-->

Mencari Figur Pemimpin Lebih Mudah dengan Mengajarkan Materi Kekhilafahan


 


Perbincangan seputar khilafah kembali menghangat, setelah ide revisi ajaran ini dalam buku Pendidikan Agama Islam yang menjadi pemantiknya usai dilakukan. Terbitnya kurikulum baru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab melalui KMA 183 tahun 2019 menjadi penandanya, menggantikan kurikulum lama yang didasari KMA 165 Tahun 2014. Sebanyak 155 buku pun telah disiapkan, termasuk untuk PAI yang akan menjadi instrumen kemajuan serta mempererat kehidupan berbangsa dan bernegara (detiknews, 11/7). Adapun pembelajaran khilafah, dikemas melalui sudut pandang sejarah yang diwarnai nilai jihad dan moderasi beragama.

Sebagai tindak lanjut implementasi moderasi beragama dikembangkan pula pendirian rumah moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan penguatan bimbingan perkawinan. Sebab penguatan bimbingan perkawinan pada upaya membangun generasi sehat, perlu diperkuat lagi dengan moderasi beragama, kata Menag menandaskan ucapan Presiden Jokowi.

Telaah Isu Moderasi Islam


Hasil revisi buku-buku Pendidikan Agama Islam semakin menguatkan aroma anti radikalisme Islam dan intoleransi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Hal ini sebelas dua belas dengan kata pertama (first word) yang keluar dari Presiden ketika mengumumkan kabinet Indonesia Maju pada 23 oktober 2019. First word tersebut nyatanya tidak terkait dengan korupsi, ketidakadilan ekonomi, atau ketidakadilan hukum dan persoalan lainnya yang sedang menimpa negeri ini, tapi justru berkaitan dengan Radikalisme.

Implikasinya, mekanisme politik Islam phobia untuk menyerang konten Islam seperti, khilafah, jihad, dan lainnya yang dianggap radikal dilakukan dengan massif dan terstruktur dengan maksud agar umat Islam takut dan menjauhi Islam.

Tentu hal ini bukan tanpa alasan. Melalui dokumen terbitan RAND corporation tahun 2003 berjudul Civil Democratic Islam; Partner, Resources, and Strategic terungkap adanya kebijakan AS dan sekutunya atas dunia Islam.

Berupa upaya untuk memetakan kekuatan sekaligus memecah belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai pola untuk mencegah kebangkitan Islam. Sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 2007 RAND menerbitkan dokumen Building Moderate Muslim Networks yang memuat langkah-langkah membangun jaringan Muslim Moderat pro Barat di seluruh dunia, dengan tujuan, membenturkan kelompok Islam Radikal dengan kelompok Islam Moderat.

Memberi dukungan dan mempromosikan mana yang dianggap menguntungkan, serta menempatkan sebagai musuh bagi yang melawan. Khususnya mereka yang bercita-cita melaksanakan syariat Islam, menegakkan khilafah yang melanggar spirit keislaman dan kebangsaan.

Jika hal ini dibiarkan, dampaknya akan semakin besar dirasakan oleh umat Islam, termasuk di dalamnya para pelajar dan generasi muda yang menjadi sasaran tembak bagi realisasi buku-buku agama baru yang bermuatan moderasi ini. Apalagi jika materi khilafah dan jihad yang dinilai radikal itu hanya disampaikan secara dogmatis, berlatar sejarah minimalis. Sekedar memberikan pembenaran bahwa pernah ada jejak khilafah dan jihad dalam ruang peradaban Islam tanpa mengurangi nilai-nilai hukum yang dianggap relevan dengan topik pembahasan, namun dengan penekanan bahwa khilafah dan jihad sudah tidak relevan jika diterapkan di masa sekarang.

Bukankah ini sebuah ketimpangan dan menunjukkan sikap yang tidak fair terhadap Islam ?. Maka sangat mungkin generasi muslim menjadi tidak sehat keislamannya. Karena mengenal ajaran Islam sebagian-sebagian. Miss understanding dengan ajaran khilafah padahal merupakan mahkota kewajiban (tajul furudh) bagi umat Islam.

Lantaran mereka terjebak pada pola kontekstualisasi hukum-hukum Islam yang didasarkan pada nash-nash qath’i yang bisa dirombak begitu saja, menyesuaikan dengan perubahan zaman. Walhasil saat pembelajaran khilafah dan jihad mereka dapatkan, yang terlontar justru kalimat seperti ini: “Ah....teori!. Itukan cuman sejarah masa lalu. Sudah basi!. Gone by gone....”. Sungguh miris dan memprihatinkan, bukan?.

Bila demikian halnya, niscaya generasi Islam akan kehilangan konstruksi berfikir dan paradigma tentang sebuah institusi yang mampu menjadi pelaksana hukum Islam secara sempurna. Lengkap dengan struktur, dan aparatur negaranya, gambaran tentang kepemimpinan Islam yang sesungguhnya, mekanisme kerja dan pelayanan negara atas kebutuhan rakyat, dan segala hal yang menyebabkan sebuah negara mampu menjalankan fungsi sesuai apa yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya.

Akibat yang lebih parah lagi adalah, generasi muslim miskin visi dan misi sebagai negarawan. Sibuk dengan urusan pribadi dan kelompoknya, lupa dengan tugas mulia untuk memberikan pembelaan kepada Islam, menjadi pemimpin-pemimpin yang siap berada di garda terdepan. Menjadi pemenang di kancah pertarungan peradaban. Lantas mengembalikan kemuliaan Islam sebagaimana yang diperbuat generasi pendahulunya yang mulia.

Pemimpin yang Berpihak pada Rakyat, Dirindukan

Saat ini, negara seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim sedang butuh pemimpin yang baik, dan sistem yang baik pula untuk memberikan solusi atas berbagai problematika yang ada. Sebab faktanya, kepemimpinan negara sedang berada di bawah ketiak oligharki, yang ditopang oleh para pemilik modal.

Oligharki politik timbul karena buruknya sistem. Sistem sekuler liberal yang membuka peluang para pemilik modal untuk mengangkangi kekuatan politik kemudian mengatur regulasi dan kebijakan demi kepentingan. Bagi mereka negara sekedar alat untuk melancarkan ambisi bisnis, menumpuk kekayaan, dan melanggengkan kekuasaan. Perkara masa depan negeri, kehidupan rakyat yang sulit dan menghimpit, kesejahteraan yang semakin jauh dari realita, bukanlah urusan mereka.

Bahkan berdasarkan anutan politik bernegara yang mendasarkan pada reinventing government, mereka diharuskan berlepas tangan dari menyelesaikan urusan-urusan rakyat. Kerja dan perannya tidak lebih dari sekedar pembuat kebijakan, dan mengawal pelaksanaannya agar tampak sempurna.

Padahal nyatanya kesengsaraan tetap merajalela. Melaksanakan fungsi-fungsi negara di atas prinsip untung rugi, sehingga pelayanan yang didapatkan rakyat jadi mahal, minimalis dan diskriminatif. Menjadikan publik dan aspek pemenuhan hajat hidup rakyat sebagai objek hegemoni dan agenda bisnis korporasi.

Hasilnya seperti disebutkan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat provinsi Papua sebagai wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi (27,53%) pada Maret 2019. Padahal tambang emas Grasberg di papua adalah termasuk tambang dengan cadangan emas terbesar di dunia, yang setiap harinya memproduksi 240 kg emas. (Majalah Al waie). Peneliti dari lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Zainul Hidayat juga memperkirakan ada 17,5 juta rumah tangga terancam termiskinkan karena penurunan upah dan tanpa pendapatan akibat pandemi covid 19 (bisnistempo.co)

Kenyataan nelangsa bukan hanya ada di sini, namun juga menimpa seluruh negeri di dunia. Sejak 1924 khilafah Islam ditumbangkan oleh Mustafa Kemal Attaturk, kehidupan umat rapuh dan terpuruk. Mudah diperalat dan dipaksa tunduk dengan aturan barat sekuler yang berhasil memisahkan mereka dari aturan-aturan Tuhan. Sebab bagi kapitalis, dogma agama adalah penghalang tercapainya kepentingan dunia, sehingga harus dipinggirkan dan disingkirkan.

Seharusnya hal semacam ini menjadi sebuah wacana bagi para generasi agar dapat membuka cakrawala berpikir mereka. Sehingga semakin memahami realita, bahwa kondisi negeri yang sedang mereka tinggali jauh panggang dari api. Tersebab tangan-tangan oligharki kapitalis telah mencengkeramnya penuh arogansi. Padahal kapitalis saat ini pun hampir mati. Tak bisa banyak berkutik akibat pandemi covid-19.

Maka sungguh, lahirnya pemimpin yang jantan sangat dirindukan oleh umat di masa sekarang ini. Dengan taring-taring yang tajam siap menjadi junnah. Mengentaskan umat dari keterpurukan, kemiskinan dan keterbelakangan. Mengangkat derajat mereka pada ketinggian dan kemuliaan hidup manusia.

Karena itu dibutuhkan sebuah terobosan di luar pilihan yang ditawarkan sistem kapitalis sekuler hari ini, dan solusi itu hanya ada pada Islam. Bila runtuhnya khilafah dulu, menjadi pangkal hancurnya dunia dan menjadi sumber malapetaka. Maka yakinlah bahwa bangkitnya umat ini dari keterpurukan hanyalah dengan mengembalikan kepemimpinan Islam melalui institusi khilafah.

Role Model Kepemimpinan Islam, Kepemimpinan Khilafah

National Intelligence Council (NIC) dalam The Future Global Mapping tahun 2004 menyebut adanya empat kemungkinan kepemimpinan dunia pada tahun 2020.

Pertama, Davod World dengan Cina dan India menjadi pemain utama.

Kedua, Amerika Serikat dengan Pax Americana.

Ketiga, Cycle of Fear atau lingkaran ketakutan yang akan menjadi pangkal lahirnya dunia Orwellian, yang memungkinkan manusia menjadi budak bagi sebuah negara otoriter

Keempat, Kembalinya Khilafah Islam. Pemerintahan global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global. Tegaknya Khilafah adalah pertanda dari kebangkitan dan kemenangan kekuatan Islam.

Inilah cuplikan cara pandang keilmuwan dalam memahamkan manusia tentang apa yang telah atau pun akan terjadi beserta cara menghadapi, maupun mengantisipasinya. Namun kacamata ilmu yang cenderung bertumpu semata-mata pada fakta, terkadang menjadikan manusia bertindak sebaliknya. Pesimis, inferior, lalu cenderung menganggap sesuatu yang sulit difahami dengan ilmu sebagai utopis. Maka demikianlah respon umat terhadap kemungkinan tegaknya kembali khilafah. Tidak sedikit yang menilai hal itu sangat kecil kemungkinannya. Bahkan tak jarang yang menganggapnya khayalan. Cuma Mimpi!.

Disinilah pentingnya kita memandang masalah, apalagi menyangkut masa depan umat. Tidak sekedar dengan kacamata keilmuan dan fakta empiris, namun juga dengan kacamata Tauhid, kacamata Iman. Sebab masa depan adalah rahasia. Tak ada yang mengetahui ilmunya, kecuali Allah swt dengan kemahatahuanNya dan kemahakuasaanNya.

Dengan pandangan Tauhid, Rasulullah saw tak gentar menghadapi tokoh-tokoh Quraisy yang hendak membunuh dan terus mengejar beliau saat berhijrah ke Madinah. Bagitu pun dengan keberanian Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi Rasululah saw di tempat tidur ketika kaum Quraisy mengepung, padahal resikonya adalah kehilangan nyawa. Bila hanya dengan kacamata empirisme, pastilah mental akal runtuh. Coba renungkan. Logika mana yang bisa memberikan jawaban, terhadap apa yang dirasakan Rasulullah saw dan Abu bakar saat berada di Gua Tsur, sementara pasukan Quraisy sudah berada di dekat mereka?

Demikian pula dengan Nabi Ibrahim saat berdiri di atas tumpukan kayu yang siap menyala membakar tubuhnya?. Melalui kacamata Tauhid semua dipandang, dipahami, dirasakan, dan direspon secara berbeda. Tauhid telah membuat mental membaja, tekad semakin kokoh, dan langkah semakin mudah. Al hasil sejarah membuktikan bahwa kekuatan Tauhid-lah yang menang.

Maka dengan kacamata Tauhid pula semestinya umat Islam memandang setiap kewajiban yang Allah tetapkan, termasuk kewajiban penerapan syariah secara kaffah, dakwah, dan persatuan umat serta wajibnya hadir institusi Khilafah bagi penerapan kewajiban itu.

Sebab Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum muslim seluruh dunia. Khalifah sebagai pemimpinnya dipilih rakyat melalui baiat berdasarkan kerelaan mereka. Untuk menegakkan Islam secara komprehensif mulai dari pemenuhan kemaslahatan umat, pelaksanaan hukum syariat atas seluruh rakyat, distribusi zakat, dan menegakkan hudud. Juga mengemban Islam melalui dakwah dan jihad, sehingga lenyaplah hambatan dan penghalang yang menghadang.

Dari ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Saya diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat. Jika mereka melakukan itu maka darah dan harta mereka terpelihara dariku selain menurut hukum islam, dan perhitungan amal mereka kembali kepada Allah ta’ala” (HR Bukhari Muslim)

Agar mampu menjalankan hal tersebut maka khalifah harus independen, tidak terikat dengan sistem-sistem lain yang bisa memberangus kemandiriannya.

Muhammad Al Fatih, sang penakluk konstantinopel adalah figur kepemimpinan Islam, yang telah sukses mewujudkan seluruh syarat kelayakan sebagai seorang pemimpin. Secara keilmuan beliau adalah sosok yang cerdas, mumpuni, dan sangat mencintai ilmu. Al quran, hadits, fikih, dan ilmu-ilmu modern dikuasanya, termasuk bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika mencapai usia 21 tahun-yaitu pada tahun dimana beliau berhasil menaklukkan konstantinopel.

Beliau juga memililki sifat-sifat mulia seorang pemimpin, pemberani, kuat tekad dan pantang menyerah, tegas, dan cinta kebenaran. Pengaruh kepribadian yang dahsyat ini tampak pada keberhasilannya melaksanakan proyek peradaban serta pendirian sebuah negara yang berkembang dan adil seperti yang diinginkan.

Beliau mendirikan banyak sekolah dan institut, mendirikan perpustakaan, dan melaksanakan proyek penerjemahan buku-buku referensi asing dalam berbagai cabang ilmu. Memperhatikan pembangunan masjid dan rumah sakit dengan pengobatan yang dijalankan secara gratis. Meluaskan bidang perdagangan, produksi, dan sistem administrasi, melalui pembentukan dewan yang terdiri dari para ulama terbaik untuk mengawasi penyusunan undang-undang yang digali dari syariat, kemudian dijadikan sebagai dasar hukum negara.

Mengembangkan pengetahuan tentang pasar internasional, dan menguasai jalur-jalur pedagangan laut dan darat, serta memiliki mata uang emas sendiri. Membangun tempat-tempat industri, dan pabrik perbekalan senjata. Juga bangunan berbagai benteng di berbagai lokasi yang memiliki nilai strategis militer.

Muhammad Al Fatih terus bekerja untuk mengembangkan negaranya, berdasarkan arahan kebaikan yang diterimanya yaitu, agar Al Fatih melipat gandakan gerakan jihad Daulah Utsmani, serta menanamkan keyakinan bahwa dialah yang dimaksud dalam hadits Nabi saw: “Sungguh konstantinopel itu akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik panglima adalah panglima (yang menaklukkannya) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menaklukkannya).

Maka gambaran visi misi tauhid yang terang benderang mampu menyulut obsesi sang pangeran dan tekad bulatnya untuk menjadi ‘penakluk’ Konstantinopel. Terlebih lagi beliau berada dalam lingkungan khilafah bersama sang ayah. Terbiasa ikut dalam peperangan, menyaksikan pertempuran, dan pergerakan pasukan.

Dengan demikian Al Fatih telah belajar menjadi seorang politisi dan ahli perang, sekaligus negarawan secara praktis. Hingga tidak mengherankan, setelah beranjak remaja Muhammad Al Fatih memberikan perhatian terhadap kajian sejarah militer, seni politik, dan konspirasi-konspirasi lokal dan internasional.

Membaca berbagai dokumen proyek-proyek Eropa untuk menghancurkan Kekhilafahan Utsmani lalu mengkajinya. Maka beliau selalu bersikap waspada dalam interaksinya dengan negara-negara Eropa di sepanjang hayatnya. Akibatnya, mereka pun tidak mampu mengalahkannya di berbagai medan jihad, melainkan dengan racun kecurangan.

Selama memimpin negara khilafah, Muhammad Al Fatih selalu menjadikan ungkapan Umar bin Khattab sebagai landasan berpijak :

“ Kita menang melawan musuh-musuh kita karena ketaqwaan, maka hendaknya kita orang pertama yang bertaqwa”.

Akankah hal ini menjadi sebuah keteladanan bagi figur pemimpin Islam masa depan?

Oleh: Azizah, S.PdI | Penyuluh Agama Islam

Referensi :
https://news.detik.com/berita/d-5089553/kemenag-keluarkan-kma-183-tahun-2019-untuk-madrasah-ini-isinya
https://www.okezone.com/tren/read/2020/07/03/620/2240500/moderasi-beragama-akan-masuk-kurikulum-sekolah-dan-bimbingan-nikah
https://bisnis.tempo.co/read/1339205/bank-indonesia-konsumsi-rumah-tangga-dan-investasi-turun
Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel, Syaikh Ramzi Al Munyawi
Majalah Al wa'ie no 179 tahun XV, 1-31 Juli 2015
Majalah Al wa'ie edisi Dzulqaidah, 1-31 Juli 2020
Majalah Al wa'ie edisi Rabiul Akhir, 1-31 Desember 2019
Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyyah Menurut Kitab Kuning, Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy
Risalah Akhir Tahun, Ilusi Sejahtera di negara oligharki, MMC

0 Response to "Mencari Figur Pemimpin Lebih Mudah dengan Mengajarkan Materi Kekhilafahan"

Post a Comment