Terowongan Masjid Istiqlal-Gereja Katedral: For What?


Buat apa dibangun terowongan dengan istilah "TEROWONGAN SILATURAHMI"?

Apakah ini yang disebut toleransi? Apakah selama ini tanpa adanya terowongan ini lalu dikatakan umat Islam tidak toleran terhadap umat Nasrani atau sebaliknya?

Heran saya, mengapa dana yang besar itu tidak dipakai untuk membangun kesejahteraan rakyat di sekitar ibu kota Jakarta saja? Lihatlah keadaan sebagian masyarakat kita di Banten, Tangerang dan  Bekasi. Masih banyak rakyat kita yang berpotensi kelaparan, anak-anak stunting bukan?

Lebih baik kita pakai uang rakyat utk membangun kesejahteraan rakyat, kebutuhan yang langsung benar-benar bisa dinikmati orang miskin. Kalau dana Jakarta berlebih, tdk mungkinkah saling membantu provinsi di sekitarnya?

Sebagaimana diwartakan oleh TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Riset Setara Institute Halili mengatakan pembangunan terowongan Istiqlal-Katedral yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tidak mengurangi urgensi pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan.

“Terowongan secara simbolik barangkali kita tidak mungkin mengatakan tidak membutuhkan simbol perjumpaan antar satu agama. Tapi ada persoalan lebih serius,” kata Halili kepada Tempo, Jumat, 7 Februari 2020.

Presiden Jokowi sebelumnya telah menyetujui usulan pembuatan terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Dua tempat ibadah ini terletak berseberangan. Terowongan penghubung kedua tempat ini berada di bawah tanah. Jokowi menyebutnya dengan istilah terowongan silahturahmi. "Sudah saya setujui sekalian, sehingga ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi," kata Jokowi seusai meninjau proyek renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Februari 2020.

Benarkah terowongan itu akan menjadi jalan pintas toleransi beragama? Atau hanya akan menjadi mercusuar bawah tanah yang tidak berarti apa pun karena sejatinya toleransi itu tidak ada pada simbol fisik tetapi ada di hati. Kita sering terjebak pada aspek monumental namun mengabaikan aspek kejiwaan dan keadilan perlakuan dari negara terhadap sesama warga agama. Seringkali itulah yang membentuk toleransi tanpa hati dan sangat naif. Akhirnya yang muncul dipermukaan kehidupan beragama hanyalah pseudotoleransi yang amat rapuh.

Kita tengok sebentar tentang hakikat toleransi. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan. 

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain, seperti:

a. Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;
b. Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
c. Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya. ”

Bagaimana toleransi menurut pencipta alam semesta ini? Kita temukan dalam firman Alloh di Al Quran. Definisi Toleransi dalam Al Qur’an: “Toleransi sudah dipaparkan dalam Alquran secara komprehensif, di antaranya bagaimana Tuhan menjelaskan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6. 

Asbabun- nuzulnya adalah tentang awal permintaan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad bahwa untuk saling menghormati antar-agama, maka pemuka Quraisy meminta supaya nabi menginstruksikan kepada penganut muslim untuk bergiliran penyembahan terhadap dua Tuhan: hari ini menyembah Tuhan Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan kaum Quraisy.

Rasulullah saw. pun tegas tidak mau berkompromi dengan ‘toleransi’ semacam ini. Pada fase dakwah di Makkah, suatu ketika beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi saw. Mereka adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf. Mereka menawarkan ‘toleransi’ kepada beliau, “Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. 

Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Jika ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada sebagian ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” 
(Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 20/225). 

Dengan adanya keadilan dalam pelaksanaan ibadah dari kedua agama tersebut, maka menurut pemuka Quraisy akan terjadi toleransi antar-agama. Keputusan ini tentunya ditentang oleh Allah, dengan menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6. Ternyata dalam agama tidak boleh ada pencampuradukan keyakinan, lapangan toleransi hanya ada di wilayah muamalah. 
(Hal ini bisa dilihat dari rujukan kitab-kitab tafsir, di antaranya Tafisr Al-Maraghi, juz 30 tentang penafsiran surat Al-Kafirun.)

Jadi, bukan simbol-simbol fisik toleransi yang penting melainkan bagaimana upaya negara, pemerintah dan rakyat untuk tidak berlaku diskriminatif sikap dan perlakuan terhadap semua pemeluk agama di Indonesia ini.

Terowongan Silaturahmi itu tidak akan menjamin baiknya toleransi antara Muslim dan Nasrani. Dan menurut saya, hal itu tidak perlu karena jalinan kedua umat itu tidak tergantung pada ada dan tidak adanya terowongan itu dan masih banyak pembangunan lain yang lebih penting.

Oleh: Prof Suteki (Pakar Hukum dan Masyarakat)

0 Response to "Terowongan Masjid Istiqlal-Gereja Katedral: For What?"

Post a Comment