-->

MARAK KASUS BULLYING, BAGAIMANA NASIB GENERASI ?


Oleh : Siti Rima Sarinah 

Maraknya kasus bullying saat ini sedang menjadi trend dan  lifestyle baru dikalangan remaja, yang membuat resah baik bagi orang tua dan sekolah. Berbagai upaya dilakukan oleh pemangku kebijakan dibidang pendidikan  untuk mencegah agar budaya bulliying lenyap dari kehidupan remaja, Upaya pencegahan ini dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Jumeri, untuk mengusut kasus bullying siswi SMP di Purworejo, dan meminta setiap sekolah untuk dipasang camera pengawas atau CCTV. Serta Orang tua dan sekolah bekerjasama melakukan pendampingan kepada korban untuk membantu  mengobati masa trauma akibat yang dialami (merdeka.com 13/02/20202).

Langkah yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, hanyalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menghilangkan budaya bullying, dan masih banyak upaya-upaya lain yang dilakukan didaerah-daerah untuk mengatasi hal ini. Jokowi pun pernah menerbitkan Perpres untuk mengatasi bullying. Namun sayangnya upaya-upaya yang dilakukan pemerintah belum membuahkan hasil, malah justru sebalik kasus bullying menjadi semakin parah.

Untuk itu kita perlu mengetahui apa yang menyebabkan bullying marak dilakukan oleh remaja. Bullying diartikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk menyakiti baik dalam bentuk verbal, psikologis maupun emosional serta juga dalam bentuk fisik. Dan penyebab seseorang melakukan bullying pun beragam, mulai dari lingkungan, pergaulan dan keluarga. Artinya kebanyakan pelaku bullying berasal dari keluarga yang disfungsional, sehingga pelaku mencari eksistensi diri dan perhatian orang lain dengan melakukan bullying.

Selain itu penyebab marak bullying yang lainnya adalah kemajuan teknologi yang bebas nilai  dengan  menjamurnya warung internet (warnet) yang menyajikan konten-konten kekerasan seperti game, yang sangat di mudah diakses oleh remaja. Dan perkembangan teknologi yang kelebihan batas berakibat buruk, sehingga dengan mudahnya seseorang membunuh teman sebayanya karena hal-hal sepele misalnya tidak diberi pinjaman uang. 

Masalah bullying tidak akan pernah tuntas, karena upaya yang dilakukan tidak menyentuh kepada akar permasalahan yang sesungguhnya. Solusi tambal sulam yang dilakukan oleh pemerintah bukan malah menghentikan justru sebaliknya. Karena seperti biasa, negeri ini selalu mengambil solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan, merujuk kepada sistem kehidupan kapitalis sekuler. Yang menjadi tujuan dari setiap amalnmya adalah keuntungan bersifat materi. 

Bagaimana mungkin para generasi tidak mudah untuk terkontaminasi dengan berbagai perilaku yang mengandung kekerasan, karena gempuran teknologi tanpa batas menjadi dampak buruknya. Hal ini diungkapkan UNICEF bahwa 50% remaja Indonesia pernah melakukan pembullyan melalui media sosial (cyber bullying). Di tambah sistem pendidikan yang ada hanya mampu mencetak generasi “pintar” diatas kertas, tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah pribadinya kecuali dengan kekerasan. Hal ini menunjukkan bahwa bullying adalah masalah sistemik yang membutuhkan solusi secara sistemik pula.

Solusi sistemik untuk menghentikan bullying adalah sistem Islam dengan penerapan sistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul. Karena tujuan dari sistem pendidikan dalam Islam adalah pembentukan kepribadian Islam  yang  terintegrasi dimulai dari awal jenjang pendidikan. Generasi unggulan ini bukan hanya bisa berprestasi secara akademik tetapi mampu juga mampu menyelesaikan permaslahan hidupnya sesuai aturan Allah swt.

Bukan hanya itu, peran orang tua juga sangat diperlukan dalam hal ini. Karena dalam Islam rumah dan keluarga menjadi tempat pendidikan pertama dan utama, sehingga peran orang tua menjadi syarat utama dalam pembentukan kepribadian generasi Islam.

Dan yang lebih penting lagi adalah peran negara yang berkewajiban mengurusan semua urusan rakyatnya termasuk melindungi generasi dari hal-hal yang merusak yang mengakibatnya melakukan bullying. Dengan mengontrol berbagai informasi yang masuk melalui media, dan memberi sanksi tegas kepada siapa saja yang dengan saja mengedarkan baik video maupun informasi yang berbau kekerasan.

Demikianlah mekanisme yang diberikan oleh Islam sebagai solusi sistemik untuk menghentikan budaya bullying. Karena budaya bullying tidak akan hilang selama sistem kapitalis sekuler kapitalis masih bercokol dinegeri ini dmenjadi pijakan dari berbagai kebijakan peerintah. Sudah saatnya ganti sistem yaitu sistem Islam dalam naungan Khilafah dan campakkan sistem lama yang hanya bisa membawa generasi pada kerusakan dan kehancuran

0 Response to "MARAK KASUS BULLYING, BAGAIMANA NASIB GENERASI ? "

Post a Comment