-->

Penulis : M Taufik NT

Secara umum, adanya musibah, termasuk wabah adalah akibat dosa-dosa manusia.
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. As Syûro: 30)

Zainab binti Jahsy bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ
“Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”.

Beliau menjawab:
قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, benar jika keburukan telah merajalela”.[1]

Hanya saja, musibah yang merupakan persekot adzab bagi pendurhaka tersebut justru merupakan rahmat bagi orang yang beriman yang bisa bersikap dengan benar, yakni untuk meningkatkan derajat mereka.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah ﷺ menjawab:
أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ
“Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”.[2]

Pahala yang besar itu Allah janjikan kepada yang memenuhi syarat-syaratnya, yakni:

1. Beriman
Sebagaimana dalam hadits tersebut: “Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman”.

2. Meng’karantina’ Diri
Dalam riwayat Ahmad dikatakan: “Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya…” Dalam hadits lain: dia tinggal di negerinya[3] juga sabda Nabi:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari).[4]
إِنَّ هَذَا الطَّاعُونَ رِجْزٌ سُلِّطَ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، أَوْ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا فِرَارًا مِنْهُ، وَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا
“Sesungguhnya wabah tha’un ini adalah siksaan yang ditimpakan kepada umat sebelum kalian atau kepada Bani Israil. Maka apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar lari daripadanya. Dan bila penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu.” (HR. Muslim)[5]

3. Sabar
Sabar adalah meninggalkan berkeluh kesah karena musibah kepada selain Allah.[6] Keluh kesah sama sekali tidak akan meringankan masalah, sementara sabar akan menjadikan kehidupan terasa nikmat sebagaimana kata Amîrul Mukminin, ‘Umar bin al Khattab:
وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ
“Kami mendapatkan nikmatnya kehidupan kami[7] dengan adanya kesabaran”[8]

4. Mengharap Pahala dan Ampunan Allah
Yakni, dengan kesabarannya dia berharap ampunan dan rahmat dari Allah Ta’ala. Nabi saw bersabda: Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih).

5. Yakin Bahwa Itu Tidak Terjadi Kecuali Atas Izin Allah
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” (QS. al-Taghabun: 11)

Keyakinan ini harus tertancap dalam sanubari setiap muslim. Namun bukan berarti menyuruh manusia pasrah tanpa berusaha. Izin

Allah terkait terjadinya musibah banyak Dia kaitkan dengan kaidah sebab akibat. Karena itulah, Rasulullah tetap bersembunyi tiga hari di gua Tsur saat hijrah beliau, tetap menyiapkan peralatan perang dan baju besi saat berjihad, tetap menyuruh umatnya menjauhi wabah, padahal beliau orang yang paling mantap akidahnya. Ketika Allah mengizinkan/menentukan terjadinya sesuatu maka Dia akan menjadikan adanya sebab-sebab sesuatu tersebut, meskipun sebenarnya Dia sangat mampu melakukannya tanpa sebab apapun.

Jika lima hal tersebut terdapat pada diri seseorang, maka tertular wabah bukanlah suatu hal yang buruk baginya, justru itu merupakan kasih sayang Allah kepadanya.

Bagaimana dengan sikap orang yang masih sehat saat wabah? Seorang ulama tabi’in, Masruq bin Ajda’ (w. 63 H) beliau berdiam diri di rumahnya saat wabah tha’un menyerang. Ia berkata :
أيامُ تشاغُلٍ فأُحِبُّ أن أخلوَ للعبادة
“Ini adalah hari-hari penuh kesibukan (dengan ibadah), maka aku senang menyendiri untuk beribadah.”

Lalu mulailah ia mengasingkan diri dan menyepi untuk beribadah di rumahnya.[9]

Beliau melakukan itu bukan karena imannya lemah, bukan karena takut dengan wabah, namun karena mengamalkan hadis Nabi sebagaimana di atas. Tentu hal ini berbeda dengan orang yang tidak mau ke masjid untuh berjamaah namun masih berkeliaran di pasar, lalu beralasan ikut fatwa MUI, tentu beda.

Lebih dari semua itu, musibah ini hendaknya menjadikan manusia tersadar bahwa mereka adalah mahluk lemah, yang tidak pantas menyombongkan diri di hadapan Allah dengan meremehkan hukum-hukum syari’ah-Nya, merasa lebih pintar untuk membuat aturan hidup sendiri lalu mempersekusi siapa saja yang menginginkan ketundukan sempurna kepada Allah Ta’ala. Jika menghadapi corona yang tidak kasat mata saja kalang kabut, lalu bagaimana mau menghadapi Sang Pencipta Alam Semesta?. Allâhu A’lam.

[1] Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Pentahkik. Muhammad Zuhair bin Nashir, Cet. I. (Dâr Tûq al-Najâh, 1422), Juz 4, h. 138; Muslim bin Hajjâj, Shahih Muslim, Pentahkik. Muhammad Fuad Abd al-Baqi (Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-Arabi, tt), Juz 4, h. 2207.
[2] Ahmad bin Hanbal Al-Syaibani, Musnad Al-Imam Ahmad, Pentahkik. Syu’aib al-Arnauth dkk (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 2001), Juz 43, h. 235.
[3] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 4, h. 175.
[4] Ibid., Juz 7, h. 130.
[5] Hajjâj, Shahih Muslim, Juz 4, h. 1738.
[6] Ali bin Muhammad bin Ali az-Zain as-Syarif Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, Cet. I. (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1983), h. 131.
[7] (خير عيشنا) أي لذة العيش ومتعة الحياة
[8] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz 8, h. 99.
[9] Abu Abdillah Muhammad Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqât al-Kubrâ, Pentahkik. Muhammad Abd al-Qadir ’Atha, Cet. I. (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), Juz 6, h. 143.

0 Response to " "

Post a Comment