-->

KARAWANG Jendela ditutup, tapi Pintu tetap terbuka untuk Corona

Dalam banyak kesempatan, saya sering mengatakan bahwa Karawang adalah rumah besar kita. Tempat dimana kita tinggal & tumbuh bersama.

Layaknya rumah, pasti ada pintu, jendela, ruang tamu, ruang keluarga, kamar utama, kamar anak, dapur dll.
Bagitupun ketika wabah virus Corona Covid 19 menyerang rumah besar kita, KARAWANG. Banyak pihak yg terhenyak, kaget, tidak siap & gagap. Tapi tak bisa menghidar dari kenyataan, semua hrs dihadapi & diselesaikan !

Jauh hari, sejak Januari saya sdh sngt khawatir dgn perkembangan virus ini, meskipun saat itu pernyebarannya msh diluar negeri. Sementara Karawang sedang asyik bergeliat politik menjelang suksesi Bupati & Wakil Bupati sehingga saat itu bahaya corona msh dianggap sbg angin lalu.

Dan wara-wiri politik jelang pilkada dimedia sosial, dibaliho, spanduk maupun aktivitas kampanye tatap muka dilingkungan masyarakat akhirnya sontak buyar, tertelan oleh fakta hasil test yg menyatakan bahwa Bupati Cellica positif Corona. Tepatnya, Selasa sore tanggal 24 Maret 2020.
Boooom, semua seperti terbelalak bahwa bahaya corona sudah didepan mata..!

Karawang sebenarnya tak perlu gagap, karena sejak tanggal 2 Maret kasus pertama positif Corona di Indonesia, ini sdh menjadi sinyal kuat untuk kita sbg warga Karawang. Karena selain memiliki Bupati seorang dokter, letak geografis Karawang juga sangat dekat dengan Jakarta yang merupakan 'pintu masuk' Corona dari luar negeri. Dan Jakarta adalah epicentrum penyebaran Corona di Indonesia..!
Jadi, Early Warning Corona thd Karawang sangat mudah dirasakan.

Selanjutnya pada tanggal 14 Maret 2020, sepuluh hari sebelum Bupati Cellica dinyatakan positif, saya sudah mengingatkan di media sosial bahwa Karawang adalah wilayah tertinggi potensi Corona di Jawa Barat dengan jumlah ODP (Orang Dalam Pengawasan) terbanyak yaitu 88 orang !
Saat itu juga kita sudah meminta para petinggi Karawang utk segera meliburkan sekolah, membentuk tim penangulangan corona dll

Namun yg menurut saya salah fokus dan ngawur adalah ketika sejumlah pejabat di Karawang menyimpulkan bahwa Musda HIPMI yang digelar tanggal 08-11 Maret 2020 sebagai pintu masuk Corona ke Karawang. Acara yg dianggap menyebabkan Bupati & sejumlah pejabat lainnya terpapar Covid 19.

Lalu karena Musda HIPMI dianggap sebagai pintu masuk Corona, sehingga penelusuran penyebaran suspect dimulai secara urut kacang dari peserta Musda. Ini ngawur, gagap dan kurang efektif..!

Jika merunut dari awal berdasar data di Provinsi Jabar maupun Kemenkes RI. Sumber penyebaran Corona itu dari luar negeri, dan pintu masuknya adalah Jakarta serta sejumlah kota besar yg bisa diakses melalui penerbangan internasional, pelabuhan dll.
Anggaplah untuk Karawang, pintu masuk yang terdekat adalah Jakarta. Hal ini terbukti dengan adanya data lebih dari 60 orang terdeteksi ODP di Karawang sebelum tanggal 8 Maret. Artinya potensi suspect corona itu sudah banyak sebelum musda Hipmi digelar !

Dan data itu belum termasuk tenaga kerja asing (WNA) yg jumlahnya lebih dari 3.500 orang, yg setiap hari berinteraksi diwilayah Karawang.

Jadi, menurut saya Musda Hipmi itu hanya jendela dimana corona bisa masuk ke Karawang, yg kebetulan disana ada Bupati yg dinyatakan positif, sehingga menjadi gaduh.

Tetapi sesungguhnya pintu utama masuknya corona ke Karawang adalah mereka yg datang dari negara2 terdampak corona, para tenaga kerja asing yg berinteraksi dengan sesama WNA yg wara-wiri keluar negeri, mereka yg mondar-mandir Karawang ke Jakarta sebagai epicentrum penyebaran corona.

Kemudian mereka berinteraksi di pabrik2, dikawasan industri, disejumlah hunian, di Mall, di hotel dll, lalu oleh warga Karawang virus itu dibawa ke rumah masing2.

Bisa dibayangkan jika seorang WNA suspect Corona bekerja sekantor dengan 50 orang warga Karawang, setiap hari berinteraksi lalu dibawa pulang ke rumah masing2, ke perumahan, pemukiman, angkutan umum dll. Seberapa besar potensi yg terpapar corona..? Bisa RIBUAN ORANG !!

Hingga saat ini ada ratusan ODP, ribuan WNA yg belum di test corona masih berkeliaran bebas dimana2. Seharusnya mereka lah yg dikarantina, rapid test, diurut kacang sebagai salah satu potensi tertinggi penyebar virus corona di Karawang !

Sementara ini bidikan tim anti corona Kab. Karawang nampaknya msh berkutat di circle pasien corona pasca musda Hipmi Jabar di SwissBell Hotel Karawang. Terbukti, masih lingkaran itu saja beserta sejumlah keluarga pejabat yg kini difasilitasi guyuran 15 milyar penangulangan Corona.
Itu seperti ada virus masuk melalui jendela kamar, kemudian hanya kamar itu saja yg disterilisasi. Sementara pintu masuk dibiarkan terbuka, membiarkan virus masuk & menyebar ke seluruh ruangan rumah.

Sementara masyarakat hanya dianjurkan diam di rumah, dalam kebingungan untuk mendapatkan sumber mata pencaharian, kebingungan kesehatan & keselamatan jiwa mereka. Tak banyak yg bisa diperbuat.

Disisi lain, puluhan ribu buruh, para pekerja sektor informal, pakerja lepas masih harus berjuang mencari nafkah. Nyaris tanpa perlindungan, tanpa kepastian sampai kapan mereka bekerja ditengah ancaman wabah..?

Rakyat seperti ditinggalkan berjuang sendirian ditengah himpitan ekonomi & penyakit. Sementara para tenaga medis berjuang dalam sepi, dengan segala resiko & keterbatasan.

Ayo lah... Karawang itu daerah kaya dengan APBD menembus 4,5 trilyun, ribuan industri, beberapa kampus, serta banyak sekali orang2 cerdas & elemen lain yang bisa menjadi bagian dari solusi.
Pemerintah jangan sok pintar, merasa paling memahami kebutuhan rakyat. Karena itulah awal kesalahan para pejabat kita..!  Sok Tau..!!

Jangan pula merasa cukup dengan dana 15 milyar utk menyelesaikan Corona, tanpa data & salah strategi maka uang itu akan jadi sampah atau bancakan sejumlah oknum.

Inilah momentum dimana kita bersatu padu, untuk nyelamatkan 2,9 juta jiwa masyarakat penghuni rumah besar kita.

Karawang tandang melawan Corona..!

#CatatanKangAIS

0 Response to "KARAWANG Jendela ditutup, tapi Pintu tetap terbuka untuk Corona"

Post a Comment