-->

Valentine Day, Adakah Dalam Islam ?


Valentine Day tidak dikenal di dalam Agama Islam. Dan ummat Islam tidak butuh untuk merayakan itu. Erat sekali Valentine Day itu dengan kegiatan gereja/kegiatan ummat kristiani. 

Valentine Day sendiri merupakan ajang maksiat dimana pasangan-pasangan tidak halal menjadikannya sebagai waktu bercumbu. Jangan latah.

Allaah Ta'ala berfirman :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hadid : 16)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan :

ولهذا نهى الله المؤمنين أن يتشبهوا بهم في شيء من الأمور الأصلية والفرعية

“Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai mereka (orang kafir) dalam hal apapun, baik dalam perkara pokok (ushuliyyah) maupun cabang (furu’iyyah)”. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/20).

Di antara ayat yang mempunyai kandungan yang sama seperti ini adalah firman Allah Ta’aala :

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا وَاقٍ

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”. (QS. Ar-Ra’d : 37)

Juga ingat sabda Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ 

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Ahmad)

Sudah jelas bahwa ayat-ayat serta hadits tersebut memerintahkan kaum muslimin untuk tidak mengekor kepada orang orang kufur dalam kekafiran dan budaya mereka.  Serta menegaskan bahwa penyerupaan atas suatu kaum meniscayakan ia bagian dari kaum tersebut. 

Bukankah Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar berdoa kepada-Nya dengan doa keteguhan dalam Islam,  setiap kali menegakkan shalat? 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (QS. Al-Fatihah[1] : 6).

Kemudian Allah Ta’aala mengenalkan jalan itu, dalam firman-Nya :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. (QS. Al Fatihah : 7)

Karena jalan ini diberi rintangan berupa perkara yang akan membuat rusak kelurusannya, maka Allah menambahkan keterangan yang telah lalu dengan memperingatkan orang-orang yang menempuh jalan lurus tersebut dari jalan-jalan yang ditempuh oleh umat-umat yang lain, dalam firman-Nya :

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah :7)

Jalan itu adalah jalannya Yahudi dan Nasrani.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ 

“Yahudi adalah (umat) yang dimurkai dan Nashara adalah (umat) yang sangat sesatnya”. (HR. At-Tirmidzi No.  2954)

Kita tidak akan pernah dan tidak boleh mengikuti kaum Yahudi,  Nasrani,  Majusi,  Buddha,  Hindu dan keyakinan keyakinan kufur lainnya. 

Jangan sampai kita termasuk bagian, sebagaimana yang disebutkan Rasulullaah mengenai kondisi ummat Islam akhir zaman. 

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ  سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ والنَّصَارَى ؟. قَالَ : فَمَنْ ؟ (متفق عليه).

“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah yang ada pada pada umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya pula”. Kami [para shahabat] bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah mereka orang-orang Yahudi dan Nasrani ?”. Beliau menjawab : “Siapa lagi ?" (Muttafaq ‘alayh).

Ini adalah bentuk ikhbar tahdziri [pemberitahuan yang sifatnya peringatan] dari Baginda Nabi. Maknanya bukan berarti kita bersikap biasa saja ketika banyak ummat Islam mengikuti gaya hidup Yahudi dan Nasrani. Tapi, seharusnya kita mengingatkan mereka agar jangan sampai terjerumus. Jangan sampai terjatuh pada lubang kehinaan seperti hal nya Yahudi dan Nasrani.


🌸🍃 Sebar Ilmu, Raup Pahala Besar..

0 Response to "Valentine Day, Adakah Dalam Islam ?"

Post a Comment