-->

Politik luar negeri Nabi, Futuhat atau Penjajahan?


 

RESUME KAJIAN ONLINE AMPUH 07/05/20
Oleh :Ustaz Wahyu Hidayat

Bicara tentang politik luar negeri Rasulullah tidak akan lepas dgn negara yg dibangun pertama kali oleh Rasulullah yakni Daulah islam yang kemudian dilanjutkan oleh kekhilafahan seterusnya

politik luar negeri adalah eksistensi dan mercusuarnya suatu negara. peradaban emas khilafah telah menjadi buah bibir masyarakat dunia, melalui politik luar negeri yang luar biasa tentu polugri hilafah tidaklah berdiri sendiri.ia adalah bagian dari keseluruhan akidah dan syariat islam dalam institusi negara

Dalam negara khilafah akidah islam adalah asas sebagai seluruh bentuk hubungan yang dijalankan oleh kaum muslimin,menjadi pandangan hidup yang khas,menjadi asas dalam menyingkirkan kezaliman, menyelesaikan perselisihan,menjadi asas dalam kegiatan ekonomi,perdagangan, kurikulum pendidikan,kekuatan militer dan urusan-urusan yang lain

Apa yang menjadikan prinsip dasar politik luar negeri Rosululloh, tiada lain adalah mendakwahkan islam ke seluruh penjuru dunia

Dakwah islam oleh khilafah menjadi asas negara dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain dalam bidang politik ekonomi dan sebagainya.
perkara inilah yang telah dilakukan oleh rasulullah SAW sejak membangun negara islam di madinah, Yakni berdasarkan misi mengemban dakwah, baik dalam hubungan peperangan, perdamaian, gencatan senjata,ataupun urusan-urusan yang lain

perkara ini pula yang diikuti oleh para khalifah sebagai kepala negara islam selama berabad-abad hingga risalah islam dan penaklukan islam atau pun futuhat mencapai negeri negeri yang sangat luas dan jauh. mulai dari arab sampai ke persia,syam,mesir,afrika dan kawasan asia tengah bahkan sampai jantungnya eropa sebagian wilayah prancis sampai menyentuh gerbang austria,ke arah timur

dakwah islam pun sampai ke negeri kita indonesia, lalu apa yang menjadi prinsip dasar semua aktivitas tadi,tiada lain adalah firman Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahu. QS.Saba:28

politik luar negeri negara khilafah tegak berdasarkan pemikiran yang tetap,tidak berubah yakni menyebarkan islam ke seluruh dunia dilaksanakan dengan thorikoh yang tetap dan tidak berubah yakni jihad.

Metode ini dijalankan oleh rasulullah sejak negara islam di madinah sampai runtuhnya khilafah islam turki usmani tahun 1924 M saat rasulullah di madinah beliau menyiapkan tentara dan menyiapkan jihad untuk menghilangkan berbagai bentuk halangan fisik yang mengganggu dakwah islam

Rasulullah berhasil menyingkirkan hambatan fisik dari institusi pemerintahan mulai dari kaum kafir quraisy dan kabilah kabilah lain di jazirah arab hingga islam menyebar luas ke penjuru dunia dengan menyingkirkan para penguasa zalim dan institusi pemerintahan yang menghalangi dakwah

Islam dapat sampai ke umat secara terbuka,mereka juga melihat dan merasakanislam langsung merasa tentram dan nyaman hidup di bawah kekuasaan islam. Rakyat diajak memeluk islam dengan cara sebaik-baiknya tanpa paksaan dan tekanan. Dengan penerapan hukum islam inilah berjuta-juta manusia di dunia tertarik dan memeluk agama islam

Ditegaskan dalam hadis Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ibnu Abbas ra.:

مَا قَاتَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْمًا قَطٌ إِلاَ دَعَاهُمْ
Rasulullah saw. tidak pernah sekalipun memerangi suatu kaum, kecuali setelah beliau menyampaikan dakwah kepada mereka.

Keagungan Polugri Khilafah

Pertama, kehebatan penyebaran Islam.

Dalam waktu sekitar 10 tahun, dakwah Islam yang bermula dari Madinah, dapat tersebar ke seluruh penjuru Semenanjung Arab dan mulai menggedor kekuasaan Romawi di Syam pada Perang Mu’tah. Dalam waktu sekitar 10 tahun, Khilafah Islam mengakhiri imperium Persia dan mengintegrasikannya ke dalam Islam pada tahun 643 M.

Keagungan sistem Islam ini secara jujur disampaikan Carleton S, Chairman and Chief Executive Officer Hewlett-Packard Company, saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 hingga 1600 (masa Kekhilafahan):

“Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudra ke samudra lain; dari iklim utara hingga tropik, dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku… Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.” (Pidato tanggal 26 September 2001 berjudul “Technology, Business, and Our Way of Life: What’s Next”

Kedua, daya integrasi.

Sistem Khilafah berhasil membawa kesejahteraan bagi manusia di seluruh dunia, baik Muslim maupun non-Muslim. Sistem Khilafah juga memainkan peranan penting dalam membawa Islam ke seluruh pelosok dunia lewat dakwah dan jihad; menyatukan Jazirah Arab, Persia, Afrika, sebagian Eropa dan Asia.

Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Bangsa-bangsa itu memberikan saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang administrasi pemerintahan, perkembangan ilmu dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu.

Ketiga, menaungi pihak yang lemah.

Sebagai negara adidaya, Khilafah tidak melakukan hegemoni buruk dan tindakan unilateral yang merugikan. Justru Khilafah adalah negara besar yang menjadi tempat bernaung negara-negara yang lemah dan dizalimi negara musuhnya.

Kesultanan Aceh yang sedang berperang melawan Portugis, misalnya, dibantu oleh Khilafah Islam dengan bantuan pasukan. Pasukan Khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577) –termasuk para ahli senjata api, penembak, dan para teknisi- untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatra) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.

Saat di Amerika berkecamuk perang antara Pemerintah Federal Amerika yang baru berdiri dengan Inggris pada abad ke-18, Khilafah Islam memberikan bantuan pangan terhadap rakyat Amerika Serikat yang dilanda kelaparan pascaperang. Surat ucapan terima kasih resmi pemerintah AS tersimpan rapi di Museum Aya Sofia Turki.

Di Aya Sofia juga dipamerkan surat-surat Khalifah (“Usmans Fermans”) yang menunjukkan kehebatan Khilafah Utsmani dalam memberikan jaminan, perlindungan, dan kemakmuran kepada warganya maupun kepada orang asing pencari suaka, tanpa pandang agama mereka.

Yang tertua adalah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 925 H (1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman Inkuisisi Spanyol pascajatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia

Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah, 30 Jumadil Awal 1121 H (7 Agustus 1709).

Ada juga surat tertanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865 M) yang memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah beremigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera.

Yang paling mutakhir adalah peraturan bebas cukai atas barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah Utsmani pasca-Revolusi Bolschewik, tertanggal 25 Desember 1920.

Wallahu’alam.

0 Response to "Politik luar negeri Nabi, Futuhat atau Penjajahan?"

Post a Comment