-->

Putra Padang Pasir di Negeri Romawi, Shuhaib Ar-Rumy


Kontributor : @mfarisabulkhair
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Mungkin namanya tak terdengar asing, gelar Ar-Rumy yang dimiliki olehnya senantiasa dihafalkan oleh ahli sejarah dan para pengarang. Hanya saja, banyak yang belum mengetahui bahwa Shuhaib bukan berasal dari Romawi, melainkan orang Arab asli.  Nama aslinya adalah Shuhaib bin Sinan. Ayahnya berasal dari Bani Numair, sedangkan ibunya dari Bani Tamim.

Shuhaib memiliki fisik yang bagus. Wajahnya tampan, rambutnya tebal dan berwarna merah, kulitnya putih kemerahan, badannya tidak terlalu tinggi tetapi tegap. Benar-benar memancarkan kharisma. Dilain sisi, ia juga seorang yang begitu tenang, memiliki humor yang bagus, dan otak yang cerdas.

Shuhaib lahir dari keluarga yang mapan. Ayahnya adalah seorang hakim di Ubullah, Persia. Ia dan keluarganya tinggal di bangunan yang bagus dan dekat dengan sungai Eufrat.

Suatu ketika tentara Romawi menyerbu kota ini, mereka merampok dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib. Setelah di tawan, ia diperjualbelikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar yang lain. Masa kanak-kanaknya ia habiskan sebagai seorang budak di negeri Romawi. Akibatnya, dialeknya pun sudah seperti orang Romawi, hal inilah yang menyebabkan ia dipanggil Shuhaib Ar-Rumy.

Pengembaraannya yang panjang sebagai budak berakhir di Mekkah (sumber yang lain menyatakan bahwa ia melarikan diri ke Mekkah). Majikannya yang terakhir membebaskan Shuhaib, bahkan memberikannya kesempatan untuk berniaga bersama. Setelah sukses, ia memiliki tabungan emas dan perak yang banyak.

Setelah menetap di Mekkah, ia begitu sering mendengar berita mengenai Nabi Muhammad ﷺ. Berita ini lambat laun membuatnya penasaran, sehingga ia memutuskan untuk menemui Rasulullah ﷺ dan mendengar langsung penjelasan tentang aqidah Islam. Suatu ketika Shuhaib pergi ke rumah Arqam bin Abu Arqam, ia tak sengaja berjumpa dengan Ammar bin Yasir. Saat itu Rasulullah ﷺ masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah tersebut.

Setelah tak sengaja berjumpa, Shuhaib dan Amar saling melemparkan pertanyaan, ternyata mereka berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu menjumpai Rasulullah ﷺ. Lalu mereka masuk ke dalam rumah Arqam menemui Rasulullah ﷺ. Keduanya mendengar dengan khidmat penjelasan tentang Islam, lalu memutuskan untuk bersyahadat saat itu juga. Secara sembunyi-sembunyi mereka keluar dari rumah itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, tekanan dan siksaan dari kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi. Hal ini mendorong orang-orang Islam untuk hijrah menuju ke Madinah, tak terkecuali Shuhaib. Namun, orang-orang Quraisy telah mengetahui rencana tersebut. Mata-mata disebar ke seluruh penjuru kota Mekkah, sehingga langkah Shuhaib akan sulit. Bahkan ketika malam menyelimuti bumi pun, mata-mata Quraisy terus mengintai.

Shuhaib tak kehabisan akal, pada suatu dini hari, ia berulang kali masuk kamar mandi seolah-olah sakit perut. Melihat hal ini, mata-mata Quraisy yang tadinya terus bersiaga menjadi lengah. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Shuhaib, ia langsung memacu kudanya keluar dari Mekkah. Setelah mengetahui bahwa Shuhaib berhasil kabur, orang-orang Quraisy langsung menyusulnya.

Mengetahui hal ini, Shuhaib pergi menuju tempat yang cukup tinggi lalu berteriak, "Hai orang-orang Quraisy, kalian mengetahui bahwa aku mahir dalam memanah. Demi Allah, kalian tak akan berhasil mendekatiku sebelum kulepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini. Dan setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tangan ini habis semua. Nah, majulah kesini kalau kalian berani! Tetapi kalau kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta benda milikku asal kalian membiarkan aku pergi."

Pasukan Quraisy berkata, "Hai Shuhaib, dulu kamu datang kepada kami tanpa harta. Sekarang kamu hendak pergi hijrah sambil membawa pergi hartamu? Hal ini tidak boleh terjadi." Mendengar hal ini, Shuhaib berkata, "Apakah kalian menerima tawaranku?." Pasukan Quraisy setuju dan untuk melepaskan Shuhaib dengan imbalan harta. Shuhaib memang dikenal sebagai seorang yang jujur, sehingga mereka percaya bahwa Shuhaib tak akan berbohong.

Sesampainya di Quba, ia mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ yang sedang dikelilingi oleh para sahabat. Ketika mendengar salamnya, Rasulullah ﷺ langsung berseru bergembira, "Beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya!." Ucapan ini diulang hingga dua kali. Padahal tak ada sahabat yang melihat dan terlibat dalan peristiwa tersebut kecuali Shuhaib sendiri. Tentu saja atas izin Allah, Malaikat Jibril yang menyampaikannya kepada Rasulullah ﷺ.

Shuhaib juga dikenal sebagai pendamping setia Rasulullah ﷺ. Ia dikenal lihai dalam memanah. Ia tak pernah absen dalam peperangan yang diikuti langsung oleh Rasulullah ﷺ. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Shuhaib menyumbangkan baktinya kepada Khalifah Abu Bakar dan Umar.

Disaat terjadi penikaman Khalifah Umar, Shuhaib langsung ditunjuk sebagai pengganti imam. Umar berkata, "Shalatlah kalian bersama Shuhaib." Padahal saat itu kaum Muslimin belum memutuskan siapakah yang bakal menggantikan Umar sebagai Khalifah.

Selanjutnya Umar juga berkata, "Jangan kalian takut kepada Shuhaib karena dia seorang maula (hamba yang dimerdekakan). Dia tidak akan memperebutkan jabatan Khalifah ini." Begitulah para sahabat, rasa persaudaraan yang begitu kuat menghapus rasa curiga diantara mereka.

Shuhaib meninggal di Madinah pada bulan Syawal 38 H/ 658 M. Begitulah manisnya iman, bahkan manusia yang awalnya budak dapat tinggi kedudukannya di antara manusia atas izin Allah.

Referensi:
1. Pramono, M.Pd.I., Teguh (2015). 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah
2. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh (1997). Sirah Nabawiyah
3. Hidayatullah.com
4. Republika.co.id

0 Response to "Putra Padang Pasir di Negeri Romawi, Shuhaib Ar-Rumy"

Post a Comment