintai Khilafah sebagai ajaran Islam.

Kaum Muslimin dan para Ulama yakin bahwa Khilafah adalah ajaran mulia dan secara cemerlang terjadi dalam perjalanan sejarah manusia.

Umat sangat mencintai Khilafah dan Khalifah. Salahsatu pemimpin yang dikagumi sepanjang zaman adalah Khalifah Umar bin Khattab ra yang terkenal adil, tegas dan penyayang kepada Kaum Muslimin. Khalifah inilah yang ingin disamakan dengan rezim doyan persekusi.

Rezim itu ingin dicintai umat seperti umat mencintai Khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal, yang membedakan antara dua penguasa ini adalah Khalifah Umar bin Khattab ra tak pernah mempersekusi atau membiarkan bawahannya melakukan aksi persekusi.

Seorang pria pernah menangis dan mengadu kepada Khalifah Umar karena Gubernur Abu Musa memberikan hukuman yang berlebihan kepadanya. Pria ini meminum khamr, sang gubernur memukul dan memberikan warna hitam pada mukanya. Kemudian mengaraknya mengelilingi masyarakat.

Gubernur Abu Musa melarang orang-orang untuk bergaul dengannya. Sang pria merasa sangat tertekan dan berniat mengambil pedang untuk membunuh Abu Musa. Dia juga ingin dipindahkan oleh Khalifah ke negara asing atau negara orang Musyrik.

Khalifah Umar bin Khattab ra menangis dan berkata, "Aku tidak ingin menginginkanmu pindah ke negeri musyrik. Aku mempunyai solusi untuk masalahmu. Jika kamu telah minum khamr, sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga telah meminumnya." Khalifah menulis surat kepada Gubernur Abu Musa yang berisi, "sungguh telah datang kepadaku lelaki yang menceritakan seperti ini dan ini. Jika suratku ini sampai kepadamu, perintahkanlah orang-orang supaya bergaul dan duduk dengan dia.

Jika dia bertobat, terimalah kesaksiannya. Beri dia pakaian dan uang sebanyak dua ratus dirham." Menghukum orang yang minum khamr dengan hukuman fisik dan diarak merupakan hukuman yang setimpal.

Namun, melarang orang-orang untuk bergaul dengannya, merusak masa depan dan ekonomi adalah berlebihan dan tidak disukai oleh agama. Itu keluhuran Khalifah, bahkan Khalifah pernah menyerahkan tongkatnya meminta masyarakat memukulnya jika ada yang pernah dizhalimi.

Khalifah pernah menyelamatkan rumah orang Yahudi yang dirampas semena-mena oleh gubernurnya. Itu lah Khalifah Umar bin Khattab ra yang tegas dan adil serta mampu membuat rakyatnya makmur. Tidak seperti rezim anu yang katanya kangen didemo namun kemudian menyemprot rakyatnya dengan gas air mata.

Ingin dimuliakan namun mempersekusi pejuang Islam dan para Ulama. Semoga Allah SWT segera mencabut kekuasaan para rezim zhalim ini lengkap dengan sistem demokrasinya dan menggantinya dengan pemimpin dan sistem Islam. []

Bumi Allah SWT, 31 Agustus 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

0 Response to "Aneh! Rezim Demokratis Yang Doyan Persekusi Itu Ingin Disamakan Dengan Khalifah Umar bin Khattab ra"

Post a Comment