-->

Generasi Bangsa dalam Genggaman Liberalisme


 


Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S (Penulis Buku dan Aktivis Dakwah)

Usia muda semestinya menjadi usia paling produktif dalam fase kehidupan manusia. Oleh karena itu, di masa itulah selayaknya prestasi dan karya diukir. Namun miris, kondisi generasi muda di negeri ini justru terjerumus pada lembah kegelapan, mulai dari narkoba, tawuran, hingga seks bebas.

Sebagaimana yang sempat viral baru-baru ini bahwa sebanyak 37 orang remaja SMP di Kota Jambi terjaring razia sedang melakukan pesta seks di sebuah hotel. Di salah satu kamar, didapati adanya seorang wanita dan enam orang pria. Dari informasi yang beredar, mereka melakukan pesta seks demi merayakan ulang tahun.

Kita patut mengurut dada atas realitas suram generasi hari ini. Pun kita harus lekas mengoreksi apa yang salah dari semua itu? Bukankah semestinya generasi muda adalah generasi harapan? Dipundak merekalah masa depan sebuah bangsa diemban. Jika realitanya demikian, apa yang mau diharapkan?

Sangat nyata bahwa generasi muda hari ini berada dalam genggaman liberalisme. Sebuah paham kebebasan yang menggerus nilai-nilai moralitas bahkan agama. Liberalisme menjerat para generasi muda agar berpikir dan bertindak suka-suka tanpa perlu peduli akan batasan-batasan yang ada. Bagi liberalisme, agama merupakan kekangan, yang akan menghambat kemajuan dan kreatifitas. Maka agama harus dipisahkan dari kehidupan. Cukuplah agama berada di ruang sempit kehidupan privat individu. Tak perlu dibawa ke ruang publik.

Padahal keberadaan agama merupakan rambu-rambu bagi setiap manusia agar dapat berpikir dan bertindak sesuai tuntunan Sang Maha Pencipta. Bagi seorang Muslim sudah teramat jelas bahwa syariat telah menetapkan bagaimana seharusnya bergaul yang syari. Islam menutup semua celah menuju seks bebas. Sebab sejatinya seks di luar pernikahan haram hukumnya meski dilakukan suka sama suka.

Islam menetapkan bahwa aktivitas seks di luar ikatan pernikahan disebut dengan zina. Keharamannya jelas dan Allah Swt telah menetapkan hukuman tegas bagi pelakunya, yakni dijilid (dicambuk) sebanyak 100 kali bagi pezina yang belum pernah menikah, sementara dirajam hingga mati jika pelakunya sudah pernah menikah (selingkuh). Itulah bentuk ketegasan Islam dalam menghukumi perilaku zina.  Sanksinya bersifat jawabir (penebus dosa) dan jawazir(pemberi efek jera).

Oleh karena itu, dengan adanya ketegasan sanksi Islam terhadap perilaku zina tersebut, diharapkan tak akan ada yang berani melakukannya. Di luar dari pemberian sanksi, Islam juga telah menetapkan upaya preventif (pencegahan) secara komperhensif, seperti melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan (khalwat), laki-laki dan perempuan bercampur baur (ikhtilat), dan mewajibkan perempuan yang sudah baligh untuk menutup auratnya secara sempurna di hadapan lelaki non mahrom.

Maka, jelaslah Islam melarang relationship before married alias pacaran.  Berbeda dengan sistem kehidupan liberal hari ini, ikatan pacaran sudah dianggap biasa bahkan dilegalkan dalam rangka saling mengenal. Pun membuka aurat dianggap sebagai hak azasi setiap individu, negara tak boleh mengaturnya.

Inilah akar masalahnya, liberalisme pada akhirnya masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan generasi muda. Mengalir dalam darah. Membudaya. Miris!

Pendidikan Salah Arah

Tak hanya itu, sistem pendidikan yang dihadirkan di negeri ini pun layak kita soroti. Betapa tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan hari ini lebih berorientasi pada materi semata ketimbang pembentukan kepribadian anak didik. Anak didik sekolah semata demi mengejar nilai dan prestasi akademik, sementara soal pembentukan kepribadian dan penguatan ketakwaan terhadap Sang Maha Pencipta tidak menjadi prioritas sekolah.

Adapun Pelajaran Agama Islam (PAI) yang diajarkan di sekolah tak mampu menyentuh kebangkitan berpikir anak didik, melainkan sekedar pengenalan teori-teori saja. Anak didik tidak sampai dibentuk pemahamannya terkait darimana dia berasal, untuk apa dia hidup di dunia, hingga akan kemana setelah kematian. Padahal pemaha

man mendasar itulah yang akan mampu melahirkan kepribadian Islam dalam diri anak didik, sehingga mereka mampu menjalani kehidupan sesuai standar syariat.

Minimnya Peran Orangtua

Genggaman liberalisme pada generasi anak bangsa kian erat tatkala orangtua sangat minim dalam perannya mendidik buah hati. Di tengah sistem kehidupan yang serba sulit seperti hari ini, banyak orangtua yang terpaksa harus berjibaku dengan dunia kerja, baik ayah maupun ibu, demi mencukupi ekonomi keluarga. Akhirnya kebersamaan dengan anak-anak sangat minimalis.

Orangtua tidak dekat dengan anak. Dan aktivitas anakpun akhirnya tidak terpantau secara optimal. Padahal kelurga merupakan benteng pertama dalam membentuk generasi unggulan. Apalagi seorang ibu yang seharusnya menjadi sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Dalam Islam, peran seorang ibu dipandang sangatlah sentral, karena di tangan ibulah anak-anak dibentuk. Namun mirisnya, di sistem hari ini banyak anak yang tak hanya kehilangan peran ayah, tapi juga peran ibu. Motherless dan fatherless menjadi gejala yang mewabah di setiap keluarga. Sehingga banyak anak yang kering kasih sayang keluarga dan lebih dekat dengan teman-temannya.

Menghadirkan Solusi

Sungguh, kondisi yang menimpa generasi muda hari ini sejatinya menjadi masalah kita bersama, bukan masalah orangtuanya saja. Karena faktor-faktor penyebabnya bersifat sistemik, maka kita harus menyelesaikannya secara sistemik pula.

Paham kebebasan (liberalisme) semestinya dicabut hingga ke akar-akarnya. Kembali kepada aturan Islam secara kaffah dalam semua lini kehidupan adalah jawaban solutif demi terciptanya generasi bangsa berkepribadian unggul yang akan mampu membangun peradaban gemilang di masa depan. Wallahu'alam bi shawab. (Radar Sulbar, 15 Juli 2020)

0 Response to "Generasi Bangsa dalam Genggaman Liberalisme"

Post a Comment