-->

TADABBUR Q.S. AL-HAJJ: 78

 
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Hari ini kita mentadabburi Q.s. al-Hajj: 78. Ayat terakhir dari Q.s. al-Hajj. Kali ini, kita akan mengikuti penjelasan dari Tafsir an-Nasafi, Madariku at-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil, kitab tafsir yang menjadi Muqarrar di al-Azhar, dan direkomendasikan oleh al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, rahimahullah.

Simaklah firman Allah:

(وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” [Q.s. al-Hajj: 78]

Ketika Allah berfirman:

(وَجَاهِدُوا) “Dan berjihadlah kamu”

Menurut Imam an-Nasafi, ada tiga konotasi. Pertama, perintah berjihad, dengan konotasi perang fisik. Kedua, memerangi hawa nafsu, dan itu merupakan jihad akbar. Ketiga, menyampaikan kalimat yang haq di depan penguasa yang zalim.

Kemudian ditegaskan oleh Allah, bahwa semua itu karena-Nya, bukan karena yang lain; untuk-Nya, bukan untuk yang lain, dengan frase:

(فِي اللَّهِ) “Karena Allah.” Bukan karena yang lain.

(حَقَّ جِهَادِهِ ۚ ) “Dengan sebenar-benarnya jihad.” Tidak takut sedikit pun terhadap cacian, bulliyan dan hinaan pencaci, pembully dan penghina, semata karena Allah. Itu merupakan sebenar-benar orang yang alim, dan sesungguh-sungguhnya orang alim. Dengan kata lain, itu adalah orang alim yang sebenar-benarnya, dan sesungguh-sungguhnya.

(هُوَ اجْتَبَاكُمْ) “Dia telah memilih kamu.” untuk mememperjuangkan dan menolong agama-Nya.

(وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ) “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..”

Karena konteks ayat ini terkait dengan jihad, berperang melawan hawa nafsu dan menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang zalim, yang terbayang dan dirasakan oleh manusia pasti perasaan haraj [berat]. Terlebih, perintah ini beresiko. Resiko kehilangan jiwa, raga dan harta. Maka, Allah menyatakan, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..”

Imam an-Nasafi menjelaskan, “Justru Dia telah memberikan rukhshah kepada kalian dalam semua perkara yang telah ditaklifkan, seperti dalam masalah bersuci, shalat, puasa, haji, tayamum, qashar, tidak berpuasa karena udzur bepergian dan sakit..”

Jadi, semuanya itu membantah, bahwa Islam ini kaku, sulit, konservatif, tidak moderat, bahkan tidak manusiawi. Jelas, semuanya itu dibantah oleh Allah. Bahkan, jihad, berperang melawan hawa nafsu dan menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang zalim pun justru untuk menghilangkan haraj. Karena justru melalui jihad inilah, semua kesulitan hidup akan hilang.

(مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ) “(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.”

“Millah” [agama tauhid]. Karena, tauhidnya sama. Yang berbeda hanya syariahnya. Allah menggunakan kata, “Abikum” [Bapak kamu], meski bukan ayah bagi seluruh umat Islam, tetapi Nabi Ibrahim adalah ayah dari Nabi Ismail ‘alaihimassalam, yang melahirkan Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallama. Sedangkan kita, sebagai umat baginda Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallama dihukumi sebagai anak-anak baginda Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallama. Sebagaimana baginda sampaikan dalam hadits:

(إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ)
“Sesungguhnya aku, bagi kalian tak ubahnya seperti ayah.” [Hr. Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah]

(هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا)
“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Quran) ini.”

Kemudian Allah berfirman:

(لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ )
“Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.”

Rasul menjadi saksi kita, ketika kita hidup di dunia. Apakah perbuatan kita sesuai atau tidak dengan syariat-Nya. Karena tugas Rasul itu menyampaikan risalah, berisi kabar gembira [pahala-surga] dan ancaman [dosa-neraka]. Kelak, kita tidak mempunyai alasan di hadapan Allah, ketika perbuatan kita dikonfrontir dengan Rasul, yang menjadi saksi di hadapan-Nya. Allah berfirman:

(رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا)

“Rasul-rasul yang membawa kabar gembira dan peringatan, supaya manusia itu tidak mempunyai hujah di hadapan Allah, setelah diutusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Q.s. an-Nisa’: 165]

Kita juga akan menjadi saksi bagi seluruh manusia, bahwa Rasul telah menyampaikan dan menerapkan syariat-Nya, sehingga pelanggaran mereka terhadapnya ketika di dunia tidak bisa diterima. Karena itu, Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallama beberapa kali meminta kesaksian para sahabat, saat khutbah Wada’, saat di al-Ghadir setelah selesai Haji Wada’, “Apakah saya sudah menyampaikan risalah Tuhanku?” Para sahabat dan yang hadir saat itu menjawab, “Tentu, kami semua telah menjadi saksi.”

Allah kemudian menyatakan: (فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ) “Maka, Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.”

Imam an-Nasafi menjelaskan, “Dengan seluruh kewajibannya… dan seluruh persyaratannya.”

Allah lalu menitahkan: (وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ) “Berpegang teguhlah kepada Allah.”

Imam an-Nasafi menjelaskan, “Percayalah dan yakinlah kepada Allah. Berserahdirilah kepada-Nya.” Lalu, Allah menutupnya dengan:

(هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ)
“Dialah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” [Q.s. al-Hajj: 78]

Seolah Allah ingin memberi alasan, mengapa harus berpegang teguh kepada-Nya? Jawabannya, karena, “Dialah Pemilik kalian, Penolong kalian dan yang Mengurus urusan kalian.” Bukan hanya pemilik, penolong dan pengurus biasa. Tetapi, “Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” Karena, kemaksiatan kita kepada-Nya tak membuat-Nya menghalangi rizki kita. Dia juga menjadi sebaik-baik Penolong, yang Maha Menolong kalian dalam ketaatan.

Maka, sungguh beruntunglah, siapa saja yang menjadikan-Nya sebagai Pelindung dan Penolong-Nya.

Bogor, 19 Ramadhan 1441 H
12 Mei 2020 M

0 Response to "TADABBUR Q.S. AL-HAJJ: 78"

Post a Comment