-->

Al Aqsha; The Final Stage


By :Gen Saladin | @gen.saladin

Kalau kamu suka permainan game, dan pasti setidaknya pernah memainkan game walaupun sekali, kamu akan tahu bahwa dalam setiap permainan akan selalu ada final stage, level akhir permainan dimana kamu akan melawan musuh terbesar untuk mencapai poin tertinggi. Jika lawan terbesar itu sudah kamu kalahkan, berarti kamu secara otomatis adalah pemenang game tersebut.
.
Nah, ketahui juga teman-teman, dunia ini tidak berjalan secara datar tanpa stage pertarungan, bukan sekedar tempat numpang dengan taman-taman bunga, riak air sungai dan canda tawa. Dunia ini, adalah a great game, dan bagi umat Islam secara khusus dan umat manusia secara umum, Al Aqsha adalah the final stagenya.
.
Al Aqsha, berulangkali disebut dalam Al Quran dan hadits, juga literatur sejarah sebagai latar akhir pertarungan besar antara kebenaran dan kejahatan. Disanalah final stage ketika kelak Umat Islam hampir mencapai puncak kebangkitannya kembali, dan Al Aqsha menjadi mahkota terakhir yang mesti direbut dari yahudi untuk membebaskan dunia dari kezaliman.
.
“Tidak akan hadir hari kiamat, sampai umat Islam memerangi yahudi”, sabda Rasulullah, “hingga berkata pohon dan batu; wahai muslim! Ada yahudi di belakangku, perangilah ia!”, kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohonnya bangsa yahudi.
.
Mengapa Al Aqsha bergitu berharga? Dan mengapa harus ia yang menjadi simbol yang diperebutkan banyak kekuatan di dunia? Jawabannya karena “siapa yang menguasai Palestina, maka ia akan menguasai dunia”, kata Syaikh Ali Muqbil sebagaimana juga dikatakan oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.
.
Menyelamatkan Al Aqsha adalah menyelamatkan dunia. Penjahahan yang terjadi atas Al Aqsha itulah juga bermakna penjajahan atas dunia. Jika merdeka Al Aqsha merdekalah dunia, jika terkungkung Al Aqsha maka terkungkunglah dunia pula dalam kepalsuan.
.
Itulah mengapa suatu hari khalifah Abdul Malik bin Marwan ditanya, “wahai Amiral Mukminin, mengapa Qubbah As Sakhrah kau tulis di sekelilingnya dengan surat Yasin?” Maka ia menjawab, “Sebagaimana Yasin adalah jantung Al Quran, maka Al Aqsha adalah jantung umat Islam!”
.
Jika jantungnya selalu kita bela dan bertekad kita selamatkan, maka jangan takut masa depan, jangan khawatir zaman baru milik siapa, sebab dengan membelanya berarti kita sedang membuat jaminan sebuah hari baru ketika keadilan dan kebenaran jadi tuannya. Selamat membela Al Aqsha, masjid yang dibela Rasulullah, yang dimenangkan oleh Umar, diperjuangkan Nuruddin Zanki, dibebaskan kembali oleh Shalahuddin. Selanjutnya kamu, saatnya melalui semua stage, menuju Al Aqsha, our final stage!

0 Response to "Al Aqsha; The Final Stage"

Post a Comment