-->

Mengeja Waktu (Sebuah Refleksi)


 


Oleh Ainul Mizan

Sajadah panjang itu terhampar dingin. Dalam sujud, kurasakan belaian malam yang syahdu. Sekonyong - konyong hati ini bergidik. Badanku menggigil. Angin malam ini menusuk hingga sum sum tulang. Tak terasa air mata ini berderai. Aku teringat adanya tempat yang dingin di neraka. Saking dinginnya, kulit manusia terkelupas. Masya Alloh.. rasa takut langsung menyergap jiwaku. Ya Alloh, andai malam ini Kau cabut nyawaku.

Aku nggak kuat dengan dinginnya malam. Untuk ambil wudhu saja, serasa diriku berada dalam lemari es. Aku terus berasyik masyuk dengan semua ingatanku. Di sepertiga malam ini rasanya berada di alam lain. Sepi, tenang dan mencekam.

Lafadz - lafadz dzikir kurapalkan. Kuresapi hingga dada membuncah ratapan. Aku terkejut. Sayup - sayup terdengar lantunan ayat suci. Jauh, jauh di seberang sana. Tapi mengapa begitu dekat dengan hati, jiwa dan perasaan ini.

Ya, Firman Alloh dalam surat al Ahzab ayat 23 menggedor - gedor relung jiwaku. Jiwaku rapuh. Aku lemah... Aku rapuh.. Aku menangis sendiri malam ini.
من المؤمنين رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتظر وما بدلوا تبديلا.
Di antara orang orang beriman itu ada orang - orang yang membenarkan janji mereka kepada Alloh. Maka sebagian dari mereka ada yang gugur dan sebagian lagi ada yang menunggu - nunggu. Dan mereka tidak mengubah janjinya sama sekali.

Terpampang di depanku sebuah terowongan. Jiwaku terkesiap. Fragmen sahabat Nabi satu per satu diputar di depan mataku.

Duhai, aku bertemu Anas bin Nadhar ra. Aku sadar ayat 23 al Ahzab ini turun tentang beliau. Sahabat Anas bin Nadhar ra bertanya kepada Nabi Saw.

"Di manakah letak surga itu?", Nabi Saw menjawab:" di bawah kilatan pedang".

Setelah mendengar jawaban Nabi, Anas bin Nadhor berkata: "Terlalu lama aku menghabiskan kurma ini". Beliau pun menyerbu musuh. Hingga beliau pun menemui syahid. Bahkan tidak ada yang bisa mengenali jenazah beliau, kecuali saudarinya. Tubuhnya penuh luka sayatan pedang dan tancapan anak panah.

Fragmen tersebut sangat jelas, jelas sekali. Jiwaku terguncang. Pantaskah hamba ini meraih surga, Ya Alloh. Aku sadar, orang - orang yang akan menegakkan hukum- hukumMu adalah mereka yang kualitasnya layaknya para sahabat.

Aku tidak kuat membayangkan. Akalku gak mampu. Seluruh sendiku lunglai. Di tengah kepungan kematian, iman dan idealisme semakin kuat terhunjam dalam jiwa. Aku bisa membayangkan beratnya Bilal yang dijemur di padang pasir panas. Dadanya ditindih batu. Astaghfirulloh, aku nggak akan sanggup. Andai aku hidup hari itu. Mungkin imanku sudah kugadaikan.

Membayangkan itu semua, hanya membuat tangisanku di malam itu semakin keras. Badanku semakin hebat bergetar. Di manakah posisiku di ayat tersebut?

Sudah sekian tahun, aku mengaku pada semua orang kalau diri ini ada di barisan pejuang agama Alloh. Tidak ada seorangpun yang lupa. Aku adalah orang yang paling kencang berteriak membela kemuliaan agama ini. Akan tetapi, jauh di relung sanubariku. Aku ragu. Aku bimbang. Terbersit tanya di hati, apakah Alloh mengakui diri ini termasuk salah satu orang yang berada di barisan pejuang agama Alloh?

Seringkali aku masih berhitung untung rugi dalam berjuang. Aku masih pelit terhadap akheratku. Masih terselip wahn dalam jiwa. Cukupkah penghasilanku untuk hidup bila aku harus berinfaq? Kebutuhan hidup semakin waktu semakin besar. Ya, masih ada rasa takut dan was - was akan kekurangan. Jika demikian, rasanya peradaban Islam ini layak ditegakkan oleh mereka yang lebih baik dari diriku ini.

Jangan ditanya soal kemampuanku bicara di atas mimbar. Terbersit ragu dalam jiwa. Mengapa orasi - orasiku masih belum mampu menggoyang singgasana - singgasana kekufuran itu? Apakah aku tidak ikhlash? Apakah niatku biar terkenal? Ataukah masih ada takut guna menyuarakan agama ini?

Jika demikian adanya, lalu apa yang tersisa dari diriku ini? Amalan apa yang bisa kubanggakan di hadapan Alloh?

Ah, pede amat aku ini. Tidak ada yang bisa kubanggakan sepertinya di depan Alloh. Lantas, di manakah aku?

Yang pasti diriku ini hanya sebutir debu yang tertatih - tatih menunggu jiwa ini siap. Siap untuk memberikan hal yang kecil untuk agama ini. Paling tidak, yang patut kusyukuri adalah aku masih diberi waktu untuk menunggu dalam penantian akan ampunan dan ridhoMu, ya Alloh. Aku adalah sebutir debu yang bersimpuh di kaki kebesaranMu. Mengemis belai kasihMu. Aku hanyalah sebutir debu yang berusaha tegar dalam mengarungi badai dunia.

#Penulis tinggal di Malang

0 Response to "Mengeja Waktu (Sebuah Refleksi)"

Post a Comment