-->

MUHASABAH CORONA, MUHASABAH BERBANGSA DAN BERNEGARA


Oleh : Nasrudin Joha

Virus Corona adalah musibah, dunia berduka karena Corona. Hanya saja, negeri ini, bangsa ini, ditimpa musibah lain yang lebih dahsyat.

Musibah yang lebih berbahaya dari Corona, musibah yang telah, sedang dan terus dipraktikkan. Musibah kedustaan, pengkhianatan dan kezaliman rezim terhadap rakyatnya.

Sejak awal, rezim ini tak mengambil langkah preventif antisipatif yang maksimal untuk mencegah dan menanggulangi Corona. Rezim justru berulang kali menjual mitos "Indonesia Zero Corona". Kegawatdaruratan tidak diterapkan, bahkan rezim justru mengultimatum para netizen yang mengingatkan bahaya Corona.

Isu hoax kembali diangkat, rezim mengancam siapapun yang dianggap menebar hoax Corona. Akses Corona yang menimbulkan kerugian ekonomi, justru menjadi arah dan arus utama pokok pikiran yang menggelayuti rezim. Bukan kekhawatiran atas keselamatan dan nyawa rakyat.

Program pertama yang digulirkan bukan melakukan proteksi terhadap rakyat yang belum terjangkit, mencegah semua potensi penularan virus Corona dari orang dan barang yang berpotensi menularkan virus. Tak ada proteksi melalui serangkaian screening arus barang dan orang baik melalui laut (pelabuhan), udara (bandara) maupun darat (stasiun dan terminal).

Tidak pula, rezim melakukan serangkaian upaya isolasi terhadap orang yang telah terjangkit atau berpotensi terjangkit virus Corona. Apalagi, melakukan serangkaian penelitian dan penelaahan untuk mencari obat atau antivirus Corona.

Rezim justru sibuk mengobral anggaran negara untuk membayar buzzer. Agar Coruna dibersihkan dari isu, agar wisata kembali menggeliat, agar bisnis kembali jalan. Jadi yang ada di pikiran rezim hanya duit, duit dan duit. Keselamatan rakyat nomor sekian.

Yang menyakitkan, para pembesar-pembesar rezim juga mengeluarkan pernyataan yang tak pantas. Corona disebut bisa sembuh sendiri, Corona tidak lebih bahaya dari difteri, masker mahal menyalahkan pembeli, Corona aman karena doa qunut, Corona bisa diatasi dengan makan nasi kucing, dan seabrek pernyataan nyeleneh lainnya.

Hingga, dunia internasional tak mempercayai Rezim. Arab Saudi menutup umroh, dan menolak pesawat dari Indonesia. WHO, Australia, dan sejumlah negara tak percaya dengan statement zero Corona Indonesia. 

Mulailah rezim bicara, ada warga Indonesia terjangkit Corona. Mulailah, rezim tergagap menghadapi Corona. 

Corona yang semestinya murni persoalan medis, persoalan melindungi kesehatan dan nyawa rakyat, masih dijadikan panggung politik untuk meraih simpati dan elektabilitas politik. Saling silang pendapat antara pemerintah pusat dengan daerah, seolah sedang terjadi kontestasi politik, seperti sedang kampanye pemilu saja.

Pemerintah pusat dan daerah yang semestinya saling bersinergi justru nampak berkompetisi. Tindakan proteksi dan isolasi tidak lagi diambil secara koordinatif dan komprehensif.

Kepala daerah mengambil inisiatif mandiri, sementara Pemerintah pusat gagal membuat direksi. Pemerintah pusat tak paham mau memberi instruksi apa ke daerah, sampai gagapnya Pemerintah justru melibatkan BIN untuk melawan Corona.

Satu daerah menutup sekolah, tidak begitu dengan daerah lain. Satu wilayah menutup akses publik, kerumunan publik, tidak atas daerah lain. 

DKI Jakarta dan Jawa tengah melakukan upaya-upaya hingga peliburan sekolah, tidak dengan jawa timur. Entah, upaya mana yang paling baik, sebab semua pimpinan daerah diberi wewenang membuat tafsir mandiri atas isu Corona. Tak ada instruksi dan guiden menyeluruh dari pemerintah pusat.

Corona yang sudah terbuka menyerang, masih mau di intip-intip oleh BIN. Bahkan, BIN juga ikut-ikutan menjadi juru taksir, kapan Corona ini akan berakhir.

Ditengah kondisi Corona yang mengkhawatirkan ini, beredar video Jokowi masih sempat membuat "adegan kamera" agar tampil ciamik didepan publik. Padahal, Menhub Budi Karya Sumadi telah positif terjangkit Corona.

Diduga kuat, beberapa menteri kabinet termasuk presiden yang pernah melakukan rapat terbatas, berpotensi terdampak Corona. Beberapa orang baik pejabat maupun umum yang berinteraksi dengan Menhub berpotensi terdampak Corona juga.

Entahlah, presiden masih tetap sederhana, sesederhana saat awal menjabat gubernur DKI setelah meninggalkan amanah dari Solo. Tak ada arahan tegas dan jelas dari Negara, terkait wabah Corona.

Atas situasi sulit ini, rakyat terpaksa melakukan "ijtihad" sendiri. Berusaha melakukan langkah proteksi dan antisipasi, sejauh yang bisa dilakukan secara mandiri.

Sebagian yang lain, akhirnya justru tenteram dengan modal TAWAKAL kepada Allah SWT. Arena yang menjadi takdir, akhirnya dihadapi dengan pendekatan iman.

Namun area ikhtiar, tak lagi bisa diambil secara maksimal, karena semestinya negara yang mengambil peran itu, justru bertindak amatiran, persis seperti kritik yang ditulis the Jakarta post.

Malalui tulisan ini, mari segenap bangsa Indonesia, agar melakukan muhasabah total, agar segera meninggalkan maksiat. Sesungguhnya, tak ada satupun bala' yang menimpa umat manusia, tanpa izin Allah SWT.

Allah SWT tak akan menurunkan bala' dan petaka, kecuali agar manusia kembali kepada Allah SWT. Kembali taat dan segera meninggalkan maksiat. Kembali kepada hukum Allah SWT dan segera meninggalkan demokrasi kufur buatan manusia.

Tidak cukup berpasrah, tidak cukup bertawakal, kita wajib mengambil ikhtiar maksimal untuk mengembalikan umat manusia, kembali pada ketaatan, kembali menyembah hanya kepada Allah SWT, berhukum dengan hukum Allah SWT dan meninggalkan hukum selainnya. Semoga, musibah Corona ini mampu mengembalikan kita pada visi pencipta kita, yakni menyembah hanya kepada Allah SWT semata. [].

0 Response to "MUHASABAH CORONA, MUHASABAH BERBANGSA DAN BERNEGARA"

Post a Comment