-->

Jalan Menuju Perubahan


 


Oleh: Shakira Hamdani Majidah (Muslimah Cilegon)

Penjajahan terhadap umat Islam diseluruh dunia, sudah terlampau banyak. Kasus-kasus dinegara Palestina, Rohingya, Kashmir, Ughyur, dan sebagainya. Padahal kasus ini sudah banyak terjadi, seharusnya menjadi acuan untuk umat Islam semangat dalam barisan kita membantu saudara-saudara muslim dibelahan dunia yang sedang menunggu bantuan dari umat Islam. Bagaimana agar umat Muslim yang belum mampu bangkit menolong saudaranya tersebut?

Manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikirannya. Pemikiranlah yang akan membentuk dan memperkuat pemahaman terhadap segala sesuatu. Manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan sesuai dengan pemahamannya terhadap kehidupan.

Apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang buruk menjadi baik, maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah pemahamannya terlebih dahulu. Satu-satunya jalan untuk mengubah pemahaman seseorang adalah dengan mewujudkan suatu pemikiran.

Pemikiran yang mampu menguraikan simpul besar, mengenai alam semesta manusia dan kehidupan serta hubungan ketiganya dengan sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya yang melahirkan seluruh pemikiran cabang tentang kehidupan dunia. Mengurai simpul besar mengenai bagaimana bumi yang kita pijak ini adalah seluruhnya berasal dari Allah, lalu kehidupan ini untuk Allah dan kelak semua akan kembali kepada Allah.

Pemecahan masalah tentang alam semesta manusia dan kehidupan serta hubungan ketiganya dengan sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya adalah solusi fundamental. Apabila seluruhnya terurai maka terurai lah berbagai pemecahan masalah lainnya pemecahan akan mengantarkan kita pada kebangkitan yang benar.

Apabila pemecahan itu sendiri benar sesuai dengan fitrah manusia, pastinya akan memuaskan akal dan memberikan ketenangan jiwa atau hati. Karena Islam adalah solusi masalah untuk manusia sesuai pemecahan yang benar dapat ditempuh dengan Alfikru almustanir pemikiran cemerlang.

Pemikiran cemerlang ini adalah pemikiran yang sangat mendalam tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Bagaimana seluruhnya itu diciptakan oleh Allah dan seluruhnya berasal dari Allah, kehidupan ini untuk Allah dan kembali kepada Allah. Dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan pada hari kebangkitan yaitu Yaumul Hisab, sehingga didalam melakukan perbuatan berdasarkan perintah dan larangan.

Manusia menginginkan kehidupan yang berada pada jalan yang mulia mau tidak mau terlebih dahulu mereka harus memecahkan problematika pokok tersebut dengan benar. Melalui berpikir secara cemerlang, pemecahan inilah yang menghasilkan akidah dan menjadi landasan berpikir yang melahirkan setiap pemikiran cabang tentang perilaku manusia di dunia ini serta peraturan-peraturannya.

Akidah menjelaskan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan hidup terdapat Pencipta al-khaliq yang telah menciptakan ketiganya serta yang telah menciptakan segala sesuatu lainnya, yakni Allah ta'ala. Bahwasanya pencipta telah menciptakan segala sesuatu dan tidak ada menjadi ada lebih tepat lagi wajibul wujud, mutlak adanya tidak bersandar kepada apapun dan bukan makhluk, bukti bahwa sesuatu mengharuskan adanya Pencipta yang menciptakannya.

Jalan menuju kebangkitan Islam, memiliki pemikiran ide atau gagasan yang datangnya dari Islam, dan ideologi Islam melahirkan peradaban Islam yang bertitik tolak dari mabda. Ideologi yang melahirkan satu pemikiran, perasaan, dan peraturan-peraturan yang datangnya dari aturan-Nya. Dengan adanya ideologi ini, maka dasar berdirinya negara Islam akan terwujud. Berdirinya negara Islam dapat melalui cara, baik secara ide fikroh yang sampai kepada masyarakat Islam, dan thoriqoh melalui metode pelaksanaan bagi fikroh, yaitu Akidah Islam.

Iman kepada Allah ta'ala itu wajib, iman kepada syariat Islam secara total, yakni Al-Qur'an yang dibawa Rasulullah SAW juga wajib. Hukum-hukum Syariah, berupa perintah dan larangan wajib dipatuhi, karena iman terhadap Syariat Islam tidak cukup dilandaskan pada akal semata tapi juga harus disertai sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak yang datang dari sisi-Nya.

Umat Islam Seperti Satu Tubuh
Sesungguhnya, kaum Muslimin itu bersaudara. Demikianlah Allah menyampaikan dalam firman-Nya,
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat: 10)

Sakit yang dirasakan satu orang Muslim. Seharusnya dirasakan pula oleh saudara Muslim yang lainnya. Rasulullah bersabda, ''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan. Maka, anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam". (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Nabi ﷺ bersabda, ''Salah seorang di antara kamu sekalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri". (HR. Bukhari dan Muslim).

Perasaan seperti ini hanya akan dirasakan ketika kaum Muslimin berada dalam satu ikatan, satu kepemimpinan. Dan itulah yang pernah terjadi di masa kekhilafahan Islam masih tegak menaungi umat Islam.

Dikisahkan seorang budak Muslimah pernah dilecehkan oleh orang Romawi. Ia berteriak meminta pembelaan dari kaum Muslimin. “Waa Mu’tashimaah!” yang berarti “Di mana kau Mu’tashim? Tolonglah aku!”

Seketika Khalifah Mu’tashim yang berkuasa saat itu menjawabnya dengan menurunkan pasukan yang panjang barisannya. Tidak putus dari gerbang istana Khalifah di Kota Baghdad hingga Kota Ammuriah (Turki). Kota Ammuriah dikepung pasukan Khalifah selama 5 bulan. Tercatat 30.000 pasukan Romawi tewas sementara 30.000 lainnya menjadi tawanan. Seperti itulah pembelaan Khalifah kepada seorang budak Muslimah yang dipermainkan kehormatannya. Bagaimana dengan umat Islam saat ini?

Hanya dengan Jaysy Al Islam yang Mampu Menghapus Duka Muslim seluruh dunia

Kisah budak Muslimah yang dibela sedemikan luar biasanya oleh Khalifah kaum Muslimin menunjukkan bahwa kemuliaan seorang Muslim akan terjaga, ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan. Saat itulah kekuatan umat Islam menjelma menjadi sebuah peradaban yang disegani seluruh dunia. Tak ada satu pun umat lain yang berani mempermainkan kaum Muslimin.

Jaysy Al Islam (pasukan Islam) akan serta merta siap membela kehormatan setiap Muslim siapa pun dan di mana pun. Allah subhanahu wa ta'ala telah memperingatkan agar umat Islam berpegang teguh pada tali agama Allah dan melarang bercerai-berai. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”. (QS. Ali Imran: 103).

Maka umat Islam selayaknya hidup dalam satu kepemimpinan di bawah satu bendera. Duka yang merundung Muslim diseluruh dunia akan bisa disingkirkan manakala umat Islam berada dalam satu barisan yang membentuk kekuatan besar tak tertandingi. Kemuliaan dan kehormatan kaum Muslimin akan terlindungi. Dan tak seorang pun akan berani merendahkan apalagi melecehkannya.

Pemimpin kaum Muslimin akan siap mengerahkan pasukan Islam untuk membelanya. Di belakangnya umat Islam melabuhkan keselamatan jiwa, harta, dan kehormatan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya". (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Response to "Jalan Menuju Perubahan"

Post a Comment