-->

SULITNYA MENDIDIK PELAJAR DALAM KUBANGAN BUDAYA LIBERAL


Oleh: Nadia Husna Chasnan | Guru SMK Surabaya

Setiap 14 Februari setiap tahunnya, sebagian pria dan wanita di seluruh dunia merayakan apa yang disebut sebagai hari kasih sayang, atau Valentine’s Day, tak terkecuali di Indonesia. Perayaannya kerap diwarnai dengan tradisi memberi cokelat, kartu ucapan, pergi makan malam romantis, dan sebagainya.

Namun belakangan, dengan semakin tingginya kesadaran beragama warga Indonesia yang mayoritas Muslim, banyak pihak mengecam perayaan Valentine’s Day karena dianggap tak sesuai syariat Islam dan budaya Indonesia. Beberapa daerah pun menyarankan warganya agar tak merayakan Valentine’s Day dengan edaran resmi pemerintah daerah. (Mata-mata Politik, 14 Februari 2019)

Tentu hal itu menjadi kabar baik, karena perayaan "Hari Kasih Sayang" sejatinya hanyalah salah satu sarana  kampanye seks bebas, khususnya di kalangan generasi muda.  Bagaimana tidak,  saat Satpol PP memajang hasil razia menjelang Hari Valentine di Surabaya, 2015 lalu, ditemukan kondom. Razia kondom juga dilakukan Wali Kota Makassar, M Ramdhan Pomanto, satu hari sebelum Valentine, tahun 2017 (News Indonesia, 14 Februari 2017)

Praktik seks bebas sebetulnya sudah lama berlangsung dan dilakukan secara luas. Hal itu bisa dilihat dari beberapa data hasil penelitian. Laporan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2014) 45% pengidap HIV merupakan kaum muda dan 1.295 jiwa di dalamnya anak sekolah dari jumlah keseluruhan pengidap HIV+ sekitar 22.862 jiwa pada seluruh tingkat usia (Ditjen PP & PL Kemenkes, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh program LOLIPOP (Linkage of Quality Care for Young Key Population) mengenai seks bebas terhadap remaja kota Bandung mendapatkan hasil bahwa 91% remaja yang berusia 15-19 tahun sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah (Tempo, 2015).

Jika kita amati perilaku seks bebas yang marak itu dipengaruhi oleh budaya liberal. Muncul dan menyebarnya budaya liberal di Tanah Air bukanlah proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi budaya yang dijalankan secara sistematis dan terorganisir. Liberalisasi budaya merupakan rekayasa Barat.

Budaya liberal atau budaya bebas itu bukanlah berasal dari ajaran Islam yang dianut mayoritas penduduk negeri ini. Budaya itu merupakan budaya Barat yang mengusung nilai-nilai liberal yang dimasukkan (baca: dipaksakan) ke tengah-tengah masyarakat negeri ini. Jadi berkembangnya budaya liberal di Tanah Air itu tidak lepas dari konspirasi Barat.

Secara faktual konspirasi liberalisasi budaya itu bisa dirasakan. Konspirasi itu setidaknya dijalankan melalui  penanaman paham sekularisme, liberalisme dan hedonisme. Sejatinya budaya bebas itu berpangkal dari ketiga paham tersebut. Sekularisme menuntun manusia untuk menempatkan agama hanya pada ranah individu dan wilayah spiritual saja. Sekularisme itu 'mengharamkan' agama ikut andil dalam mengatur kehidupan. Sekularisme mengajarkan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya tanpa campur tangan Tuhan.

Inilah inti dari paham liberalisme, yakni paham yang menanamkan keyakinan bahwa manusia bebas mengelola hidupnya. Paham liberalisme ini mengagungkan kebebasan individu, baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama maupun dalam kepemilikan.

Adapun paham hedonisme mengajarkan manusia untuk mengejar kenikmatan materi  serta melakukan apa saja yang bisa mendatangkan kenikmatan itu, termasuk kesenangan yang lahir dari hubungan seks. Paham ini tercermin dalam slogan fun (kesenangan), food (makanan/pesta) dan fashion (busana).

Dengan paham ini manusia didorong untuk mengejar kenikmatan dengan jalan bersenang-senang, termasuk di dalamnya bersenang-senang dengan melakukan seks bebas, berpesta demi mendapatkan kenikmatan dari lezatnya makanan dan bisa merasa senang dengan jalan selalu tampil gaya dan modis. Paham hedonisme itu mengajarkan, agar manusia bisa mendapatkan kenikmatan itu, manusia harus dibebaskan untuk meraih dan mengeskpresikannya serta tidak boleh dikekang.

Adapun paham hedonisme ditanamkan melalui media massa cetak, radio, dan televisi melalui program-program yang lebih bernuansa pesta, musik, fesyen dan hiburan. Dalam semua itu terlihat secara kasatmata bahwa banyak sekali program yang merupakan kopian dari program-program yang sama di Barat. Paham sekulerisme, liberalisme, dan hedonisme di atas yang diadopsi penduduk Indonesia termasuk remaja, pelajar SMA dan SMK.

Menjadi guru di era milenial yang dipenuhi dengan budaya liberal ini memang berat. Para siswa sulit diarahkan. Menurut M Faturohman, generasi millenial mempunyai tujuh sifat dan perilaku sebagai berikut: millenial lebih percaya informasi interaktif daripada informasi searah, millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, millenial wajib punya media social, millenial kurang suka membaca secara konvensional, millenial lebih tahu teknologi dibanding orang tua mereka, millenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif, serta millenial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless. (radarsemarang,com, 18/02/2018)

Pola pikir generasi millenial juga berpengaruh  pada dunia pendidikan. Kecenderungan minat belajar yang serius mulai menurun drastis, karena remaja millenial khususnya di Indonesia sudah kecanduan internet. Keberadan internet  disalahgunakan. Internet bukan semata untuk mencari informasi berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tapi lebih banyak dipakai untuk main game serta mengakses info apapun yang dtidak begitu diperlukan pelajar. Hampir setiap siswa mempunyai HP dan sulit lepas dari HP ketika pelajaran. Generasi millenial cenderung beperilaku pragmatis dan instan. Jika mendapatkan tugas siswa cenderung copas, malas untuk berpikir. 

Gaya hidup hura-hura dan hedonis sangat terlihat di kalangan pelajar. Yang lebih parah, akibat budaya liberal siswa sulit diarahkan dengan dalih kebebasan berperilaku. Atas nama Hak Asasi Manusia mereka enjoy berperilaku amoral. Pacaran yang mengarah pada seks bebas merupakan hal yang biasa. Diarahkan menjadi pelajar yang taat perintah agama pun juga sangat sulit.

Contoh sederhana adalah masalah shalat. Banyak sekali siswa yang tidak shalat lima waktu, terutama waktu subuh, jarang siswa bisa bangun pagi untuk shalat subuh. Alasan yang mereka kemukakan antara lain karena tidur kemalaman akibat begadang di warkop, main game online, atau akibat jalan-jalan dengan pacar. Apalagi jika berkaitan dengan ketaatan beragama dalam masalah-masalah yang lain. Mereka tidak marasa bersalah jika melanggar perintah agama karena memang mereka tidak paham dan tidak berusaha untuk paham.

Begitulah kondisi murid-murid kita, akibat maraknya budaya liberal mereka sulit diarahkan menjadi pelajar yang beriman dan kompeten dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Membuang budaya liberal adalah jalan yang harus ditempuh untuk mengembalikan pelajar ke jalan yang benar, pelajar yang giat belajar dan giat beribadah. Komponen kurikulum juga sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Untuk itu budaya liberal yang merupakan turunan dari sekulerisme dan liberalisme tidak boleh masuk dalam kurikulum pendidikan. Gaya hidup hedonis juga harus dijauhkan dari kurikulum kita. Target tertinggi kurikulum harus diarahkan untuk membentuk genarasi yang beriman, berkepribadian Islam, menguasai sains dan teknologi, serta menguasai ilmu kehidupan yang mereka butuhkan dalam kehidupan. Di samping aspek kurikulum aspek kehidupan yang lain pun juga harus dijauhkan dari budaya liberal.  Wallahu a’lamu bish showab

Telegram : t.me/GuruMuslimahInspiratif

0 Response to "SULITNYA MENDIDIK PELAJAR DALAM KUBANGAN BUDAYA LIBERAL"

Post a Comment