-->

Merindu Sosok 'Umar' Di Tengah Pandemi Corona

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Revowriter Waringin Kurung)

"Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalian." (Umar bin Al Khaththab).

Setelah Abu Bakar Ash Shidiq wafat pada 21 Jumadilakhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah ke-2. Sosoknya yang sangat menispirasi umat. Bahkan dalam tayangan Ramadhan berkali-kali diputar filmnya, sosok pemimpin yang sangat luar biasa di mata umat.

Beliau sosok yang tegas dan keras dalam amar makruf nahi Munkar, lembut terhadap kebaikan dan kebenaran. Setelah masuk Islam beliau bertekad akan menjadi pejuang Islam di barisan terdepan dan menebus kesalahan yang pernah dilakukan di masa jahiliah. Sosok yang sangat dirindukan umat saat ini, apalagi di tengah wabah pandemi Corona, pemimpin yang ada belum memberikan ketegasan dalam bersikap menghadapi wabah.

Sebagai pemimpin, Umar telah memberi contoh yang baik bahwa predikat pemimpin adalah amanah dari Allah Swt. Sabda Baginda selalu terpatri dan berusaha untuk diaplikasikan, "Pemimpin adalah pelayan umat dan akan dimintai pertanggung jawaban tentangnya." (HR. Bukhari Muslim)

Maka apapun yang dilakukan sebagai pemimpin semata-mata untuk kebaikan rakyatnya bukan yang lain. Pernah suatu ketika di masa Umar terjadi wabah pada Rabiul Awwal di tahun ke delapan Hijriah, Umar sempat berdebat dengan Abu Ubaidah, Gubernur Syam soal wabah penyakit dan takdir. Wabah terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk dekat Syam.

Awalnya  sang Amirul Mukminin itu berencana melakukan kunjungan ke Syam yang ketika itu sudah bergabung dengan kekuasaan Islam. Sampai di Saragh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang ketika itu disebut menjabat gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahu Umar bahwa wilayah Syam sedang terjadi wabah penyakit, mendapat kabar tersebut Umar memutuskan berhenti di Saragh.

Untuk mencari pendapat apakah Umar tetap melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah, setelah sebelumnya berdiskusi dengan para ahli yang lain belum menemukan solusi. Umar berkata: "Tolong panggilkan aku sesepuh Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukkan Makkah," kata Umar kepada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas pun memanggil tokoh Quraiys yang dimaksud Umar, kepada  Umar mereka menyarankan agar mengurungkan niat untuk mendatangi Syam mendatangi daerah yang terkena wabah penyakit. Umar sepakat dan kembali ke Madinah. "Aku akan berangkat besok pagi (ke Madinah) mengendarai tungganganku, maka kalian pun berangkat besok pagi mengendarai tunggangan kalian," kata Umar.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. "Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?" kata Abu Ubaidah. "Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya," Jawab Umar bin Khattab. Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah. Hingga kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah SAW:
"Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya."
Umar bin Khattab kemudian meminta Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam juga meninggal dunia terkena wabah.

Wabah penyakit di Syam baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat gubernur. Dia mencoba menganalisa penyebab munculnya wabah dan kemudian melakukan isolasi, orang yang sakit dan sehat dipisahkan. Wabah penyakit di Syam pun perlahan-lahan mulai hilang.

Sosok Umar bin Al Khaththab dan  Amr bin Ash sangat dirindukan dan dinanti dalam
kondisi negeri seperti saat ini, menghindar dari daerah wabah memang menghindar dari takdir tapi untuk bertemu dengan takdir yang lain, jawaban yang keluar dari lisan yang penuh keimanan dan tetap logis. Lalu, apakah Abu Ubaidah salah? Tentu tidak, karena semua adalah pilihan dan memiliki takdir masing-masing.

Hikmahnya, bahwa di masa Rasulullah Saw dan Umar pernah terjadi wabah, solusi yang dicontohkan adalah karantina/isolasi/lockdown agar wabah tidak menyebar ke daerah lain. Untuk melakukannya harus terdorong dari keimanan bukan yang lain, jika beriman pada Baginda Nabi Saw tentu akan segera melakukan yang dicontohkannya. Hikmah lain, jika tetap di tempat wabah maka kemungkinan terkena dan meninggal ini contoh dari kisah Abu Ubaidah dan Mu'adz bin Jabal.

Terdapat riwayat lain, jika umat muslim menghadapi wabah yang menular dan mematikan disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.
‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)." (HR Bukhari). Allhu A'lam Bi Ash Shawab[]

0 Response to "Merindu Sosok 'Umar' Di Tengah Pandemi Corona"

Post a Comment