-->

KEUNGGULAN PENDIDIKAN DAN HAK-HAK PEREMPUAN DI BAWAH KHILAFAH


Penulis :  Dr. Nazreen Nawaz

Selama puluhan tahun, para sekularis telah merajut jalinan kebohongan tentang masalah hak pendidikan, kondisi anak perempuan dan perempuan di bawah kekuasaan Islam. Para peneliti telah memanipulasi data dengan membuat angka buta huruf huruf yang tinggi, kurangnya akses pendidikan bagi perempuan di bawah rezim sekuler di dunia Islam, yang digunakan untuk menuduh Islam, bahwa Islam telah merampas hak pendidikan dari perempuan.

Tujuannya adalah untuk menyebarkan ketakutan akan kembalinya pemerintahan Islam di bawah naungan Khilafah berdasar metode kenabian.  Namun kebenaran tentang status pendidikan perempuan di bawah kekuasaan sistem Islam yang mulia ini jauh dari tuduhan dan kebohongan para sekularis palsu itu. 

Benar, wahyu Islam membawa pandangan yang berbeda untuk dunia menuju menuntut ilmu dan pendidikan. Aktivitas belajar dan mengajar terjalin erat dengan agama dan dilihat sebagai kewajiban kepada tuhan, dan karenanya menjadi sarana untuk mendapatkan imbalan yang besar di akhirat. Nabi (saw) bersabda,

«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ» (رواه مسلم)

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

Oleh karena itu, Islam menetapkan proses menuntut ilmu merupakan hal yang mulia, diklasifikasikan sebagai aktivitas ibadah, dan membuat ukuran untuk menentukan derajat individu, maka menaikkan status ulama. Allah (swt) berfirman,

﴿يَرْفَعُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ﴾

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Dan Nabi (saw) bersabda,

«وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Dan keutamaan ahli ilmu di atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sesungguhnya ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Qais bin Katsir)

Dien Islam juga mewajibkan menuntu ilmu Islam baik kepada laki-laki maupun perempuan sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ» (رواه ابن ماجه)

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Selain itu, Islam mendorong laki-laki dan perempuan untuk mempelajari dunia di sekitar mereka untuk mendapatkan penghargaan yang lebih besar dari Pencipta mereka, serta untuk memanfaatkan semua yang telah diciptakan Allah (swt) untuk manusia di dunia ini dengan efektif dalam rangka untuk memberikan manfaat bagi umat manusia di segala bidang - termasuk ilmu pengetahuan, kedokteran, industri, dan teknologi. Allah (swt) berfirman,

﴿إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِى تَجۡرِى فِى ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ۬ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا وَبَثَّ فِيہَا مِن ڪُلِّ دَآبَّةٍ۬ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَـٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ﴾

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [Al-Baqarah : 164]

﴿وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا مِّنۡهُ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Al-Jathiya: 13]

Semua ini menciptakan rasa haus di dalam diri kaum Muslim untuk memperoleh semua bentuk ilmu, serta terpacu baik Muslim maupun Muslimah untuk mengejar pendidikan dan beasiswa di berbagai bidang dan menjadi guru bagi orang-orang lain.

Hal ini juga membentuk dasar dari penghargaan tinggi Khilafah kepada pendidikan untuk laki-laki dan perempuan, tercermin dalam investasi besarnya dalam pembangunan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, madrasah, universitas, perpustakaan, dan observatorium serta dalam pelatihan untuk para guru selama berabad-abad zaman pemerintahan Islam - semua ini untuk menjamin akses yang luas terhadap pendidikan bagi warganya.

Banyak 'Rumah Pengetahuan' (Dar al-Ilm) didirikan pada abad ke-9 dan abad ke-10 Masehi di provinsi-provinsi Timur dan Barat Negara Khilafah. Khalifah Harun ar-Rasyid, salah satu penguasa Abbasiyah awal memerintahkan bahwa setiap masjid harus memiliki sekolah. Pada abad ke-11, Wazir Nizam al-Mulk mendirikan sistem sekolah dalam pendidikan tinggi di seluruh dunia Muslim, termasuk di kota-kota seperti Baghdad, Mosul, Basra, dan Herat.

Pada abad ke-12, Khalifah Nuruddin mengikuti jejaknya dengan mendirikan banyak lembaga serupa di Damaskus dan kota-kota besar lainnya. Cordoba saja memiliki 70 perpustakaan. Jumlah kuttab (guru) di dunia Muslim meningkat pesat sampai-sampai hampir setiap desa memiliki kuttab sendiri. Dan pada satu masa di dalam pemerintahan Islam, terddapat 74 perguruan tinggi di Kairo, 73 di Damaskus, 41 di Yerusalem, 40 di Baghdad, 14 di Aleppo, 13 di Tripoli, dan di samping berbagai lembaga di kota-kota lain, yang memberikan pendidikan gratis kepada puluhan ribu murid.

Sementara itu, sejumlah universitas bergengsi yang dikenal secara internasional untuk keunggulan akademiknya didirikan di seluruh negara bagian dan menjadi pusat-pusat pembelajaran bagi elit intelektual dunia dan lembaga-lembaga yang didatangi murid dari seluruh dunia dengan berbondong-bondong. Termasuk Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko yang dibangun pada 859 M, Universitas Al-Azhar di Mesir yang didirikan pada 970 M, Universitas Mustansiriya University di Baghdad yang didirikan pada 1227 M, Universitas Sankore di Timbuktu, Mali, yang dibangun pada abad ke-14 M, dan Universitas Istanbul di Turki yang didirikan pada abad ke-15.

Sumber : t.me/GuruMuslimahInspiratif

0 Response to "KEUNGGULAN PENDIDIKAN DAN HAK-HAK PEREMPUAN DI BAWAH KHILAFAH"

Post a Comment