-->

Tawuran Pelajar, Bukti Kegagalan Sistem Dalam Mencetak Generasi


Oleh : Nurlela

Tawuran pelajar di kota Bogor kembali marak, berdasarkan data Polresta Bogor Kota setidaknya ada tiga aksi tawuran pelajar yang terjadi dalam sepekan. Dalam tiga peristiwa tersebut 1 pelajar dilaporkan meninggal dunia dan  sejumlah pelajar lain juga mengalami luka. Tiga peristiwa tawuran tersebut diantaranya, sabtu, 25 Januari 2020 dini hari aksi tawuran terjadi di Jalan RE Martadinata Kecamatan Bogor Tengah dan menewaskan seorang pelajar DA (17 tahun) dan melukai pelajar lainnya yakni JA (18 tahun). Jumat, 24 Januari 2020 juga terjadi tawuran di Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Bogor Utara dan seorang pelajar LAP (16 tahun) terluka akibat hunusan senjata tajam. Tawuran pelajar di kota Bogor juga sempat terjadi pada Rabu 22 Januari di 2020 di jalan Tumenggung wiradiredja Kecamatan Bogor Utara.
https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-01334503/tiga-tawuran-dalam-sepekan-di-kota-bogor-seorang-pelajar-tewas-seorang-lagi-putus-tangan
.
Sungguh ironi mengingat pemuda adalah sosok yang memiliki peran sangat penting bagi suatu bangsa. Pemuda adalah sosok pengganti yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan bangsa ini. Namun sayang kondisi sang penerus kepemimpinan sungguh memprihatinkan, masa muda yang seharusnya diisi dengan segudang prestasi dan inovasi yang bisa membangun diri dan bangsa ini tersia-siakan dengan berbagai aktivitas semu, tidak bermanfaat, merusak diri dan masa depan. Seragam yang dikenakan tidak mampu mengingatkan jati diri mereka sebagai seorang pelajar.
.
Persoalan kenakalan remaja khususnya tawuran bukanlah hal yang baru terjadi di negeri ini termasuk di kota Bogor. Aksi tawuran antar pelajar di kota Bogor di awal tahun ini menjadi catatan hitam di tengah upaya Bogor mengejar predikat sebagai kota ramah anak. Pemerintah Bogor sendiri berupaya mencari solusi untuk mengatasi tawuran pelajar yang kian marak dan telah menelan korban jiwa, seperti dilansir medcom.id untuk mencegah aksi tawuran pelajar, Pemkot Bogor akan memperketat pengawasan terhadap pelajar selama 24 jam, hal ini di karenakan pelajar memiliki pola yang berbeda tidak seperti pelajar pada umumnya yang melakukan tawuran di siang dan sore hari. Pemkot Bogorpun akan membentuk tim cyber untuk memantau media sosial pelajar karena media sosial kerap di jadikan media komunikasi tawuran.
.
Tidak hanya itu, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto dalam pertemuannya dengan seluruh kepala sekolah SMA/SMK sekota Bogor di Balaikota pada senin 27 januari 2020 menegaskan akan memberikan sanksi yang tegas kepada sekolah yang siswanya terlibat tawuran, seperti di hentikan bantuannya ataupun sanksi administrasi lainnya.
.
// Namun akankah upaya tersebut membuahkan hasil? //
.
Maraknya aksi tawuran antar pelajar yang terjadi di negeri ini khususnya kota Bogor bukanlah sepenuhnya kesalahan para pelajar. Maraknya aksi tawuran antar pelajar dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya :
Kurangnya peran keluarga khususnya orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dirumah dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak. Sistem kapitalisme yang di terapkan di negeri ini telah memaksa orangtua abai dalam pendidikan anak-anaknya. Beban hidup yang semakin berat menjadikan orangtua sibuk bekerja siang dan malam dan tidak memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya sesuai dengan aturan islam. Hal ini mengakibatkan banyak di antara remaja yang tidak memahami konsep halal dan haram, baik dan buruk sesuai pandangan sang pencipta sehingga remaja rentan terjerumus pada pergaulan rusak yang semakin liberal.
 .
Selain itu, sistem kapitalisme yang di terapkan di negeri ini khususnya dalam dunia pendidikan telah gagal mencetak generasi unggul. Kurikulum pendidikan yang sekuler menjadikan pendidikan agama hanya sebatas formalitas saja. Akibatnya generasi yang dilahirkan jauh dari gambaran manusia yang bertaqwa, menjadi pribadi yang kering jiwanya, keras mentalnya, bahkan jumud dari mencari solusi berbagai persoalan yang menimpanya.
.
Tidak hanya keluarga ataupun sekolah,masyarakat tempat di mana remaja menjalani aktivitas sosialnya mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan remaja. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja. Seandainya semua masyarakat memiliki pandangan yang sama betapa pentingnya menjaga suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda, maka semua orang akan sepakat menjaga perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif bagi pendidikan generasi dan mencegah hal-hal yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Namun sayang, kapitalisme telah menciptakan sikap individualis di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat abai terhadap aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar.  Sikap individualis masyarakat semakin membuat remaja terjerumus kepada pergaulan yang rusak.
.
Peran yang paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian remaja dan melindungi remaja dari kerusakan adalah penguasa. Hal ini dikarenakan penguasa memiliki wewenang untuk menerapkan berbagai kebijakan baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun pendidikan, tidak hanya itu penguasa memiliki wewenang mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi terutama dari media, baik media cetak ataupun elektronik dengan menutup situs-situs yang berisi konten yang memberi pengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak. 

Namun sayang penguasa abai terhadap pembentukan moralitas remaja. Persoalan pembentukan moral remaja hanya dipandang sebatas urusan personal yang menjadi tanggung jawab keluarga. Yang pada akhirnya negara lebih banyak melakukan tindakan kuratif yang tidak menyentuh pada akar permasalahan, di bandingkan tidakan preventif. Alhasil aksi tawuran antar pelajar terus berulang setiap tahunnya bahkan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Sungguh jika penguasa abai dalam perhatian dan perlindungannya pada generasi muda, bisa dipastikan negeri ini akan kehilangan generasi penerus yang berkualitas. Padahal seharusnya negaralah yang menjadi benteng utama dalam melindungi generasi dari berbagai kerusakan pemikiran dan tingkah laku. Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

"Sesungguhnya al imam (khalifah) itu perisai dimana (orang - orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya".
(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Sesungguhnya muara segala permasalahan yang dihadapi negeri ini termasuk kenakalan remaja adalah buah dari diterapkannya aturan kapitalisme sekuler. Pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) yang menjadi dasar di terapkannya aturan ini (kapitalisme) telah melarang agama (islam) mengatur masalah kehidupan. Sudah saatnya penguasa di negeri ini menerapkan aturan islam. Karena hanya dengan menerapkan islam secara kaffah dalam bingkai khilafah segala permasalahan yang dihadapi di negeri ini bisa diselesaikan secara sempurna.
Wallahu'alam

Sumber: @WadahAspirasiMuslimah

0 Response to "Tawuran Pelajar, Bukti Kegagalan Sistem Dalam Mencetak Generasi"

Post a Comment