-->

Falsafah Kepemimpinan Dalam Islam


Oleh. Azi Ahmad Tadjudin
(Mudir Ma'had Uswatuh Hasanah Purwakarta)

Pemimpin dalam Islam dikenal dengan Istilah Raa['in] yang berarti penggembala. Tugas penggembala itu harus mengurusi gembalannya yang tiada lain adalah rakyat yang dipimpinnya (al-Imaamu Raa'in Wahuwa Mas'uulun 'an Ra'iyyatihi). Seorang penggembala  mesti memastikan bahwa gembalaannya dalam kondisi sehat, aman dan bisa makan dengan baik. Seorang pemimpin harus bisa menjamin dua hal penting pada rakyat gembalaannya, yaitu: kebutuhan pokok yang dikonsumsi, serta rasa aman dan ketenangan dari segala bentuk ancaman (QS.Al-Quraisy: 4).

Kepemimpinan itu hakikatnya milik Allah Subhanahu Wata'la (Maalik al-mulk). Maka ketika sang Pemilik sejati itu menyatakan sebagai pemimpin, Dia mendeklarasikan dan menyatakan dalam al-Qur'an bahwa Dialah Pengurus, Pengatur dan Pemelihara manusia, alam semesta dan kehidupan (Qs. 114:1-3). Dia Mengatur pergantian siang dan malam (Qs.3:190). Dia Menurunkan air hujan dari langit sebagai sumber kehidupan bagi tumbuhan, buah-buahan, binatang dan manusia (Qs.2:21). Dia Mengatur segala urusan langit dan bumi. Dia Menjamin seluruh kebutuhan makhluk hidup dengan sempurna (Qs. 11:4).

Kekuasaan  mutlak itu ada pada genggaman-Nya, namun dalam urusan menjaga, merawat dan mengurus bumi ini, Allah mandatkan (istikhlaaf) secara langsung kepada manusia (QS. 2:30). Manusia pertama yang mendapat mandat dan amanah kekuasaan itu ialah Adam Alayhissalam. Mandat kekuasaan itu namanya Khalifah. Maka Khalifah itu adalah mandaris Allah di muka bumi yang bertugas menjalankan setiap peraturan perundang-undangan yang diciptakan-Nya untuk menjaga, memelihara dan memakmurkan bumi. Tugas dan posisi seorang Khalifah di bumi yaitu menjadi pemeran pengganti dalam mewujudkan kedaulatan hukum-hukum Allah di muka bumi (Yakhlufunii Fii Tanfiidz al-Ahkam).

Pemeran pengganti terbaik sepanjang sejarah adalah para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka diabadikan kisah-kisahnya dalam al-Qur'an karena mereka menjadi teladan bagi umat pada masanya juga teladan bagi generasi setelahnya. Sejak Khalifah pertama Nabi Adam Alayhissalam hingga Nabi Muhammad Shallaahu Alayhi wasallam diutus, mereka  telah berhasil menjalankan amaah dengan baik. Peran mereka semua sebagai wakil Allah dalam menyampaikan risalah-Nya, keteladanan dan ketaatan mereka semua telah diabadikan Allah dalam Ayat-Ayat al-Qur'an.

Keteladanan mereka selama menjadi wakil Allah, terlihat jelas dalam ketaatannya ketika menjalankan seluruh perintah-Nya. Seperti Nabi muhammad Shallaahu Alayhi wasallam memerankan seorang pribadi yang taat menjalankan shalat ketika Tuhannya menyeru, "Aqiimussholaah" ( dirikanlan shalat). Muhammad memerankan Qadhi (hakim) dalam menyelesaikan sengketa hukum yang diajukan kepadanya dengan al-Qur'an ketika Tuhannya menyeru  "Fahkum Baynahum Bimaa Anzalallah". Muhammad menjadi sosok panglima perang, saat Tuhannya menyeru, "Waqaatiluu fii sabiilillaah". Intinya setiap seruan Allah yang disampaikan dalam al-Qur'an, pasti dijalankan dengan baik oleh para nabi utusan Allah. Itulah tugas utama seorang khalifah yaitu merespon setiap seruan Allah dan menerapkannya dalam semua aspek kehidupan.

Seruan-seruan Allah dalam al-Qur'an bersifat kekal dan abadi. Seruan- seruan itu telah menggerakkan keimanan para sahabat nabi setelah ia wafat. Seruan itu mengetuk relung hati Abu Bakar, Umar, utsman, Ali dan para sahabat mulia lainnya, hingga sepak terjang mereka diabadikan dalam sejarah menjadi manusia teladan  sepanjang masa. Seruan yang sama juga telah melahirkan sosok manusia teladan lainnya seperti Muhammad al-Fatih yang berambisi merespon bisysyaarah (kabar gembira) nubuwwah menjadi panglima terbaik menaklukkan konstantinopel.

Kegagahan Allah sebagai al-Aziz, terwujud pada sosok  penggantin-Nya, ketika orang-orang kafir berambisi akan menghinakan agama-Nya. kekuatan Allah sebagai al-Quwwah, terwujud pada sosok pengganti-Nya, ketika memimpin pasukan perang berjihad di jalan-Nya. kemurahan Allah sebagai Ar-Rahiim dihadapan makhluknya, terwujud pada sosok pengganti-Nya, ketika rakyatnya membutuhkan makanan. Kebaikan Allah sebagai ar-Razzaaq, pemberi rezeki, terlihat pada sosok penggantinya ketika rakyatnya kesulitan mencari rezeki saat wabah melanda negerinya. Itulah keberadaan sosok para pemimpin yang menjadi bayang-bayang Allah di muka bumi, lantas jika para pemimpin hari ini tidak menjadi wakil-wakil Allah, serun yang sama dalam al-Qur'an juga tidak direspon dengan baik, maka hakikatnya mereka menjadi wakil siapa? Wallaahu A'lam bi shawab.

0 Response to "Falsafah Kepemimpinan Dalam Islam"

Post a Comment