-->

Hukum – Hukum Berkaitan dengan ‘Aurat


Penulis : Ustadz M Taufik NT

Musibah besar yg menimpa umat Islam dewasa ini adalah banyaknya ketidakpedulian lagi dengan perintah dan larangan Allahﷻ. Salah satu musibah ini adalah berkaitan dengan masalah berpakaian. Rasulullah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“…Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tak pernah menduga. Yakni sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia. Dan wanita yang berpakaian namun telanjang (berpakaian tipis/transparan/ketat), berlenggang lenggok dan berlagak, kepalanya (dihias) seperti punuk onta. Mereka tidak dapat masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal bau surga dapat tercium dari jarak perjalanan demikian dan demikian (relatif jauh)” (HR. Muslim no. 3971 dan no. 5098 dari Abu Hurairah ra)

Berkaitan dengan aurat, terdapat beberapa rincian hukum dalam berbagai kondisi yang disebutkan oleh para ahli Fiqh yakni :

1. Aurat Wanita Terhadap Lelaki Asing (Bukan Mahram & Bukan Suami)

Mayoritas Ahli Fiqh menyatakan bahwa berkaitan dengan lelaki asing, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan dua telapak tangan.

Allahﷻ menyatakan dalam surat an Nûr : 31

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

.. dan janganlah mereka (wanita yg beriman) menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya.

Maksud yang biasa nampak darinya (مَا ظَهَرَ مِنْهَا) bukan berarti yang biasa nampak seperti sekarang ini — yakni nampak betis, leher, dst (tdk usah dibayangkan ya), atau tergantung daerah, kalau di Jawa dada diatas ‘buah pikiran’ masih biasa nampak, di AS bahkan lebih lagi– namun maksudnya apa yang biasa nampak di kalangan wanita muslimah pada masa turunnya ayat ini, yakni wajah dan telapak tangan (ini pemahaman mayoritas, dan pendapat yang saya pilih). Sedangkan menurut riwayat yang lain, yang biasa nampak maksudnya adalah baju (الثياب) dalam riwayat lain celak dan cincin juga gelang[1], dan ini tidak bertentangan dengan pendapat bahwa yang biasa nampak adalah muka & telapak tangan.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan ‘sesuatu yang biasa nampak’ adalah muka dan kedua telapak tangan, ini juga pendapat Ibnu ‘Umar, ‘Atha’, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Sya’tsa, Adl Dhahhak, Ibrahim An Nakha’i dll[2].

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyatakan, pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah muka dan dua telapak tangan.

Rasulullah menegaskan hal ini dalam sebuah hadits:

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ رضي الله تعالى عنهما , دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا , وَقَالَ : يَا أَسْمَاءُ إنَّ الْمَرْأَةَ إذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إلاَ هَذَا وَهَذَا , وَأَشَارَ إلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

“Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar masuk ke rumah Nabi ﷺ dengan menggunakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berpaling daripadanya dan berkata : ‘Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita telah menginjak dewasa (haid), maka tak boleh terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil beliau menunjuk muka dan telapak tangannya”. (HR. Abu Dawud, Hadits Hasan Lighairihi[3], mempunyai saksi yang dikeluarkan oleh Al Baihaqi dari jalan Ibnu Lahi’ah dari ‘Iyadl bin Abdillah[4])
.
Adapun tampaknya separo tangan dibolehkan menurut riwayat Qatadah sbb[5]

قال قَتادة: وبلغني أن النبيّ صلى الله عليه وسلم قال: "لا يحِلُّ لامْرأةٍ تُؤْمِنُ بالله واليَوْمِ الآخِرِ، أنْ تخْرجَ يَدَها إلا إلى هاهنا". وقبض نصف الذراع.

Qatadah berkata: telah sampai kepadaku bahwa Nabi SAW berkata: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengeluarkan tangannya (dari bajunya) kecuali sampai sini” dan beliau ﷺ  menggenggam setengah hasta.

Ada riwayat bahwa Abu Hanifah membolehkan menampakkan dua telapak kaki, sebaliknya Ibnu ‘Abidin menyatakan bahwa punggung tangan termasuk aurat[6].

Riwayat dari Abu Yusuf bolehnya menampakkan kedua siku[7].

Madzhab Imam Ahmad: segala sesuatu dari wanita berkaitan dengan lelaki asing adalah aurat termasuk kukunya. Al Qadli yg bermadzhab Hanbali mengatakan: diharamkan lelaki asing memandang wanita asing selain wajah dan telapak tangan, boleh (makruh) memandang dua anggota ini (wajah dan telapak tangan) jika aman dari fitnah. Yang dijadikan dasar adalah hadits:

يا علي لا تتبع النظرة النظرة فإن لك الأولى وليست لك الآخرة

Wahai Ali, jangan engkau ikuti pandangan dengan pandangan berikutnya, karena bagi engkau adalah pandangan yg pertama, dan bukan hak engkau pandangan berikutnya. (HR. At Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan gharib, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, Al Baihaqi dan Al Hakim).

أَنَّ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما كَانَ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْحَجِّ فَجَاءَتْهُ الْخَثْعَمِيَّةُ تَسْتَفْتِيهِ , فَأَخَذَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إلَيْهَا وَتَنْظُرُ هِيَ إلَيْهِ , فَصَرَفَ عليه الصلاة والسلام وَجْهَ الْفَضْلِ عَنْهَا

Suatu ketika, al-Fadhl ibn ‘Abbâs membonceng Nabi ﷺ pada saat haji, lalu datang seorang wanita dari Khats‘am. Al-Fadhl lantas memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya. Maka Rasulullah memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain. (HR. al-Bukhârî dari Ibn Abbas)

Hadits ini tidak melarang untuk menampakkan muka, justru menjadi dalil bahwa muka bukanlah aurat (karena Rasul tidak memerintahkan wanita tersebut untuk menutup mukanya). Namun walaupun bukan aurat, memandang muka dengan syahwat termasuk diharamkan sebagaimana sabda Rasul yg diriwayatkan oleh ‘Alî ibn Abî Thâlib RA yg menambahkan:

Al-‘Abbâs RA kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan leher sepupumu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan setan.”

Sedangkan berkaitan dengan apa harus menutup auratnya, As Syarbiniy Al Khatib menyatakan: Syarat penutup aurat adalah menghalangi terlihatnya warna kulit, bukan besar kecilnya tubuh (hajm), sehingga tidak cukup dengan pakaian tipis.

Suara wanita bukanlah aurat menurut ulama madzhab Syafi’i, jika aman dari fitnah.

Bersambung
Sumber : grup tele WadahAspirasiMuslimah

0 Response to "Hukum – Hukum Berkaitan dengan ‘Aurat"

Post a Comment