-->

Bule 'Pemangsa' ABG, Indonesia Gagal Lindungi Anak


 


Penulis: Indah Nurul Hidayah, SP.

Kasus pencabulan anak di bawah umur kembali terjadi. Polda Metro Jaya mengungkap, warga negara asing (WNA) asal Prancis, Francois Abello Camille (FAC) alias Frans (65) diduga menyetubuhi 305 bocah.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana mengatakan, kasus terungkap berdasarkan laporan masyarakat setelah curiga seorang korban ditawari pekerjaan sebagai model oleh pelaku. Korban diajak ke sebuah hotel dengan iming-iming melakukan sesi pemotretan. (Radar Bogor, 9/06/2020).

Kasus seperti ini bukan hal yang baru di Indonesia ini. Kasus JIC dan kasus Emon pun pernah menggemparkan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Tindakan pedofil seperti ini sangat meresahkan para orang tua. Anak-anak berada dalam bahaya. Terlebih negara pun tidak memberikan perlindungan yang jelas terhadap rakyat khususnya anak-anak.

Di sisi lain, kasus seperti ini merebak karena beberapa faktor.

Pertama, dari segi hukum, hukuman yang terlahir dari rahim demokrasi ini tidak tegas dalam menghukum pelaku pedofil. Kalaupun dijerat hukuman, hanya sebatas penjara beberapa tahun. Begitu bebas dari hukuman penjara, tidak ada jaminan pelaku tidak akan mengulangi perilaku bejatnya. Terlebih lagi, karena ketidaktegasan hukum ini, pelaku pedofil berkeliaran dengan bebas dan memangsa anak yang tak berdosa.

Kedua, dari segi perlindungan anak, saat ini tidak ada hukum perlindungan anak yang jelas. Anak-anak dibayang-bayangi 'setan' pedofil yang berkeliaran. Makin parah lagi, perilaku pedofil ini makin canggih melalui media sosial. Berawal berkenalan, berlanjut pada pertemuan.

Ketika pun menjadi korban, anak-anak tidak mendapat perlindungan yang jelas. Justru yang terjadi anak menjadi korban kekerasan seksual dan trauma yang sulit terobati. Lebih parah lagi, generasi pun terancam karena mengalami trauma berat.

Sebagai diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 18 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 16 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal dua belas tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (12 tahun atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia(wikipedia.org) Pelaku pedofil mengaku, hasrat itu muncul ketika rangsangan semakin tinggi ketika melihat anak-anak.

Jelas dari kasus pedofil saat ini menjadi bukti kegagalan kapitalis demokrasi dalam melindungi anak. Hukum yang tidak tegas serta tidak adanya perlindungan terhadap anak merupakan bukti dari kegagalan sistem ini. Kasus pedofil terjadi berulang-ulang dan sekuler demokrasi pun tak kunjung menyelesaikan masalah secara mengakar.

Hal ini sangat berbeda dengan hukum Islam. Islam hadir dengan aturan yang komprehensif menyelesaikan masalah kehidupan secara tuntas dan mengakar. Islam memiliki aturan yang jelas dan tegas dalam menindak pelaku pedofil ini.

Dari sisi keluarga, tentunya orang tua harus menjaga dan melindungi anak-anak dari kejahatan orang asing. Anak diberi pemahaman bagaimana menghadapi orang asing. Selain itu orang tua pun harus mengawasi secara ketat bagaimana anak-anaknya bergaul. Terlebih dengan kecanggihan teknologi saat ini melalui media sosial, orang tua mesti bersikap tegas terhadap anak. Kontrol orang tua berupa nasihat, mengawasi penggunaan gadget, serta mengawasi pergaulan anak-anak. Hal ini merupakan tindakan preventif yang dilakukan orang tua.

Dari segi media, negara mesti mengawasi secara tegas situs-situs atau akun yang disinyalir menjadi perantara pelaku pedofil dalam mencari korban. Sehingga jaringan-jaringan pedofil seperti ini bisa terciduk sebelum melakukan kejahatan.

Dari segi hukum, jelas perilaku pedofil ini merupakan perilaku yang terkategori kriminal. Karena melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Syariah Islam telah menetapkan hukuman untuk pelaku pedofilia sesuai rincian fakta perbuatannya, sehingga haram hukumnya membuat jenis hukuman di luar ketentuan syariah Islam. (QS Al Ahzab : 36). Rincian hukumannya sbb :

(1) jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina (had az zina), yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) (HR Bukhari no 6733, 6812; Abu Dawud no 4438) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan (QS An Nuur : 2);

(2) jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati, bukan yang lain;

(3) jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 1480; Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hlm. 93).

Tampak jelas, ketika aturan Islam dalam mencegah tindakan pedofil ini. Keluarga yang merupakan benteng awal harus menjadi pelindung utama bagi anak-anak. Media pun diawasi secara ketat agar tidak menjadi sarana bagi pedofil menemukan mangsanya.

Selain itu, negara pun mengeluarkan sanksi yang tegas menjadi solusi pamungkas dalam menangkal pedofilia. Hukuman ini jelas hanya bisa diberlakukan dalam sistem Khilafah yang menerapkan seluruh syariat Islam dalam wadah negara.

0 Response to "Bule 'Pemangsa' ABG, Indonesia Gagal Lindungi Anak"

Post a Comment